HomeOpiniHijrah dalam Berkomunikasi Menuju...

Hijrah dalam Berkomunikasi Menuju Harmoni

Oleh: Faizin,
Dosen Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang; Direktur Riset A Malik Fadjar Institut

Semakin banyak peristiwa tutur memperhatikan kesantunan, maka akan meningkatkan harmoni sosial masyarakat.

Pascapemilu pada 14 Februari 2024, kita seakan terjebak dalam fenomena disintegrasi sosial. Kita terseret dalam rutinitas demokrasi dalam bingkai perbedaan dukungan calon presiden dan calon wakil presiden hingga menjadi pemarka sosial. Lantas, kapan sebenarnya kedewasaan pesta demokrasi kita akan terbentuk?

Kita seolah gemar dengan diksi propaganda antarpendukung yang tidak jarang mengakibatkan retaknya harmoni sosial antarmasyarakat. Padahal, diksi maupun tuturan seharusnya dapat kita jadikan sebagai perekat harmonisasi sosial masyarakat. Sebagai contoh sederhana fenomena cuitan di media sosial Tiktok terkait perburuan takjil warga Muslim dan non-Muslim sukses mengikis propaganda serta meleburkan berbagai identitas sosial dalam baur kemajemukan yang harmonis.

Baca juga Ramadhan, Konstitusionalisasi Agama, dan Bernegara Otentik

Dijadikannya bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dalam UUD 1945 memiliki implikatur dan falsafah bahwa seluruh masyarakat Indonesia harus meleburkan seluruh identitas pribadi maupun kelompok dalam dinamika kesatuan dan kemajemukan bangsa. Sayangnya, hal ini belum terdistribusi dalam perilaku dan sikap kebahasaan sehingga perlu upaya dan kesadaran kolektif para penutur bahasa terhadap fungsi dan kedudukan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Fenomena sosial kebahasaan

Ilmu bahasa sering kali dianggap parsial dalam dinamika sosial, padahal bahasa memiliki peranan sentral dalam aspek sosial kemasyarakatan. Bahasa hanya dikenal sebagai alat komunikasi semata. Padahal, bahasa memiliki hubungan erat terhadap perwujudan perilaku masyarakat. Hal ini tergambar dalam proses penggunaan bahasa sebagai alat interaksi antaranggota masyarakat sehingga menjadikan suatu sistem dan memiliki aturan-aturan yang saling berkaitan.

Maka, diperlukan pengetahuan yang baik mengenai kaidah-kaidah yang mengatur perilaku penggunaan bahasa dalam berkomunikasi. Dalam hal ini pihak yang dimaksud ialah penutur dan mitra tutur.

Baca juga Investasi pada Guru untuk Pendidikan Berkualitas

Pemahaman serta penggunaan kaidah kebahasaan dilakukan melalui keruntutan tuturan, pemilihan diksi yang tepat, gestur, dan intonasi agar terjalin kesepahaman maksud dalam komunikasi. Dengan demikian, upaya tersebut akan menjadikan penutur bahasa memiliki kepekaan terhadap perilaku berbahasa yang santun.

Bersikap sopan dan santun adalah salah satu budaya di Indonesia yang patut diterapkan pada setiap proses komunikasi dengan orang lain, baik dalam aspek tuturan maupun tulisan. Tuturan mampu mencerminkan perilaku dan budi pekerti manakala dipergunakan dengan baik serta mematuhi berbagai prinsip kesantunan. Akan tetapi, hal sebaliknya, apabila kita menggunakan tuturan yang serampangan akan menjadikan polemik dalam tatanan sosial.

Baca juga Tragedi Gaza dan Masa Depan Geopolitik Global

Hal ini pula yang tertuang dalam amanat konstitusi kita pada UU Nomor 24 Tahun 2009 pada Pasal 25 bagian 2 yang menegaskan bahwa bahasa Indonesia selain menjadi jati diri dan identitas bangsa, bahasa ini dijadikan sebagai sarana pemersatu berbagai suku bangsa. Dengan demikian, uraian atas penggunaan bahasa yang baik dalam proses komunikasi antarmasyarakat telah ditetapkan untuk perwujudan harmoni sosial kemasyarakatan.

Perilaku tutur

Identitas sosial masyarakat Indonesia sebagai bangsa yang menjunjung tinggi norma-norma kebudayaan perlu dianut dan diterapkan agar saat berkomunikasi tidak sekadar menyampaikan pesan atau mengungkapkan gagasan, tetapi juga mengandung unsur kesantunan. Pengungkapan unsur kesantunan ini merujuk terhadap peristiwa berbahasa pada penciptaan situasi yang baik dan menguntungkan bagi mitra tutur.

Penggunaan bahasa yang santun terkait dengan dua hal, yaitu pilihan kata dan gaya bahasa. Kemampuan seseorang memilih kata dapat menjadi salah satu penentu santun tidaknya bahasa yang digunakan. Pilihan kata yang dimaksud adalah ketepatan pemakaian kata untuk mengungkapkan makna dalam konteks tertentu sehingga menimbulkan efek yang baik.

Baca juga Membumikan Perjanjian Al-Mizan

Pengungkapan perilaku kebahasaan dapat diwujudkan dengan (a) memperhatikan situasi, (b) memperhatikan lawan tutur, (c) memperhatikan cara menyampaikan pesan, (d) memperhatikan norma yang berlaku di masyarakat, (e) memperhatikan ragam bahasa yang akan digunakan, dan (f) menjaga martabat ataupun perasaan mitra tutur.

Dengan demikian, peristiwa tuturan ini akan menjadikan perilaku bahasa yang akan berdampak terhadap keharmonisan masyarakat. Semakin tinggi penerapan perilaku bahasa tersebut, maka semakin tinggi pula harmoni masyarakat akan terjalin.

Baca juga Mengurai Rantai Kekerasan di Pesantren

Perilaku bahasa yang santun menjadi urgensi di Indonesia sebab Indonesia memiliki berbagai latar budaya dan bahasa daerah yang menjadikan rentan terjadi kesalahpahaman proses bertutur dan rentan mengakibatkan konflik. Belum lagi kesengajaan tuturan propaganda yang memang dicipta untuk merongrong kemajemukan dan keharmonisan bangsa Indonesia.

Pembentukan karakter

Proses pembelajaran bahasa Indonesia yang dimulai di sekolah dasar hingga universitas belum memberikan efek besar dalam penggunaan bahasa yang baik dan benar dalam komunikasi masyarakat. Hal ini terbukti pada laman sdip.dpr.go.id yang merilis bahwa tahun 2023 saja pemerintah telah menemukan hampir tiga juta konten negatif di media sosial yang di antaranya konten ujaran kebencian.

Jelas ini menjadi garapan serius di tengah hiruk-pikuk perkembangan bangsa. Banyak dari kita hanya terobsesi untuk melatih anak/peserta didik memenuhi puncak kecerdasan matematika semata (logic-mathematical intelligence), padahal dalam proses interaksi sosial kemasyarakatan seharusnya kita lebih mengutamakan kecerdasan bahasa (linguistic intelligence) dalam rangka penerapan komunikasi antarmasyarakat.

Baca juga Puasa, Kedewasaan, dan Korupsi

Semakin banyak peristiwa tutur yang memperhatikan kesantunan, maka akan menimbulkan budaya bertutur baru di masyarakat. Dengan demikian, setiap penutur bahasa dalam segala jenjang usia dan stratifikasi sosial masyarakat akan menumbuhkan kesadaran terhadap norma bahasa (awareness of the norm) dalam seluruh kegiatan penggunaan bahasa (language use).

Semoga dengan upaya tersebut menjadikan perilaku berbahasa baru di masyarakat untuk menjadikan perubahan sosial kebahasaan hingga pada puncaknya menjadikan semakin meningkatnya harmoni sosial masyarakat menuju Indonesia bermartabat.

*Artikel ini terbit di kompas.id, Sabtu 30 Maret 2024

Baca juga Putus Sekolah dan Pembangunan Berkelanjutan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta,...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs,...

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah...

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Anggota Dewan Pendidikan Nasional SEKOLAH seharusnya menjadi ruang paling aman setelah keluarga. Dalam rumah, anak tertanam kesadaran, peroleh pengetahuan dan pengalaman langsung untuk membangun persaudaraan, empati, persahabatan, kepercayaan diri, dan belajar menghargai sesama. Namun, kenyataan nya, sangat...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia sangat ekstrem dan berbahaya. Bahkan, saking ekstrem dan bahayanya, mereka mengkafirkan dirinya sendiri. Demikian dinyatakan Iskandar alias Alexander Rumatery, mantan amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), dalam Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs, Nanyang Technological University, Singapura Pada 27 Juni 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik di Surakarta. Penculiknya sesama Republiken, sekelompok perwira dan politisi yang yakin perundingan dengan Belanda sama artinya dengan menjual kemerdekaan yang baru berumur sepuluh bulan....

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah dan dendam terhadap pelaku terorisme. Akibat bom yang meledak di depan tempat kerjanya Kedutaan Besar Australia, ia mengalami luka-luka dan kehilangan beberapa rekan kerjanya. Hingga sekarang ia masih melakukan perawatan medis dan minum obat secara rutin. “Setelah...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...