HomeOpiniPuasa dan Kemenangan Bangsa

Puasa dan Kemenangan Bangsa

Oleh: Hasibullah Satrawi

Direktur Aliansi Indonesia Damai (AIDA); Alumnus Al-Azhar, Kairo, Mesir

Puasa merupakan ibadah dalam bentuk sikap menahan diri sepanjang hari, dari waktu subuh di pagi hari hingga waktu maghrib di sore hari. Sikap menahan diri ini dimaksudkan tidak hanya dari perkara-perkara yang diharamkan, tetapi juga dari sebagian perkara yang dihalalkan bagi orang yang tidak berpuasa, seperti makan-minum dan hubungan orang dewasa bagi mereka yang sudah menikah.

Sebagai ibadah, puasa tidak hanya penuh dengan ketentuan yang bersifat ritual peribadatan, tetapi juga penuh dengan dimensi spiritual dan sosial kemasyarakatan.

Baca juga Puasa; Kedamaian Diri untuk Perdamaian Bumi

Sebagai contoh, dalam sebuah hadis ditegaskan bahwa orang yang berpuasa dilarang membalas celaan yang dialami dengan celaan yang sama. Justru orang berpuasa dianjurkan merespons celaan dengan menegaskan bahwa dirinya sedang berpuasa: inni shaimun (sungguh aku sedang berpuasa). Masih banyak tuntunan lain terkait puasa yang menunjukkan keselarasan antara dimensi ritual dan dimensi sosial, antara kesalehan individual dan kesalehan komunal.

Konteks kebangsaan

Ibadah puasa sejatinya penting dijalankan dengan semangat kontekstual, termasuk dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Saat ini Indonesia sedang berada pada masa adaptasi kolektif setelah pelaksanaan pemilihan presiden (pilpres) dan anggota legislatif yang kemudian disusul dengan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) secara serentak.

Di satu sisi, hal ini menjadi pencapaian demokrasi yang mungkin belum banyak padanannya di negara lain, termasuk di tingkat global sekalipun. Namun, di sisi yang lain, kondisi ini menyiratkan kerawanan yang cukup tinggi. Terlebih lagi riak-riak konflik akibat perebutan kekuasaan pilpres dan pilkada belum sepenuhnya pulih.

Baca juga Puasa, Kedewasaan, dan Korupsi

Di sinilah pentingnya semua pihak menimba semangat menahan diri dari ibadah puasa, baik dari pihak yang kalah maupun dari pihak yang menang. Bagi pihak yang kalah, apa pun persoalan yang ada sekarang, jangan selalu dikaitkan dengan persoalan yang sempat terjadi pada masa-masa pemilu. Masa pemilu telah selesai, termasuk persoalan sengketa hukum terkait pemilu.

Sementara bagi pihak yang menang, segala kebijakan yang ada harus diambil berdasarkan semangat kepentingan bersama dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Para pemenang juga harus terus mengupayakan rekonsiliasi dan persatuan antarsegenap kekuatan politik yang ada.

Sesuai dengan semangat penghematan yang dicanangkan pemerintah, semua pihak sejatinya harus menahan diri dari kegiatan-kegiatan yang tidak terlalu penting agar dapat mengedepankan kepentingan-kepentingan prioritas. Menahan diri agar bangsa ini bisa mencapai ”hari kemenangan” yang dicanangkan, seperti swasembada pangan, swasembada energi, dan yang lainnya.

Baca juga Beragama Maslahat

Hal yang tak kalah penting adalah semua pihak sejatinya menahan watak rakus dan tamak. Inilah watak yang membuat seseorang tak pernah merasa cukup dengan seluruh harta benda dan kekayaan yang telah dimiliki.

Walaupun secara faktual seseorang telah menjadi kaya raya, watak rakus dan tamak akan membuat yang bersangkutan merasa seakan tetap miskin, bahkan mungkin merasa lebih miskin dari kaum masakin (orang-orang miskin) yang saban hari lalu lalang di dekat kantor, rumah, dan mobilnya hanya untuk mendapatkan sumbangan.

Meminjam kandungan syair klasik berbahasa Arab yang sangat terkenal di dunia pesantren, watak rakus dan tamak acap mengubah seorang merdeka menjadi laksana seorang budak.

Sebaliknya, orang yang selamat dari watak rakus dan tamak (dalam bahasa Arab disebut dengan istilah qana’ atau qana’ah yang berarti sikap menerima apa adanya), akan menjadi laksana manusia merdeka, walaupun ia seorang budak (alhurru kal ‘abdi in thama’, wal ‘abdu kal hurri in qana’).

Baca juga Keadilan untuk Semua

Inilah mungkin yang bisa menjelaskan kenapa di Indonesia ketimpangan begitu tinggi antara mereka yang kaya dan mereka yang miskin. Mereka yang kaya terus mengeksploitasi potensi-potensi kekayaan yang ada, walaupun mereka sadar kekayaan yang dimiliki sudah lebih untuk mencukupi kebutuhan anak cucu sampai beberapa generasi ke depan. Sebaliknya, orang-orang yang miskin semakin lemah dan terpinggirkan dari potensi-potensi ekonomi yang ada.

Sejatinya, negara bisa mengambil peran seperti yang dicontohkan oleh sahabat Abu Bakar setelah diangkat menjadi pemimpin umat Islam menggantikan Nabi Muhamad SAW.

Dalam pidato pertamanya sebagai pemimpin umat Islam yang sangat terkenal, Abu Bakar menegaskan, ”Orang lemah di antara kalian adalah kuat di mataku sampai aku penuhi hak-hak mereka. Sementara orang kuat di antara kalian adalah lemah di mataku sampai ia membayar kewajibannya kepadaku,” (Jamal Al-Banna, Al-Islam Dinun wa Ummah, 2003: hlm 53).

Baca juga Ramadhan, Konstitusionalisasi Agama, dan Bernegara Otentik

Inilah peran manajerial dari negara atau pemerintah yang sejatinya bisa mendistribusikan potensi kekayaan yang ada. Hingga bisa terjadi pemerataan kekayaan dan kemakmuran. Yang terjadi di Indonesia sejauh ini masih jauh dari harapan.

Di satu sisi, orang-orang kaya dan kuat berusaha menjadi bagian dari pemerintahan untuk mendapatkan akses ekonomi sekaligus mengamankan kekayaan yang dimiliki. Sementara di sisi lain, sebagian orang yang awalnya miskin dan lemah menunggu kesempatan untuk mencapai akses ekonomi, bukan untuk melakukan pemerataan ekonomi sebagaimana seharusnya, melainkan untuk menjadi orang-orang kaya baru dengan watak tamak dan rakus yang kurang lebih sama.

Di sinilah pentingnya semua pihak menggunakan semangat puasa untuk menahan watak tamak dan rakusnya. Karena pada akhirnya yang benar-benar akan dimakan oleh seseorang hanya sepiring atau dua piring makanan. Pun demikian dengan rumah dan kendaraan.

Baca juga Mengabaikan Surga

Lebih dari semua itu hanyalah bisikan nafsu dan watak tamak, persis seperti halnya orang berpuasa yang dalam lapar dan haus dahaga di siang bolong bernafsu akan menghabisi semua makanan dan minuman yang ada pada ada saat berbuka puasa di sore hari. Akan tetapi, ketika sudah benar-benar tiba waktu berbuka puasa, yang dimakan hanyalah beberapa piring dan beberapa gelas minuman.

Kemenangan bangsa

Puncak ibadah puasa adalah hari raya Idul Fitri, hari kemenangan. Menang dalam arti berhasil melakukan pengendalian diri dalam semua bentuknya. Tak kalah penting pula, menang dalam bentuk berbagi kebahagiaan dan kesejahteraan dengan keluarga, saudara, teman, kolega, dan antar-sesama.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, hari kemenangan bisa dimaknai dalam bentuk keserasian antara semangat ketuhanan dan semangat kemanusiaan. Inilah hakikat kemenangan. Dengan kemenangan ini, maka nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan menyatu dalam sikap dan budi pekerti manusia Indonesia, seperti padunya Syahadat Allah dan Syahadat Rasul dalam dua kalimat syahadat umat Islam.

Baca juga Berlarilah Menuju Allah

Sebaliknya, perpaduan dua ”syahadat kebangsaan” ini adalah awal sekaligus modal untuk menghadapi pelbagai macam tantangan yang muncul sebagai konsekuensi keberagaman yang ada, sebelum mencapai tujuan kebangsaan yang diharapkan.

Perpaduan nilai ketuhanan dan kemanusiaan ini bukan ”azimat” yang oleh sebagian diyakini akan mendatangkan ”kekuatan” dan kesuksesan, sebagaimana juga bukan akhir dari sebuah perjalanan.

Di sinilah pentingnya tetap menjaga persatuan dengan memperhatikan semangat kerakyatan, musyawarah, dan kebijaksanaan. Kerakyatan adalah identitas dasar kolektif bagi seluruh manusia Indonesia. Musyawarah adalah forum kebersamaan dalam memecahkan sebuah persoalan.

Adapun kebijaksanaan adalah cara pandang kearifan yang melampaui kebenaran-kebenaran prosedural, bahkan hukum sekalipun. Inilah energi persatuan dan kesatuan dalam realitas kemajemukan kompleks untuk menghadapi masalah serumit apa pun.

Baca juga Islam dan Kerangka Etik Perubahan Sosial

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat adalah puncak kehidupan berbangsa yang diharapkan. Keadilan sosial tidak bisa terwujud tanpa melalui pemerataan kesejahteraan dan kemakmuran. Maka, hari Lebaran yang tak lain adalah hari berbagi kebahagiaan, kesejahteraan, dan kemakmuran bisa dijadikan sebagai salah satu model perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Setiap kali bangsa ini merayakan hari Lebaran (juga perayaan-perayaan keagamaan lainnya) maka sesering itu pula bangsa ini ”mempresentasikan” model keadilan sosial yang bisa diadopsi secara permanen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hingga keadilan sosial mewujud nyata dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Itulah cita-cita tertinggi bangsa, itulah semangat puasa yang memuncak pada hari Lebaran nanti. Selamat beribadah puasa bagi yang menjalankannya.

** Artikel ini telah tayang di Kompas.id edisi Selasa, 05 Maret 2025.

Baca juga Umat Merindukan Akhlak Rasulullah SAW

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...