HomeBeritaMengolah Rasa Melalui Dialog...

Mengolah Rasa Melalui Dialog Interaktif

Aliansi Indonesia Damai- Senin, (21/10) AIDA kembali menggelar Dialog Interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 1 Bongas, Kabupaten Indramayu. Kegiatan ini diikuti oleh 50 peserta yang terdiri dari 40 perempuan dan 10 laki-laki. 

Supriyanto, sebagai Kepala Sekolah menyampaikan rasa bahagianya karena lembaga pendidikan yang ia pimpin terpilih sebagai lokasi kegiatan AIDA. Padahal menurutnya, sekolah ini baru berdiri selama sembilan tahun dan lokasinya pun cukup terpencil. Karena itu, Supriyanto mengapresiasi kegiatan ini sebagai salah satu pembelajaran bagi para siswa untuk mengolah rasa.

Baca juga Berbagi Ketangguhan di SMAN 1 Haurgeulis

“Kalau di sekolah kita diajarkan olahraga untuk mengolah fisik. Ada pula olah pikir, melalui belajar Matematika, Fisika, Kimia, dll. Selain itu, ada pula olah rasa. Di kesempatan inilah kita dapat mengolah rasa, karena kita dapat saling berbagi pengalaman, agar sama-sama merasakan,” ucap Supriyanto saat menyampaikan sambutan di hadapan para peserta.

Supriyanto mengingatkan para pelajar agar senantiasa reaktif pada kejahatan dan kemungkaran yang mereka temukan. Bila melihat kejahatan atau kemungkaran, menurutnya, maka laporkan ke orangtua, guru, atau bahkan ketua RT. Ia meminta jangan sampai siswa-siswi hanya diam melihat kemungkaran di sekitarnya.

Baca juga Memompa Ketangguhan Generasi Muda Indramayu

Setelah sambutan, tim AIDA membagi peserta ke dalam lima kelompok yang masing-masing terdiri dari 10 orang. Setiap kelompok kemudian diberikan tema dan sejumlah pertanyaan untuk didiskusikan bersama. Hasil diskusi tersebut kemudian dipresentasikan di hadapan para peserta lain.

Pada kesempatan kali ini, AIDA menghadirkan Mukhtar Khairi, mantan narapidana terorisme dan Ram Mahdi Maulana, korban langsung bom Kedutaan Australia 2004. Kedua narasumber tersebut berbagi pengalaman hidup kepada para peserta.

Para siswa-siswi dengan antusias mendengarkan pemaparan dari Mukhtar Khairi dan Ram Mahdi. Mereka juga menyampaikan kesan-pesan dan pelajaran yang mereka peroleh dari uraian keduanya.

Baca juga Optimalkan Potensi Diri, Tumbuhkan Ketangguhan

“Melalui kisah Bapak Mahdi sebagai korban bom, saya menyimpulkan, Bapak Mahdi pernah merasa dendam atau sakit hati karena kerusakan fisiknya akibat bom. Namun Bapak Mahdi berhasil melawan dendamnya dengan menerima takdir Allah. Dari situ saya berpikir, dendam tidak akan berakhir jika tidak kita sendiri yang mengakhirinya. Kita tidak boleh dendam dan benci dengan takdir, apa yang terjadi pada kita harus kita terima,” ucap salah seorang siswi kelas XI IPA 3 saat menyimpulkan pemaparan dari Ram Mahdi. 

Selain itu, salah seorang siswi lainnya menyatakan kesannya mengikuti dialog interaktif ini. Ia bertekad untuk semakin meneguhkan pendirian dan senantiasa menjadi lebih baik lagi. Melalui kisah korban, ia bertekad untuk terus belajar dan tidak mudah berputus asa. [FRN]

Baca juga Kisah Tim Perdamaian Menginspirasi Pelajar di Haurgeulis

Most Popular

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...