HomeOpiniMemaafkan Menyembuhkan

Memaafkan Menyembuhkan

Oleh: M. Syafiq Syeirozi
Alumni Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang

Perasaan marah adalah manusiawi, namun jika berkepanjangan justru menyakitkan diri sendiri. Kehidupan dunia tidak selalu mulus seperti yang kita kehendaki. Kerapkali kita dihadapkan pada peristiwa ataupun persoalan menyakitkan yang memicu amarah, bahkan berkembang menjadi perasaan dendam.

Kehidupan ini selalu mengandung dua sisi: faedah (usefull) dan nirfaedah (useless). Amarah pada batasan dan takaran tertentu perlu diluapkan, namun dalam rangka membuangnya atau mengolahnya menjadi berfaedah. Dalam hemat saya, amarah adalah sampah. Kalau dimasukkan ke dalam hati dan pikiran tanpa diolah, sama saja menjadikan keduanya sebagai keranjang sampah.

Sebagaimana sampah material yang membusuk dalam jangka panjang, sampah psikis juga demikian, bahkan dapat merusak fisik manusia. Dalam ilmu medis dikenal istilah psikosomatik: kondisi atau gangguan ketika pikiran memengaruhi tubuh, hingga memicu munculnya keluhan fisik tertentu. Orang yang mengalami depresi dan stress lebih rawan terkena penyakit ketimbang orang yang menjalani hidup dengan bahagia. Maka pemaafan adalah obat yang ampuh untuk menjinakkan sampah psikis itu.

Baca juga Perlindungan HAM Korban Terorisme

Memaafkan kesalahan orang lain memang tak semudah membalikkan tangan. Namun, “Forgive for your own health, living well is the best revenge (Maafkanlah demi kesehatan dan kedamaian hati Anda sendiri. Cara terbaik membalas dendam adalah dengan menunjukkan kehidupan Anda yang baik-baik saja meski telah disakiti)” demikian petuah dari salah seorang ahli psikologi.

Memaaafkan adalah perintah Allah. Wal ya’fu wal yashfahu. Ala tuhibbuna an yaghfirallahu lakum. Wallahu ghafurur Rahim: “Maafkanlah dan berlapangdadalah. Apakah engkau tidak ingin Allah mengampunimu. Dan Allah maha pengampun dan maha penyayang” (QS al-Nur: 22). Ayat ini turun untuk menegur sahabat Abu Bakar Asshidiq yang marah kepada Misthah, saudara sepupunya yang ikut menyebarkan berita hoaks (qishatul ifki) tentang putrinya, Aisyah RA.

Baca juga Perempuan dan Perdamaian

Saking geramnya, Abu Bakar bersumpah tidak akan menafkahi Misthah lagi. Maka turunlah ayat tersebut untuk mengingatkan Abu Bakar bahwa Misthah adalah kerabatnya sendiri, muslim, miskin, dan ikut berhijrah dari Makkah ke Madinah. Abu Bakar lantas meralat sumpahnya, memaafkan, dan tetap mendermakan hartanya kepada Misthah. (Tafsir Al-Thabary, vol. 17 hal. 223-224).

Sangat manusiawi sahabat Abu Bakar sangat marah melihat putrinya difitnah telah berselingkuh dari Rasulullah Muhammad SAW. Ironisnya, kerabatnya sendiri yang selama ini dinafkahinya ikut menyebarkan kabar hoaks tersebut. Namun Allah menegurnya dengan sindiran, “Aku (Allah) saja mudah mengampuni kesalahanmu, masak kamu tidak bisa memaafkan kesalahan orang lain.”

Baca juga Perempuan dan Kekerasan

Dalam konteks ini, penulis mengapresiasi setinggi-tingginya kepada para penyintas terorisme yang berlapang hati memaafkan para pelaku yang telah mencederai fisiknya, bahkan mengakibatkan cacat permanen, atau merenggut nyawa kekasihnya. Sebagian dari mereka enggan memendam amarah dan menaruh dendam karena hal itu membuat mereka semakin menderita. Sebagian lainnya berprinsip bahwa Tuhan saja Maha Pemaaf, masak manusia tidak memaafkan. Ada pula yang mengombinasikan kedua alasan itu.

Dengan pemaafan, para penyintas terorisme mengaku hidupnya terasa lebih enteng. Tak perlu ada yang diratapi berlebihan dari peristiwa tragis masa lalu dan memilih menerimanya sebagai takdir tak terlawan. Terbukti mereka kini mampu terlibat dalam kampanye perdamaian untuk mengingatkan kepada publik bahwa terorisme dan kekerasan atas nama apa pun sangat rawan membuat orang-orang tak bersalah menjadi korban. Beberapa penyintas bahkan sanggup bersilaturahmi dan berdialog secara intim dengan pelaku yang terlibat aktif dalam serangan teror yang mencederai dirinya.

Sekali lagi, memaafkan memang tak gampang, butuh waktu dan proses menguatkan hati. Namun memaafkan adalah kebutuhan diri untuk menenteramkan akal dan hati kita.

Baca juga Berdakwah dengan Hati

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

9 Tahun Bom Jakarta; Ikhtiar Penyintas Berdamai dengan Trauma (Bag. 4-Terakhir)

Sembilan tahun silam, tepatnya 14 Januari 2016, teroris menyerang jantung kota...

9 Tahun Bom Jakarta; Ikhtiar Penyintas Berdamai dengan Trauma (Bag. 2)

Sembilan tahun silam, tepatnya 14 Januari 2016, teroris menyerang jantung kota...

9 Tahun Bom Jakarta; Ikhtiar Penyintas Berdamai dengan Trauma (Bag. 1)

Sembilan tahun silam, tepatnya 14 Januari 2016, teroris menyerang jantung kota...

Mengikis Kebencian Menuai Perkawanan

Aliansi Indonesia Damai- Senja kian larut, rombongan yang ditunggu sejak matahari...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...