HomePilihan RedaksiMereka yang Menolak Takluk...

Mereka yang Menolak Takluk (Bag. 2)

Sebagian dari mereka pernah berada dalam titik terdekat dengan ajal kematian. Namun seperti difirmankan Allah Swt, ajal manusia memang tidak bisa diundurkan atau sebaliknya dimajukan, barang sejengkal. Beberapa lainnya harus kehilangan sosok-sosok terkasih; “separuh nafasnya”.

Para penyintas terorisme dari lintas negara berikut berhasil sembuh dari cedera fisiknya dan atau trauma psikisnya, kendati sebagian harus mengalami disabilitas. Apa pun kondisinya, mereka menolak takluk.

Baca juga Mereka yang Menolak Takluk (Bag. 1)

Redaksi menerjemahkan dan menyarikan kisah dua puluh orang penyintas terorisme dari situs Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Cerita ketangguhan dan kebangkitan mereka akan tersaji secara berseri.

Kari Wadjoré Parfait (Kamerun)

Pada 19 Desember 2014, dalam perjalanan kerja bersama empat koleganya di dekat Taman Nasional Waza, ujung utara Kamerun, Kari diserang teroris. Dia dan rekan-rekannya berusaha kabur ke hutan, namun ketiga temannya kehilangan nyawanya. Sementara Kari tertembak tangannya. Hingga kini pergelangan tangan kanannya tak bisa difungsikan. Ia lantas menjalani momen-momen sulit, bahkan sempat kehilangan semangat hidup.

Baca juga Tafakur Menyembuhkan Lukanya

Namun berkat dorongan keluarga, ia bisa bangkit. Seorang anak dan kakak laki-lakinya terus memotivasi Kari untuk menyadarkan bahwa dirinya sanggup hidup kembali. Ia kemudian mendirikan Asosiasi Korban Terorisme Kamerun. Melalui wadah tersebut, ia membagikan pengalaman dan membantu memotivasi para korban lain dalam rangka pemulihan mereka. Baginya, ketangguhan adalah tidak terbawa dalam penyesalan, melainkan menyongsong hidup baru dan kesempatan kedua.

Maureen Basnicki (Kanada)

Dunianya terasa hancur ketika suami tercinta, Ken, meninggal dunia dalam serangan 9/11 di New York, Amerika Serikat. Saat itu Maureen sedang bekerja di Jerman sebagai pramugari maskapai penerbangan Air Canada. Ia tak bisa pulang ke Toronto, kota di mana ia tinggal bersama Ken dan kedua anaknya, Erica dan Brennan, karena jalur udara telah ditutup untuk lalu lintas maskapai.

Baca juga Perjuangan Korban Bom Menjadi Ibu Tunggal (Bag. 1)

Usai musibah itu, ia mendedikasikan hidupnya untuk mengadvokasi korban kejahatan kekerasan demi mendapatkan keadilan, termasuk ikut mendirikan Koalisi Masyarakat Kanada Melawan Teror.

Pada peringatan 10 tahun tragedi 9/11, Perdana Menteri Kanada mendeklarasikan 11 September sebagai National Day of Service and Remembrance atau Hari Pelayanan dan Peringatan Nasional. Hal itu bertujuan menginspirasi semua orang agar menunjukkan kasih sayangnya dengan terlibat dalam pelayanan masyarakat untuk alasan-alasan yang berharga.

Baca juga Perjuangan Korban Bom Menjadi Ibu Tunggal (Bag. 2-Terakhir)

Hari Pelayanan adalah cara yang tepat untuk menunjukkan ketangguhan dan penghormatan kepada para korban 9/11, menghargai pengorbanan para relawan penolong korban, dan mengubah tanggal buruk menjadi hari yang penuh limpahan kehangatan dan kemurahan hati.

Esteban Peña (Chile)

Ia berasal dari Puerto Montt, Chile, tetapi sejak 1989 menetap di Perancis. Pada 14 Juli 2016, Esteban terjebak dalam serangan teror di sepanjang Promenade des Anglais di Nice, Perancis, kala menyaksikan kembang api dan merayakan ulang tahunnya bersama beberapa teman. Ia merasa bersyukur selamat dari teror truk seberat 19 ton tanpa terluka secara fisik. Saat itu Esteban bergegas menyelamatkan para korban luka.

Baca juga Penyintas Bom Kuningan Berjuang Melawan Trauma

Pada tahun 2017, bersama dengan sejumlah rekannya, Esteban menciptakan video tarian berjudul “The Breath of Life” sebagai penghormatan kepada para korban teror 14 Juli. Ia melihat seni sebagai kesempatan untuk membangun dan hidup kembali, untuk menunjukkan tampilan baru pada dunia. (bersambung)

Sumber 1 Klik Disini

Sumber 2 Klik Disini

Baca juga Sempat Diduga Pengebom, Keluarga Korban Bangkit dari Kesedihan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meluruskan Pemahaman Jihad

Aliansi Indonesia Damai- Dewasa ini masih banyak kalangan yang memahami jihad...

Berdakwah di Era Digital

Aliansi Indonesia Damai – Banyak kita temui nasehat, “Janganlah belajar agama...

Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 2-Terakhir)

Aliansi Indonesia Damai- Dari hasil pemeriksaan, dokter memutuskan Budijono harus melakukan...

Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 1)

Aliansi Indonesia Damai – Ibadat Misa Pagi di Gereja St Lidwina...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....