HomePilihan RedaksiMereka yang Menolak Takluk...

Mereka yang Menolak Takluk (Bag. 3)

Sebagian dari mereka pernah berada dalam titik terdekat dengan ajal kematian. Namun seperti difirmankan Allah Swt, ajal manusia memang tidak bisa diundurkan atau sebaliknya dimajukan, barang sejengkal. Beberapa lainnya harus kehilangan sosok-sosok terkasih; “separuh nafasnya”.

Para penyintas terorisme dari lintas negara berikut berhasil sembuh dari cedera fisiknya dan atau trauma psikisnya, kendati sebagian harus mengalami disabilitas. Apa pun kondisinya, mereka menolak takluk.

Baca juga Mereka yang Menolak Takluk (Bag. 1)

Redaksi menerjemahkan dan menyarikan kisah dua puluh orang penyintas terorisme dari situs Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Cerita ketangguhan dan kebangkitan mereka akan tersaji secara berseri.

Astrid Passin (Jerman)

Astrid kehilangan ayah akibat teror yang menyasar Pasar Natal di Breitscheidplatz, Berlin, Jerman, pada 19 Desember 2016. Putrinya yang berusia 11 tahun juga harus kehilangan sosok kakek. Sebelas orang lainnya meninggal dalam peristiwa itu.

Baca juga Mereka yang Menolak Takluk (Bag. 2)

Astrid adalah penari Flamenco dan Tango. Namun tragedi kemanusiaan itu seolah menghilangkan kemampuannya. Padahal menari adalah energi hidupnya untuk memerjuangkan keadilan dan kebenaran.

Setelah mampu berbicara mewakili semua keluarga yang telah kehilangan orang-orang terkasihnya pada hari itu, Astrid merasa lebih bersemangat dan memiliki harapan. Ia pun berupaya menari lagi. Ulang tahun almarhum ayahnya jatuh pada tanggal 21 Agustus –hari yang dipilih oleh PBB untuk peringatan korban terorisme. Ia melihat hal itu sebagai pertanda (positif).

Sudirman Talib (Indonesia)

Sudirman berhasil selamat dari serangan bom yang menyasar kantor Kedutaan Besar Australia di Jakarta, di mana ia bekerja sebagai petugas keamanan. Bom meledak 10 meter dari tempatnya berjaga dan melemparkan badannya sejauh 5 meter. Dalam ingatannya, saat itu semua menjadi gelap dan ketika sadar tubuhnya tidak dapat digerakkan.

Baca juga Tafakur Menyembuhkan Lukanya

Ia merasa ketakutan dan berpikir ajalnya telah dekat. Sudirman dirawat di rumah sakit selama sekitar 5 bulan dan menjalani 10 macam operasi berbeda. Mata kirinya hilang, jari-jari tangannya rusak, serta kerusakan saraf berkelanjutan di kepalanya. Kejadian itu menjadi momentum paling traumatis dan tersulit yang pernah dilaluinya. Hingga kini ia harus mengonsumi 5 jenis obat berbeda setiap harinya.

Baca juga Perjuangan Korban Bom Menjadi Ibu Tunggal (Bag. 1)

Sejak 2013, Sudirman aktif berkampanye untuk perdamaian di Indonesia, mengunjungi sekolah-sekolah dan Lapas untuk meningkatkan kepekaan terhadap dampak terorisme. Ia melakukan itu semua berkat dukungan hebat dari keluarganya. Dorongan keluarga terus membuatnya kuat. Sebagai balasannya, Sudirman akan mendukung mereka juga.

Husham Sabah Kamil (Irak)

Pada 3 Juli 2016 malam, ia kehilangan 6 orang saudara sepupunya sekaligus. Teman-temannya juga banyak yang meninggal dunia akibat serangan bom besar yang meledak di Karada, Baghdad. Husham, dua kakak laki-laki, dan ayahnya terluka parah.

Baca juga Perjuangan Korban Bom Menjadi Ibu Tunggal (Bag. 2-Terakhir)

Saat itu adalah malam terakhir bulan Ramadan. Jalanan di jantung Baghdad sangatlah ramai. Suasana ceria terlihat karena setiap orang sedang menyiapkan perayaan Idul Fitri. Namun semuanya buyar akibat serangan mematikan tersebut.

Istrinya menjadi sumber ketangguhan. Dalam masa pemulihan, sang istri terus memberikan dukungan. Baginya, perempuan itu adalah sumber kekuatan yang selalu ada di sisinya. (bersambung)

Sumber 1 Klik Disini

Sumber 2 Klik Disini

Baca juga Penyintas Bom Kuningan Berjuang Melawan Trauma

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meluruskan Pemahaman Jihad

Aliansi Indonesia Damai- Dewasa ini masih banyak kalangan yang memahami jihad...

Berdakwah di Era Digital

Aliansi Indonesia Damai – Banyak kita temui nasehat, “Janganlah belajar agama...

Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 2-Terakhir)

Aliansi Indonesia Damai- Dari hasil pemeriksaan, dokter memutuskan Budijono harus melakukan...

Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 1)

Aliansi Indonesia Damai – Ibadat Misa Pagi di Gereja St Lidwina...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....