HomePilihan RedaksiBangkit untuk Membangkitkan

Bangkit untuk Membangkitkan

Sembari menahan rasa sakit, Agus Kurnia Sudrajat menuliskan bait-bait puisi. Dalam puisi itulah jiwanya berikrar untuk tidak lagi menyimpan dendam kepada orang yang telah membuat hidupnya nyaris hancur. Itu dilakukannya pada hari kelima setelah menjadi korban Bom Thamrin 2016 bersama dengan adiknya.

Agus dan adiknya tak pernah menduga akan menjadi korban bom hingga hidupnya harus bergantung pada obat. Meski demikian Agus hanya butuh waktu lima hari untuk meyakinkan diri bahwa ia wajib berusaha keras menghapus trauma dan dendam. Tentunya demi bangkit dari keterpurukan. Ia mencoba bangkit bukan karena lukanya telah sembuh, namun demi adiknya yang juga sedang terluka. Bagi Agus, kesembuhan adiknya adalah segalanya. Ia tak ingin adiknya terpuruk dan merasa tak berguna.

Baca juga Perjuangan Pemulihan Psikis Korban Bom Thamrin

Sebelum nahas menghampirinya, Agus adalah sosok yang penuh semangat dan ambisi. Ia terbiasa beraktivitas dengan segudang target dan prestasi. Namun musibah bom sempat membuatnya kehilangan kepercayaan diri. Ia mengalami trauma dan luka fisik yang serius. Ia pernah lari ketakutan ketika harus bertemu orang baru yang membawa koper. Trauma itu membekas. Tak mudah hilang.

Gendang telinganya bolong. Pun mengalami kelainan otot saraf yang membuatnya sering merasa mati rasa, bahkan pingsan secara tiba-tiba saat kelelahan. Hingga hari ini sejumlah perawatan medis tetap harus ia jalani, tapi bukan Agus jika memilih menyerah. “Saya harus mengubur rasa trauma itu, karena adik saya kondisinya juga down. Ia merasa tidak berguna untuk hidup karena harus menanggung rasa sakit. Saya pun sempat berpikir dengan kondisi sakit begini, lama-lama saya akan cepat mati. Tapi saya harus bangkit untuk melawan itu semua,” ujar Agus.

Baca juga Meredam Amarah demi Bumi Damai

Agus merasa memiliki tanggung jawab untuk membuat adik dan keluarganya bangkit dari keterpurukan. Ia tak ingin meratapi nasib dan menyimpan dendam. Berdamai itu lebih baik. Kini ia aktif dalam berbagai kegiatan positif untuk menyembuhkan trauma dan menjalani hari yang lebih baik. “Sebelum saya mengajak adik saya untuk berdamai dengan dirinya sendiri, saya harus berdamai dengan diri saya sendiri. Kini saya dan adik saya sudah bisa berdamai, memaafkan pelaku, dan bergabung dalam tim perdamaian AIDA,” ujar Agus saat menjadi narasumber dalam kegiatan virtual AIDA, Senin (24/08/2020).

Baca juga Memaafkan Membuat Dwiki Mampu Bangkit

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenggal Kisah Penyintas Bom Thamrin, Deni Mahieu: Mensyukuri Kesempatan Hidup Kedua

Enam tahun telah berlalu. Awal tahun 2016 menjadi kenangan suram bagi...

Refleksi Hari Ibu: Perempuan, Kasih Sayang dan Perdamaian

Oleh Linda Astri Dwi WulandariAsisten Program Manager Rehabilitasi AIDA Momentum Hari Ibu,...

Kisah Inspiratif Korban Bom Bali 2002 I Gede Budiarta: Bangkit Melawan Trauma untuk Menggapai Kepercayaan Diri

Aliansi Indonesia Damai - Terorisme selalu lekat dengan kehilangan, kehancuran, dan...

16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Hari ini, tepat 16 tahun yang lalu, Indonesia berduka. Tiga serangan...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....