HomePilihan RedaksiPerjuangan Pemulihan Psikis Korban...

Perjuangan Pemulihan Psikis Korban Bom Thamrin

Aliansi Indonesia Damai- Aksi terorisme bukan hanya mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka fisik, namun juga meninggalkan trauma psikis berkepanjangan bagi korbannya. Hal itu dirasakan oleh Dwi Siti Romdhoni, korban Bom Thamrin 2016. Bukan perjalanan yang mudah baginya untuk bisa pulih hingga saat ini.

“Tahun-tahun pertama, sekitar 2016-2017, saya merasakan ketakutan bertemu dengan orang baru, terutama orang berbaju hitam, orang memakai ransel dan topi, serta bunyi-bunyi suara,” ungkap Dwiki, sapaan akrab Dwi Siti Romdhoni, saat menjadi narasumber kegiatan Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya” yang digelar AIDA secara daring bersama dengan Eksekutif Mahasiswa (EM) Universitas Brawijaya, pada Rabu (21/07/2020).

Baca juga Habitus Perdamaian: Belajar Dari Penyintas

Dwiki menuturkan, pada masa awal perawatan di rumah sakit, hampir setiap 2 jama sekali ia didatangi psikolog mengingat kondisi kejiwaannya yang belum stabil. “Saat masih dirawat intensif di RS, ada charger handphone teman saya jatuh. Itu tidak keras. Tetapi saya kaget luar biasa dan langsung teriak minta tolong,” katanya mengenang.

Pada tahun kedua, kondisi psikis Dwiki cukup membaik tetapi belum pulih sepenuhnya. Ia masih mengalami kegelisahan dan kecemasan hingga akhirnya harus dirujuk ke psikiater. “Tahun kedua, psikolog memberikan rujukan untuk ke psikiater karena saya masih gelisah dan merasa tak percaya diri dengan kondisi saya yang bisa disebut difabel. Saya tidak bisa bekerja dengan baik, tidak bisa bergaul seperti biasanya, income menurun, saya merasakan kecemasan,” ujarnya.

Baca juga Ilham Perdamaian

Selama dua tahun, Dwiki menjalani konseling, baik di RS rujukan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) maupun fasilitas konseling dari AIDA. “Ketika di RS, dari psikiater saya mendapatkan obat untuk gangguan kecemasan yang hanya bisa saya konsumsi selama 2 bulan. Sedangkan dengan psikolog dari AIDA saya mendapatkan layanan konsultasi, trik, atau terapi yang bisa saya gunakan,” tutur Dwiki mengingat masa-masa sulitnya.

Menurut dia, saat itu adalah masa yang paling berat. Ia sering merasa kalut dan tiba-tiba merasa “blank” secara mendadak saat dirinya seharusnya dituntut untuk fokus. “Ketika saya misalkan sedang meeting, saya tiba-tiba nge-blank” ujarnya.

Baca juga Meredam Amarah demi Bumi Damai

Untuk mengatasi problem tersebut, Dwiki menerapkan trik-trik yang didapatkan dari psikolog seperti dengan mengatur pernapasan berdasarkan beberapa ketukan. Terapi lain adalah menggambar dan membaca Al-Quran. Hal tersebut ia lakukan dengan rutin hingga kondisinya membaik.

“Waktu itu saya selalu kembali konsultasi ke psikolog beberapa bulan sekali. Sekarang Alhamdulillah tidak kambuh lagi. Kalau konsultasi hanya biar lebih tough (kuat: red) lagi ketika berbicara atau berkisah di hadapan orang-orang, dan bagaimana saya bisa berkreasi karena tidak semua pekerjaan bisa menerima saya sebagai difabel,” tutur Dwiki.

Baca juga Korban Bom Kuningan Berdamai dengan Kenyataan

Dwiki menjadi korban bom ketika sedang bertemu klien kerjanya di salah satu café di Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat. Saat bom meledak, dirinya terpental dan tak sadarkan diri. Akibat dari kejadian tersebut ia mengalami patah tulang leher sebelah kiri.

Baca juga Ketegaran Korban Bom Kuningan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenggal Kisah Penyintas Bom Thamrin, Deni Mahieu: Mensyukuri Kesempatan Hidup Kedua

Enam tahun telah berlalu. Awal tahun 2016 menjadi kenangan suram bagi...

Refleksi Hari Ibu: Perempuan, Kasih Sayang dan Perdamaian

Oleh Linda Astri Dwi WulandariAsisten Program Manager Rehabilitasi AIDA Momentum Hari Ibu,...

Kisah Inspiratif Korban Bom Bali 2002 I Gede Budiarta: Bangkit Melawan Trauma untuk Menggapai Kepercayaan Diri

Aliansi Indonesia Damai - Terorisme selalu lekat dengan kehilangan, kehancuran, dan...

16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Hari ini, tepat 16 tahun yang lalu, Indonesia berduka. Tiga serangan...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...