HomePilihan RedaksiPenyintas Bom Kampung Melayu:...

Penyintas Bom Kampung Melayu: Saya Bangkit Demi Ibu

Aliansi Indonesia Damai- Malam itu, 24 Mei 2017, dua gadis remaja tengah berbincang akrab sembari menunggu angkutan umum di kawasan Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Mereka adalah Jihan Thalib dan Susi Afitriyani, yang baru saja pulang dari kuliah. Mereka mengambil kelas karyawan di Universitas Az-Zahrah karena paginya harus bekerja. Mereka berdua adalah tulang punggung bagi keluarga masing-masing. Siapa sangka malam itu mereka berdua akan menjadi korban ledakan bom? 

Kampung Melayu saat itu sangat ramai dengan kegiatan pawai obor. Banyak polisi yang bertugas di sana. Jihan dan Susi tentu saja tidak memiliki kecurigaan akan terjadi ledakan bom. Tiba-tiba saja suara ledakan kencang terjadi. Kejadiannya begitu cepat. Jihan tiba-tiba terpisah dari Susi. Dia mencoba menyapu pandangan di sekelilingnya, tapi yang ia lihat hanyalah kepulan asap putih. Dengan segenap tenaga, Jihan berusaha lari namun tenaganya tak cukup kuat sehingga dirinya terjatuh.

Baca juga Sarbini Tak Menyerah dari Musibah

Melihat Jihan jatuh, seorang Bapak menolong dan mengantarkan Jihan ke rumahnya yang tak jauh dari Kampung Melayu. Bapak itu tidak langsung membawa Jihan ke Rumah Sakit karena khawatir dimintai keterangan dan tidak bisa menjawab. Sesampainya di rumah, oleh keluarganya Jihan dibawa ke Rumah Sakit Premier Jatinegara. 

Jihan harus menjalani operasi karena terdapat gotri yang bersarang di tubuhnya akibat ledakan bom. Tangannya pun terluka. Total ada 7 jahitan di punggung dan 5 jahitan di tangan. Gendang telinga Jihan pecah akibat kerasnya suara ledakan.  Bukan hanya itu, secara psikis, Jihan juga mengalami trauma.

Baca juga Ketabahan Ramdhani Di Balik Musibah Bom Kuningan

“Dampak trauma itu ada, tapi alhamdulillah tidak terlalu lama. Hingga 4 bulan pasca ledakan, saya masih takut ketika mendengar suara ledakan petasan karena rasanya seperti dikembalikan ke masa itu. Saya juga takut melewati daerah tersebut,” ungkap Jihan saat berbagi kisah dalam kegiatan Dialog Interaktif bersama siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)  yang diselenggarakan oleh AIDA pada Oktober lalu di Kabupaten Indramayu. 

Jihan sangat bersyukur traumanya tidak berlangsung begitu lama. Meskipun masih harus menjalani perawatan selama 1 tahun untuk memulihkan kondisi fisiknya, Jihan mampu menghadapinya dengan kuat. Semangat Jihan untuk sembuh begitu besar. “Ibu saya sedang sakit kanker darah. Saya adalah tulang punggung keluarga. Kalau saya sakit, siapa yang akan merawat Ibu saya. Saya tidak mau menjadi beban untuk Ibu saya. Saya bangkit demi Ibu saya,” tutur Jihan berkaca-kaca.

Jihan Thalib dalam kegiatan Dialog Interaktif “Menjadi Generasi Tangguh” di Indramayu.

Jihan mengaku, masa-masa sulit bisa cepat ia lalui karena berdamai dengan diri sendiri dan menerima keadaan. Dukungan dan motivasi dari keluarga juga sangat membantu Jihan melalui hal tersebut. “Saya mencoba berusaha bersyukur dan ikhlas dengan keadaan. Kita tentu pernah mengalami ketidakpuasan dalam hidup ini. Namun ketika melihat ada banyak orang yang keadaannya lebih terpuruk dari saya, saya merasa tidak seharusnya merasa demikian. Dengan begitu saya merasa lega,” ungkapnya.

Jihan pun tidak menyimpan dendam sama sekali terhadap para pelaku. “Iman seseorang itu naik-turun, sehingga apa yang dilakukan pelaku teroris itu adalah suatu kekhilafan. Jika kita berdamai dengan diri sendiri, maka secara otomatis kita akan memaafkan apapun yang sudah menyakiti kita,” tegas Jihan.

Kini Jihan telah memulai hidup yang baru. Dia bangkit dari keterpurukan dan kembali melanjutkan kuliahnya. Bahkan pertengahan 2019 yang lalu, ia memutuskan untuk menikah. Dia pun aktif terlibat dalam kegiatan Yayasan Penyintas Indonesia (YPI) dan ikut bergabung bersama AIDA untuk mengkampanyekan perdamaian di Indonesia.

Baca juga Sudjarwo Bangkit Kembali Merajut Mimpi

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenggal Kisah Penyintas Bom Thamrin, Deni Mahieu: Mensyukuri Kesempatan Hidup Kedua

Enam tahun telah berlalu. Awal tahun 2016 menjadi kenangan suram bagi...

Refleksi Hari Ibu: Perempuan, Kasih Sayang dan Perdamaian

Oleh Linda Astri Dwi WulandariAsisten Program Manager Rehabilitasi AIDA Momentum Hari Ibu,...

Kisah Inspiratif Korban Bom Bali 2002 I Gede Budiarta: Bangkit Melawan Trauma untuk Menggapai Kepercayaan Diri

Aliansi Indonesia Damai - Terorisme selalu lekat dengan kehilangan, kehancuran, dan...

16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Hari ini, tepat 16 tahun yang lalu, Indonesia berduka. Tiga serangan...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...