HomePilihan RedaksiSosok Kecil Bermental Besar

Sosok Kecil Bermental Besar

Sederhana, polos, dan apa adanya. Itulah kesanku atas sosok Susi Afitriyani. Pipit sapaan akrabnya. Dari Brebes Jawa Tengah, perempuan berperawakan kecil ini merantau ke Jakarta. Niatnya mulia; bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya. Sembari bekerja, ia menuntut ilmu di salah satu universitas swasta di Jakarta Timur.

Aku bertemu dengannya usai peristiwa Kampung Melayu, Mei 2017. Awalnya aku mendapatkan informasi bahwa Pipit dirawat di RSUD Budhi Asih. Saat itu korban Bom Kampung Melayu memang tersebar di beberapa rumah Sakit. Selang dua hari setelah kejadian, aku bersama salah seorang rekan kerja di AIDA berupaya membesuk Pipit. Namun saat tiba di sana, ia sedang menjalani operasi untuk pemulihan bagian lengannya, sehingga tidak bisa dijenguk. Kami memutuskan menunda kunjungan.

Baca juga Jalan Panjang Pemaafan Penyintas Bom

Beberapa hari berikutnya aku mendapatkan kabar bahwa Pipit telah pulang ke indekosnya untuk melakoni rawat jalan. Selepas jam kerja, aku bersama teman kantor langsung menuju ke indekos Pipit. Butuh waktu untuk menemukannya. Tak ada warga yang bisa ditanyai karena kami tiba di kawasan itu persis saat azan maghrib berkumandang. Pipit sendiri tidak bisa dihubungi karena telepon selulernya rusak akibat pengeboman.

Berbekal kisi-kisi dari teman kuliah yang lebih dulu mengunjunginya, aku berhasil menemukan indekosnya. Kala itu Pipit telah ditemani oleh ibunya yang datang dari kampung halaman. Usai saling berkenalan, Pipit bercerita tentang musibah yang menimpanya. Kata “andaikan” berulang kali meluncur dari mulutnya.

Baca juga Pemaafan dalam Keimanan

Layaknya firasat, hari itu Pipit merasa sangat enggan melangkahkan kaki menuju kampus. Toh ia tetap berangkat. Hari itu perkuliahan berakhir lebih cepat ketimbang biasanya. Beberapa rekan kuliah sempat mengajaknya untuk kongko di suatu tempat. Ajakan yang ditolak oleh Pipit. Bersama Jihan Thalib (korban Bom Kampung Melayu lain), keduanya memutuskan pulang ke tempat masing-masing. Mereka berdua berjalan kaki sekira 200 meter menuju terminal Kampung Melayu untuk melanjutkan perjalanan dengan angkutan kota (mikrolet).

Ketika menunggu di dekat halte transjakarta, ledakan terjadi 2 kali. Titiknya berdekatan. Pipit terpental dan sempat kehilangan kesadaran beberapa detik. Ia lantas berlari menjauhi titik ledakan. Ia tidak menyadari lengan kanannya terluka parah. Darah pun bercucuran. Ia baru tersadar saat ada orang yang berteriak tentang lukanya. Berselang beberapa detik, tubuhnya terjatuh ke tanah dan tak sanggup lagi berdiri.

Baca juga Perjuangan Pemulihan Psikis Korban Bom Thamrin

Perawatan medis dan konseling psikis di rumah sakit belum mengembalikan kondisi Pipit seperti sedia kala. Pipit harus mengurangi aktivitas fisiknya, terutama yang berhubungan dengan tangan kanan. Tulang pangkal lengan kanan yang patah memang telah dioperasi, tetapi masih sangat sulit digerakkan. Menurut dokter yang memeriksanya, Pipit memang harus melakukan operasi lanjutan setelah kondisinya membaik.

Kebersamaan Susi Afitriyani Bersama Penulis.

Waktu berlalu, kabar operasi lanjutan tak kunjung datang. Pipit memeroleh informasi bahwa prosedurnya sangat rumit. Komunikasiku dan Pipit terjalin intensif. Ia kerap mengabarkan perkembangan kondisinya. Sebagian kabar membuatku sangat terharu; “Kak Lida, aku sudah bisa tidur miring.” Lain waktu ia menuliskan pesan di seluler, “Kak Lida, aku bisa kuncir rambut sendiri meskipun di samping.”

Kemajuan itu tidak otomatis menunjukkan fisiknya benar-benar pulih, melainkan lebih karena ia berusaha membiasakan diri dengan kondisinya terkini. Aku sempat mendampinginya berobat di RSUD Pasar Minggu dengan menggunakan fasilitas Kartu Indonesia Sehat (KIS). Tentu saja setelah mendapatkan rujukan dari Puskesmas.

Baca juga Ilham Perdamaian

Pipit sempat melakoni pemeriksaan di poli ortopedi dan poli saraf. Namun proses itu dihentikan lantaran lembaga negara yang berwenang menyarankannya berobat ke salah satu rumah sakit di Jakarta Pusat. Namun karena pelbagai alasan, Pipit memutuskan menghentikan terapi medisnya. Walhasil hingga kini ia belum menjalani operasi lanjutan.

Sekarang kondisi fisiknya kian membaik. Pipit tak henti memanjatkan syukur kepada Allah Swt atas perkembangan itu. Meski tak pulih total, Pipit kembali menjalani aktivitas seperti sedia kala: kuliah. Semangat belajarnya masih sama seperti sebelum musibah. Kewajibannya pribadinya kini bertambah. Sejak setahun terakhir, Pipit resmi dipersunting oleh teman baiknya sejak duduk di bangku sekolah menengah. Selamat melakoni status baru, Pit. [LH]

Baca juga Korban Bom Kuningan Berdamai dengan Kenyataan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...