HomePilihan RedaksiKetika Ekstremis Mengaku Khilaf...

Ketika Ekstremis Mengaku Khilaf (Bag. 1)

Aliansi Indonesia Damai- Seburuk apa pun masa lalu, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berubah. Begitu pun dengan mantan pelaku ekstremisme kekerasan. Sebagian dari mereka yang pernah terjerumus ke dalam jaringan kekerasan, kini insaf dan menyampaikan kisah hidupnya kepada masyarakat luas. Proses kesadaran tumbuh bertahap. Mereka mengaku khilaf dan meminta maaf.

Iswanto, mantan ekstremis yang pernah berjihad di wilayah konflik di Poso dan Ambon,  adalah salah satunya. “Sekarang saya memahami, mencintai negara juga bagian dari iman. Tidak perlu berperang, karena itu menyakiti sesama,” katanya.

Baca juga Hati-Hati Mencari Ilmu

Kesadaran Iswanto kian menguat ketika bertemu dan mendengar kisah penderitaan hidup korban terorisme. “Sampai saya bertemu korban bom, berbincang, mendengar kisahnya, mereka ikhlas dan memaafkan saya. Mereka membuat saya makin yakin apa yang saya lakukan adalah bentuk kesalahan,” ungkap Iswanto dalam kegiatan AIDA beberapa waktu lalu.

Pernyataan Iswanto di atas tentu saja berbeda dengan realitas masa lalunya. Dulu, Iswanto adalah orang yang paling bersemangat ketika diajak untuk berperang atas nama agama. Ia meyakini, agama Islam harus diperjuangkan melalui aksi-aksi kekerasan. Keyakinan itu tak lepas dari latar belakang pendidikan dan guru-gurunya. Sewaktu masih berstatus pelajar, Iswanto hidup dalam iklim pendidikan yang cenderung eksklusif dan tertutup. Ia mendapatkan doktrin dan ajaran agama yang kaku dan keras.

Baca juga Jalan Hijrah Mantan Ekstremis

Doktrin itu menekankan bahwa majelis tempatnya belajar adalah yang paling benar, sementara majelis lain salah, bahkan tergolong sesat. Ajaran ini membuat Iswanto memandang kelompok lain dengan sebelah mata. Semua kelompok yang tak sepaham dengan kelompoknya dianggap sesat dan melenceng dari ajaran Islam yang sejati. Ditambah lagi doktrin-doktrin kekerasan yang terus ia dapatkan, seperti kewajiban seorang muslim membantu saudara-saudaranya yang berperang di wilayah konflik.

Tak hanya itu, guru-guru Iswanto acapkali mengajarkan materi jihad dalam arti sempit, yaitu berperang dengan keyakinan membela agama. Tak ayal Iswanto makin membenci orang-orang non-muslim yang ia yakini sebagai musuh Islam. Ia juga didoktrin tentang haramnya seorang muslim menerima dan mengakui status negara modern.

Baca juga Merajut Ukhuwah Merawat Perdamaian

Menurut paham kelompoknya, negara berikut sistem dan perangkat-perangkatnya adalah produk orang-orang ‘kafir’ sehingga umat muslim harus menolak dan wajib berjihad menegakkan sistem negara baru yang menurut mereka harus berlandaskan Islam. Doktrin ini tertanam kuat di benaknya. Ia menjiwai setahap demi setahap ajaran para gurunya.

Pada suatu waktu, guru Iswanto berniat mengirimnya untuk belajar ke Pakistan. Namun rencana itu gagal. Ia merasa sangat kecewa. Ketika konflik komunal di Poso dan Ambon meletus, ia sangat bersemangat untuk berjihad di sana. Motivasinya membela umat Islam yang sedang berkonflik dengan non-muslim sekaligus pelampiasan hasrat jihadnya yang menggebu-gebu.  Sejak saat itulah, ia mulai terlibat langsung dalam aksi-aksi kekerasan. Bersama para ‘mujahid’, Iswanto merasa tengah berjuang di jalan agama. “Kita diajarkan bagaimana agar orang ikut kita, dicekoki narasi-narasi amar makruf nahi munkar, tetapi aksinya dengan perang dan pengeboman,” kata Iswanto. (Bersambung)

Baca juga Mereka yang Menemukan Jalan Kembali (Bag. 1)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pasang Surut Kehidupan Penyintas

Aliansi Indonesia Damai- Para korban yang terkena dampak serangan terorisme banyak...

Kebahagiaan Merayakan Idul Fitri

Aliansi Indonesia Damai- Syukur alhamdulillah, setelah dua kali merayakan Hari Raya...

Isra’ Mi’raj dan Kepekaan Empati Kita

Oleh Ahmad HifniMahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Setiap tanggal 27 Rajab...

Ibroh dari Dialog Korban dan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagian orang mungkin memandang perjumpaan antara pelaku terorisme...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...