HomeOpiniMenggunakan Teknologi AI bagi...

Menggunakan Teknologi AI bagi Kemanusiaan

Oleh: Widodo Budiharto
Pendiri Center of Excellence (CoE) Humanitarian AI and Technology, BINUS University

”Kecerdasan artifisial yang berkembang cepat di era disrupsi teknologi bukanlah hal yang perlu ditakutkan untuk dihadapi. Jangan hindari perubahan teknologi, jangan takut dengan mesin cerdas, dengan AI.” Demikian disampaikan Presiden Joko Widodo pada orasi di Sidang Terbuka IPB University, di Kampus IPB Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/9/2023).

Kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) merupakan bagian dari ilmu komputer yang berusaha meniru kecerdasan manusia dan berbagai fenomena yang terinspirasi dari alam. Kemampuan AI belajar dari data skala besar mahadata (big data) memampukannya memprediksi, mengklasifikasi, dan mengambil keputusan atau tindakan tertentu serta menghasilkan berbagai aplikasi.

Aplikasi itu, antara lain, Midjourney yang mampu membuat gambar baru. Contoh lain, ChatGPT yang mampu membuat pidato, artikel ilmiah, lirik dan musik, serta menjawab pertanyaan ujian mahasiswa. Bahkan, membuat kode program komputer dengan amat baik.

Baca juga Integritas Santri dan Mandat Keadaban Publik

Kemampuan teknologi AI telah menimbulkan disrupsi teknologi di berbagai bidang. AI secara mendasar mengubah dunia saat ini. Hal itu tidak dapat dimungkiri meningkatkan cara kita belajar serta menjalani kehidupan dan bekerja, termasuk dalam kegiatan kemanusiaan.

Akhir-akhir ini, terdapat istilah humanitarian AI. Hal ini dapat didefinisikan sebagai berbagai penerapan AI untuk memudahkan pekerjaan yang dimanfaatkan dalam berbagai aksi kemanusiaan. Sebagai contoh, memberikan informasi dan visualisasi data dari pattern dan dataset kompleks yang tidak dapat diidentifikasi manusia. Di samping itu, meningkatkan efisiensi bekerja melalui otomatisasi.

Salah satu gambaran terkait hal ini diberikan oleh NetHope, konsorsium lebih dari 60 perusahaan global nonprofit dan teknologi untuk mendukung kegiatan kemanusiaan dan konservasi. Leila Toplic, pemimpin inisiatif NetHope, menginformasikan, pada 2020 saja, hampir 80 juta orang mengungsi akibat konflik dan penganiayaan. Perubahan iklim juga berdampak besar pada wilayah yang sudah kekurangan sumber daya, seperti Afrika Subsahara.

Baca juga Perundungan, Otak, dan Karakter Pelajar

Pada saat yang sama, kesenjangan meningkat tajam di berbagai dimensi, termasuk pendidikan, jender, dan pembangunan ekonomi. Diperhitungkan, 258 juta anak putus sekolah prapandemi Covid-19 dan 463 juta anak terputus dari pendidikan selama pandemi.

Terlepas dari peningkatan pengungsian karena konflik serta bencana alam, seperti angin monsun, kekeringan, dan banjir, terus menjadi penyebab sebagian besar pengungsian internal baru. Hal itu mendorong 23,7 juta pergerakan serupa pada 2021. Pengungsi di Gaza yang infrastruktur pemerintahnya hancur lebur juga merupakan masalah pelik. Ini hanyalah beberapa tantangan kemanusiaan yang kita hadapi.

Laporan Panel Lintas Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC), badan PBB yang bertugas menilai sains terkait perubahan iklim PBB, menyebutkan, sekitar 143 juta orang kemungkinan akan meninggalkan rumah mereka selama 30 tahun ke depan. Hal itu disebabkan naiknya permukaan air laut, suhu panas ekstrem, serta kekeringan dan bencana iklim lainnya.

Baca juga Membumikan Kebudayaan Inklusif

Konflik Ukraina dan Timur Tengah juga semakin meningkatkan arus pengungsian, krisis pangan, dan inflasi dunia. Di Indonesia, kekeringan akibat El Nino yang sudah berlangsung berbulan-bulan telah membuat kerugian besar bagi para petani. Kondisi ini pun berdampak pada stok dan kenaikan harga pangan.

Solusi AI

Penggunaan teknologi AI pada aksi-aksi kemanusiaan bukanlah hal baru. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pemanfaatan AI dan dampaknya bagi kemanusiaan menjadi topik bahasan penting. Hal ini pun sejalan dengan upaya organisasi kemanusiaan untuk memasukkan AI ke dalam program kemanusiaan.

Terlebih lagi, kemajuan pesat AI, seperti generative AI, deep learning,natural language processing (NLP), geo-AI untuk pemetaan, ilmu mahadata, dan data science, memudahkan kita mengambil keputusan berdasarkan informasi visual dan teks yang disajikan.

Sebagai contoh, Seguro Project telah bermitra dengan Paz para las Mujeres dan Microsoft menggunakan teknologi Conversational AI untuk mendukung korban kekerasan berbasis jender. Teknologi ini memberikan solusi berbasis chatbot untuk memberikan dukungan dan layanan bagi perempuan yang menghadapi kekerasan.

Baca juga Memastikan Dukungan Terbaik di Ruang Pendidikan

Sejak 2018, Microsoft telah mendukung penerapan 61 AI dalam aksi-aksi kemanusiaan di 20 negara, di antaranya AI digunakan dalam upaya mengatasi bencana serta menangani isu pengungsi dan hak asasi. Selain itu, AI juga digunakan untuk merespons kebutuhan perlindungan wanita dan anak melalui hibah, donasi teknologi, dan dukungan data science.

Penerapan AI juga sangat bermanfaat bagi penanggulangan krisis pangan dunia akibat perubahan iklim. Solusi terkait dampak perubahan iklim dan konflik ini sudah banyak diupayakan.

Hal itu, antara lain, ditegaskan Jay Mahanand, Chief Information Officer di United Nations World Food Programme. Ia mengatakan, penerapan sistem informasi geografis dengan dukungan AI dan machine learning bermanfaat untuk memberikan informasi lokasi tempat tinggal penduduk padat yang butuh bantuan makanan.

Mendukung SDGs

Melihat keluasan fungsi dan jangkauan teknologi ini, AI dapat digunakan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) Di Indonesia, upaya pencapaian SDGs dikoordinasikan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Kementerian PPN/Bappenas mengajak semua pihak turut aktif menyuarakan dan melakukan upaya-upaya pencapaian SDGs.

Presiden Jokowi bahkan memandang perlu adanya peningkatan perhatian dan bantuan kepada kelompok rentan akibat melambatnya kegiatan perekonomian. Menurut dia, semua lapisan masyarakat terdampak akibat pandemi, terutama kelompok rentan.

Teknologi AI dapat membantu pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) memberikan informasi perihal pendidikan, kesehatan, atau pangan. Selain itu, AI juga membantu dalam mengambil keputusan serta bertindak lebih cepat dalam keadaan darurat, berbekal data science dan visualisasi data.

Baca juga Generasi Digital Harus Melakukan Detoksifikasi Teknologi

Sistem deteksi yang dikembangkan AI dapat memprediksi keadaan darurat sebelum menyebar melalui peringatan dini, misalnya ketika terjadi banjir, gempa, dan kebakaran.

Sebuah analisis dari Bank Dunia mengenai inovasi AI dalam manajemen risiko bencana menyoroti bahwa AI digunakan untuk berbagai tugas, termasuk pemetaan kerentanan, pemodelan pergerakan populasi, prediksi level kemiskinan, prediksi risiko, dan mendukung penilaian kerusakan.

Pemerintah perlu menyadari pesatnya teknologi AI dengan segala kelebihan sekaligus potensi penyalahgunaannya kemudian menginformasikannya kepada masyarakat. Pemerintah perlu mengoptimalkan semua fasilitas penelitian, melibatkan perguruan tinggi dan lembaga riset untuk dapat menerapkan AI pada berbagai upaya mengatasi masalah kemanusiaan.

Baca juga Melampaui Bayang-bayang Pendidikan

Masih banyak pertanyaan terkait dampak AI bagi pekerjaan. Terkait hal itu, mungkin perlu diberikan pemahaman tentang teknologi AI dalam bentuk mata kuliah di semua jurusan.

Pemerintah juga perlu serius dan inovatif dalam mewujudkan berbagai penerapan AI agar dapat menghasilkan aplikasi bagi aksi-aksi kemanusiaan yang dapat digunakan oleh kementerian terkait dan LSM. Dana sangat besar yang digunakan untuk riset dan kolaborasi harus dipastikan optimal dan dapat digunakan untuk aksi kemanusiaan.

Model pengambilan keputusan oleh pemerintah daerah dan pusat perlu berlandaskan data valid dan akurat, berbasis data science dan mahadata. Selain itu, perlu pula dikembangkan berbagai aplikasi berbasis AI dan transformasi digital pada lembaga pemerintah.

*Artikel ini terbit di Kompas.id, edisi Senin, 23 Oktober 2023

Baca juga Mewaspadai Konten Kotor Content Creator

Most Popular

1 COMMENT

  1. artikel blog tentang menggunakan teknologi AI sungguh bermanfaat. Kemajuan dalam era digital terus membawa berbagai inovasi menakjubkan, termasuk pemanfaatan Web AR, sebuah situs web berbasis Augmented Reality yang berhasil menggabungkan dunia digital.

Leave a Reply to Menuju Era Digital Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id...

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...