HomeBeritaDialog Santri dan Tokoh...

Dialog Santri dan Tokoh Agama di PP Al-Izzah Samarinda

Aliansi Indonesia Damai- Terdapat diskusi yang menarik antara santri dan tokoh agama dalam Pengajian “Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” yang diselenggarakan AIDA di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Izzah Samarinda pada Desember 2023 lalu. Komunikasi dialogis antara peserta dan narasumber dalam kegiatan tersebut berkisar tentang ajaran agama yang sering dibajak oleh kelompok kekerasan untuk melegitimasi aksi-aksinya.

Dua orang tokoh agama dihadirkan sebagai narasumber dalam Pengajian. Mereka adalah M. Yarif Yahya, pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Kalimantan Timur, dan Hasibullah Satrawi, pemerhati politik Timur Tengah dan dunia Islam yang sekaligus Ketua Pengurus AIDA. Sesuai tema Pengajian, Ustaz Yarif dan Ustaz Hasibullah memaparkan gagasannya mengenai ‘ibroh atau pembelajaran berharga dari kisah korban dan mantan pelaku terorisme yang wajib direnungkan khalayak luas, khususnya kalangan santri.

Baca juga Menyeimbangkan Otak Akademis dan Kebijaksanaan

Kisah korban yang berjuang untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi teror yang menimpa mengandung motivasi dan inspirasi ketangguhan yang luar biasa. Setiap orang pernah mengalami musibah namun hanya yang berjiwa tangguh yang mampu sintas dan melenting dari kondisi keterpurukan. Para korban menunjukkan semangat ketahanan yang teguh, bahkan saat dihadapkan pada cobaan hidup yang sangat buruk.

Pun demikian dengan pengalaman hidup mantan pelaku terorisme. Mereka menempuh jalan yang sangat tidak mudah untuk bisa bertobat dari jerat pemahaman kekerasan yang dahulu bersarang di pemikiran mereka.

Baca juga Keluarga Harmonis Kunci Terciptanya Perdamaian

Seorang santriwati Ponpes Al-Izzah mengutarakan kegelisahannya terhadap orang-orang yang berusaha membela agama namun disematkan predikat teroris oleh kebanyakan orang. “Mengapa mereka disebut teroris? Bukankah mereka tadi mengatakan sebagai mujahid, mereka berjihad?” ujar Zakiya, sapaan akrab santri tersebut.

Menanggapi hal itu, Hasibullah menerangkan bahwa bisa jadi memang niat awalnya orang atau kelompok yang melakukan aksi terorisme adalah jihad. Mereka mengklaim sebagai mujahid, peduli terhadap ketidakadilan yang menimpa umat tertentu, dan ingin membalas ketidakadilan tersebut.

Baca juga Membentengi Generasi Muda dari Paham Kekerasan

“Tapi karena jalan yang mereka tempuh menggunakan cara-cara teror, maka persepsi umum atau masyarakat kemudian menyebut mereka teroris,” ujarnya tegas.

Lebih lanjut Hasibullah menjelaskan, lantaran aksi kekerasan yang dilakukan berdampak pada keselamatan orang banyak, negara dalam hal ini pemerintah kemudian membakukan aturan mengenai terorisme dalam hukum. Dalam Undang-Undang (UU) No. 5 Tahun 2018 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, katanya, diterangkan cukup jelas definisi terorisme. Yaitu, hal-hal yang bersifat kekerasan atau ancaman kekerasan yang berkaitan dengan persoalan ideologi dan politik.

Baca juga Dinamika Hubungan Korban dan Mantan Teroris

“Nah, teroris itu adalah orang yang melakukan kekerasan untuk menyebarkan rasa takut yang meluas di masyarakat dengan berlandaskan motivasi politik dan ideologi tertentu,” ucapnya.

Peserta Pengajian lainnya mengaku terkejut keheranan mendengar pernyataan mantan pelaku yang terpapar paham terorisme karena faktor keluarga. Dia mengaku benaknya sulit menerima fenomena adanya anggota keluarga yang “meracuni” saudara dengan pemikiran terorisme.

Baca juga Dialog Santri dengan Tokoh Agama di Samarinda

Merespons kegelisahan peserta, Yarif mengingatkan bahwa agama atau ayat suci tak ubahnya ibarat pisau. Akan berfungsi baik untuk memotong sayur dan buah, atau berfungsi jahat untuk melukai orang tak bersalah, tergantung di tangan siapa pisau itu. Menurutnya, itulah yang dialami oleh sebagian mantan pelaku terorisme yang telah bertobat, seperti Ali Fauzi. Mantan petinggi kelompok teroris Jemaah Islamiyah (JI) itu terpapar paham terorisme lantaran ajakan dari kakaknya yang sudah tergabung dengan gerakan teroris sebelumnya.

Seorang pengajar di Ponpes Al-Izzah, Sujud Haryanto, juga menuangkan gagasan dalam Pengajian. Ia mengharapkan para narasumber memberikan kiat untuk meluruskan pemahaman kelompok ekstremis yang sering mengutip ayat suci tentang jihad sebagai dasar untuk melakukan kekerasan.

Baca juga Wakil Ketua MUI Kukar: Tokoh Masyarakat Wajib Menjaga Perdamaian

Ustaz Yarif menanggapi permintaan tersebut dengan menyitir ayat suci yang sering disalahpahami oleh kelompok teroris. Dalam ayat yang pada intinya menyatakan bahwa siapa pun yang tidak menerapkan hukum Tuhan maka tergolong kafir tersebut, ungkap Yarif, kelompok teroris dan kelompok prokekerasan sering menggunakannya untuk menjelekkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Padahal kalau kita lihat negara kita ini sudah menerapkan konsep rahmatan lil ‘alamin. Dan, menerapkan konsep rahmatan lil ‘alamin itu juga bagian dari perintah Allah SWT,” katanya.

Sementara itu, Ustaz Hasibullah menegaskan bahwa orang atau kelompok yang menyederhanakan jihad hanya sebagai perang, harus diluruskan. Jihad dalam arti perang, ia menerangkan, memang diatur di dalam kitab suci Al-Quran namun implementasinya tidak semudah dan seserampangan seperti yang diterapkan kelompok teroris dalam aksi-aksinya.

Baca juga Menggemakan Semangat Perdamaian di Pesantren

“Jelas ayatnya, misalnya, perang itu dilegalkan kalau kita diperangi. Udzina lilladzina yuqataluna bi annahum dzulimu. Jadi, kalau kita diserang lebih dulu, kita boleh menyerang balik dengan kadar-kadar dan ketentuan yang telah manshus di dalam kitab-kitab fiqih. Apa itu? Tidak boleh melewati batas, tidak membunuh anak-anak dan perempuan,” ujar alumnus Universitas Al-Azhar Kairo itu.

Bila jernih memahami ayat tentang jihad, lanjutnya, niscaya akan didapatkan begitu banyak prasyarat yang harus dipenuhi sekelompok umat sebelum memerangi kelompok tertentu. Ajaran Islam mengizinkan umatnya berperang ketika diperangi terlebih dahulu. Itu pun tetap harus dalam koridor hukum yang berlaku, termasuk tidak memerangi warga sipil yang tidak ikut memerangi. Dalam pandangannya, itulah salah satu cara meluruskan orang yang sering seenaknya membelokkan makna ayat tentang jihad. [MLM]

Baca juga Semangat Perdamaian dalam Lirik Selawat

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...