HomeOpiniPeta Terorisme Pasca-Baghdadi

Peta Terorisme Pasca-Baghdadi

Oleh Hasibullah Satrawi
Direktur Aliansi Indonesia Damai (AIDA)

Meninggalnya Abu Bakar al-Baghdadi sebagai pemimpin Islamic State (IS) di tangan pasukan khusus Amerika Serikat (AS) beberapa waktu lalu, menghadirkan dua sisi sekaligus. Di satu sisi, kematian pimpinan tertinggi kelompok teroris paling brutal tersebut merupakan keberhasilan besar bagi negara-negara yang selama ini berjuang keras untuk memberantas jaringan terorisme.

Sementara itu, bagi kelompok IS, kematian al-Baghdadi semakin memorakporandakan keberadaan dari kelompok ini, baik dalam konteks di Suriah-Irak secara khusus maupun di dunia secara umum. Namun di sisi lain, kematian al-Baghdadi bisa menimbulkan ancaman lebih besar bagi para pihak yang selama ini berperang melawan IS.

Dikatakan demikian karena para pendukung IS hampir dipastikan akan semakin marah dan dendam kepada para pihak yang selama ini dianggap sebagai musuh, khususnya AS. Negara itu, oleh pendukung ISIS dianggap sebagai ‘pembunuh al-Baghdadi’. Dengan kata lain, kematian al-Baghdadi hampir bisa dipastikan akan mendorong para pendukung IS melakukan aksi balas dendam. Dalam jaringan terorisme, aksi ini dikenal dengan istilah serangan qisas atau aksi balasan. Terlebih lagi yang menjadi korban dari serangan tersebut merupakan pimpinan tertinggi mereka.

Baca juga “Secarius” di Abad Informasi

Dalam konteks serangan IS, sepertinya kematian al-Baghdadi tidak akan terlalu banyak berpengaruh, mengingat kelompok IS selama ini melakukan serangan dengan strategi jihad fardiy atau jihad individual yang belakangan dikenal dengan istilah lone wolf.

Berbeda dengan strategi serangan jihad tanzim (terorganisasi) yang selama ini digunakan al-Qaeda. Serangan jihad fardiy yang digunakan IS bersifat lebih liar, mengingat serangan ini bisa dilakukan siapa pun tanpa proses persiapan yang panjang. Bahkan, serangan jihad fardiy membuat aksi jihad ‘murah meriah sekaligus mudah melimpah’.

Disebut murah meriah karena serangan yang hendak dilakukan tak memerlukan pendanaan cukup besar. Hanya dengan bermodalkan pisau contohnya, pendukung IS sudah bisa melakukan serangan kepada target-targetnya. Disebut mudah melimpah karena serangan, bahkan rencana pengeboman tidak harus melalui pelatihan atau studi yang mendalam.
Akibatnya, banyak orang dari pendukung IS yang merasa bisa dan mampu untuk melakukan serangan.

Apa yang dialami mantan Menko Polhukam Wiranto beberapa waktu lalu, bisa dijadikan sebagai contoh dari apa yang telah disampaikan di atas. Serangan tersebut dilakukan hanya dengan menggunakan pisau. Namun, karena serangan tersebut dilakukan terhadap elite pemerintahan, IS justru mendapatkan panggung dan liputan sangat luar biasa. Inilah yang penulis maksud dengan aksi jihad yang bersifat murah meriah.

Baca juga Alasan di Balik Sebuah Pemberian Maaf

Dari segi bobot, serangan-serangan yang dilakukan IS dengan jihad fardiy-nya memang kalah jauh jika dibandingkan dengan bobot serangan yang dilakukan al-Qaeda dengan jihad tanzim-nya. Menurut sebagian pelakunya, Bom Bali pada 2002, contohnya, menggunakan bahan peledak tak kurang dari 1 ton dengan persiapan dan perencanaan yang nyaris sempurna, termasuk penghapusan nomor rangka mobil ataupun identitas lainnya, hingga aksi ini tidak dengan mudah dibongkar aparat yang berwenang.

Musuh kelompok

Sementara itu, serangan yang dilakukan IS hanya menggunakan pisau atau bom yang gagal meledak. Bahkan, pelakunya acap membawa identitas yang lengkap, seperti KTP atau SIM. Hingga akhirnya, aparat dengan mudah membongkar jaringan dan para pihak yang terlibat dalam jaringannya.

Bagaimana hubungan IS dengan al-Qaeda pasca meninggalnya al-Baghdadi? Inilah hal yang tak kalah menarik diperhatikan ke depan dan harus menjadi kewaspadaan bersama, khususnya aparat yang berwenang.

IS selama ini nyaris bermusuhan dengan seluruh kelompok jihad, khususnya yang berafiliasi dengan al-Qaeda. Salah satu penyebabnya ialah hal-hal yang bersifat syari (pertimbangan hukum Islam); IS dianggap terlalu mudah mengafirkan dan menghalalkan darah orang lain, termasuk umat Islam. Hingga menimbulkan korban dan kemudaratan, khususnya di kalangan umat Islam sendiri.

Baca juga Menghentikan Spiral Terorisme

Sebagai contoh, IS acap melakukan pengafiran secara ta’yin (spesifik) pada orang per orang atau jabatan demi jabatan, seperti lembaga Dewan Perwakilan Rakyat yang dianggap kafir karena dianggap merampas hak legislasi (at-tasyri’) dari Allah. Begitu juga dengan aparat keamanan maupun ASN yang dianggap sebagai pendukung anshar thaghut.

Lebih parah lagi, pengafiran ekstrem seperti di atas harus dinyatakan pendukung IS kepada mereka yang dianggap memenuhi unsur kekafiran.

Hingga pengafiran yang ada, bersifat berantai (takfir musalsal), sesuai kaidah man lam yukafir kafiran fahuwa kafirun (seseorang yang tidak mengafirkan orang kafir adalah kafir). Implementasi dari kaidah ini merupakan pengafiran berantai; orang Islam yang tidak mengafirkan orang kafir maka dihukumi kafir juga. Sementara itu, orang Islam lain yang tidak mengafirkan orang Islam yang tidak mengafirkan orang kafir, juga dianggap sebagai kafir. Dan begitu seterusnya hingga terjadi pengafiran berantai. Itu sebabnya, sebagian ahli terorisme di Indonesia menyebut IS dengan istilah JKKI (Jaringan Kopar-Kapir Indonesia).

Hal yang harus diperhatikan dalam melawan ISIS, peran yang dilakukan jaringan al-Qaeda bisa dibilang tidak kalah keras jika dibandingkan dengan peran aparat itu sendiri. Mereka tidak hanya berperang melawan IS dalam konteks wacana maupun perdebatan, tetapi juga dalam bentuk kontak fisik, sebagaimana kerap terjadi di Suriah antara pendukung IS dan pendukung al-Qaeda.

Kematian al-Baghdadi justru akan sangat berpengaruh terhadap moralitas keilmuan yang dimiliki pendukung IS. Hingga tak menutup kemungkinan, sebagian dari mereka akan bertaubat dari IS dan bergabung dengan al-Qaeda. Bila ini terjadi, hanya ada dua kemungkinan, yaitu mantan-mantan IS mengalami penurunan tingkat ekstremisme atau justru sebaliknya; al-Qaeda yang mengalami peningkatan ekstremisme.

Baca juga Melindungi Anak dari Kekerasan Terorisme

Di sinilah pentingnya peran aparat dan masyarakat luas untuk terus mendorong perubahan yang terjadi di kalangan IS yang mulai berubah atau di kalangan al-Qaeda itu sendiri. Perubahan yang ada harus didorong untuk terus semakin menguat hingga mencapai tahapan keterbukaan dan penguatan visi perdamaian sehingga semakin berkurang adanya celah-celah sosial maupun doktrinal yang dapat dijadikan pembenaran dalam melakukan aksi terorisme.

Hal lain yang tak kalah penting untuk diwaspadai dari jaringan terorisme pascameninggalnya al-Baghdadi ialah pembukaan front jihad di luar wilayah Suriah dan Irak, termasuk di wilayah Indonesia. Dengan meninggalnya al-Baghdadi, hampir pasti kelompok IS akan angkat kaki dari tanah Suriah maupun Irak. Mereka membutuhkan bumi lain untuk dijadikan sebagai pijakan jihad yang baru.

Oleh karenanya, pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk menutup celah-celah kemungkinan kelompok teroris membuka front jihad di Indonesia. Caranya ialah dengan mewujudkan keadilan dan menjaga perdamaian karena para teroris acap menjadikan isu ketidakadilan sebagai sumbu untuk memobilisasi jaringan terorisme global maupun regional.

Sementara itu, konflik internal merupakan kunci bagi pembentukan masyarakat basis, yang dalam jaringan terorisme dikenal dengan istilah miftahus shiro’ (kunci konflik). Dengan demikian, tegaknya keadilan dan terpeliharanya perdamaian ialah kunci untuk menutup pintu-pintu kebangsaan dari ancaman terorisme dan ekstremisme.

* Artikel ini telah dimuat di harian Media Indonesia edisi Sabtu, 2 November 2019

Baca juga Visi Penyelesaian Terorisme

Most Popular

5 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...