HomePilihan RedaksiMereka yang Menolak Takluk...

Mereka yang Menolak Takluk (Bag. 5)

Kehilangan sosok-sosok terkasih, terlebih yang menjadi “separuh nafas”, memang sangat menyesakkan. Apalagi akibat peristiwa terorisme, yang tentu sama sekali tak ternyana. Luka psikis yang ditimbulkan setara dengan cedera fisik parah.

Para penyintas terorisme dari lintas negara berikut berhasil sembuh dari cedera fisiknya dan atau trauma psikisnya, kendati sebagian harus mengalami disabilitas. Apa pun kondisinya, mereka menolak takluk.

Baca juga Mereka yang Menolak Takluk (Bag. 1)

Redaksi menerjemahkan dan menyarikan kisah dua puluh orang penyintas terorisme dari situs Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Cerita ketangguhan dan kebangkitan mereka akan tersaji secara berseri.

Munir Abdul Gadel (Libia)

Pada Januari 2016, bersama istri dan ketiga anaknya, Munir meninggalkan rumahnya di Ras Lanuf untuk mengunjungi kerabat di daerah sebelah, Aqila. Ketika hendak Kembali ke Ras Lanuf, mereka berhenti di pos pemeriksaan.

Tiba-tiba bom meledak. Banyak tentara penjaga gerbang langsung terkapar. Munir, istri, dan kedua anaknya, Rimas dan Rowan, mengalami cedera parah, termasuk luka bakar. Sementara anak ketiganya yang masih bayi, Mohammed, meninggal dunia. Setelah menjalani beberapa operasi medis, Munir dan keluarganya berhasil sembuh.

Baca juga Mereka yang Menolak Takluk (Bag. 2)

Dukungan dari keluarga besar membantu Munir melewati bencana tersebut. Ia didorong untuk tetap tangguh dalam menghadapi setiap kondisi buruk. Keluarga selalu menjadi ikatan yang kuat baginya. Kini Tuhan telah memberinya seorang anak lagi, yang juga diberi nama Muhammad, untuk mengenang saudaranya yang meninggal secara tidak adil.

Hawa Cisse (Mali)

Kini umurnya menginjak 21 tahun dan sedang menempuh pendidikan SMA. Ia berasal dari Timbuktu, Mali. Ketika berusia 14 tahun, tepatnya pada Juni 2012, Hawa mengalami hal yang sangat kelam. Ia diculik dan dibawa oleh kelompok bersenjata yang menduduki Kota Timbuktu menuju lokasi yang tak diketahuinya. Di tempat itulah ia dilecehkan secara seksual sebelum kemudian dibebaskan.

Baca juga Mereka yang Menolak Takluk (Bag. 3)

Hawa mengaku menjadi tangguh berkat bimbingan dan dukungan moral dari orang tuanya. Keduanya tak henti memberinya secercah harapan sejak saat itu. Ia juga menghaturkan terima kasih kepada l’Association des Victimes de la répression des mouvements armés (ADVERMA) yang juga terus mendukungnya.

Falmata Bunu (Nigeria)

Hidupnya di Kota Monguno, timur laut Nigeria, terasa tenang dan damai. Ia tinggal di rumah kecilnya bersama keluarga. Namun semuanya hancur ketika desanya diserang oleh kelompok bersenjata pada Minggu pagi, 25 Januari 2015. Falmata dijadikan tawanan. Selama 15 bulan masa penyekapan, ia dipaksa untuk menikah sebanyak 3 kali.

Baca juga Mereka yang Menolak Takluk (Bag. 4)

Ia berulangkali berupaya kabur, tetapi selalu gagal. Beruntung usahanya melarikan diri sukses sebelum kelompok teror merencanakan untuk mengirimnya dalam misi bunuh diri. Setelah dua hari di hutan, ia tiba di barak tentara di Monguno dan bertemu dengan keluarganya.

Falmata dan keluarganya tinggal di penampungan. Namun karena dianggap sebagai mantan “istri” pasukan kelompok bersenjata, Falmata merasakan ketidaknyamanan. Ia merasa tertekan dan memilih menahan diri.

Baca juga Tafakur Menyembuhkan Lukanya

Ia lantas berpartisipasi dalam jaringan dukungan untuk perempuan yang selamat dari penawanan. Hal tersebut membantunya mengatasi ketakutan dan memberanikannya untuk menuturkan kisah hidupnya. Ia berteman dengan para perempuan yang senasib dengannya untuk saling mendukung agar menjadi tangguh.

Antonio Miguel Utrera Blanco (Spanyol)

Antonio masih berstatus mahasiswa berusia 18 tahun ketika Kota Madrid “terbangun” di tengah kekacauan. 11 Maret 2004, bom meledak di empat kereta komuter. 192 orang tak bersalah meninggal dunia dan hampir 2.000 orang cedera. Ia adalah salah satu korban luka. Di sisi lain kota, teman karibnya, Angélica González, yang juga sedang melakukan perjalanan dengan kereta komuter, menjadi salah satu korban jiwa.

Baca juga Perjuangan Korban Bom Menjadi Ibu Tunggal (Bag. 1)

Antonio meninggalkan kereta seperti seorang yang berjalan sambil tidur. Sejak saat itu, masa-masa ketidakpastian muncul. Konsekuensi fisik dari serangan tersebut sangat parah: hemiplegia melumpuhkan bagian kiri tubuhnya dan telinga kanannya kehilangan pendengaran. 

Menyadari ketidakmungkinan untuk kembali ke universitas dalam waktu dekat, buku menjadi teman terbaik baginya. Kebiasaan membaca -yang biasanya dilakukan bersama Angélica- berubah menjadi sebuah obat atas ketiadaannya. Buku memberikan jalan baginya untuk menceritakan kepada mereka yang hidup dalam kebencian, bahwa mereka tidak dapat dan tak akan mampu untuk menjatuhkannya. (bersambung)

Sumber 1 Klik Disini

Sumber 2 Klik Disini

Baca juga Perjuangan Korban Bom Menjadi Ibu Tunggal (Bag. 2-Terakhir)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meluruskan Pemahaman Jihad

Aliansi Indonesia Damai- Dewasa ini masih banyak kalangan yang memahami jihad...

Berdakwah di Era Digital

Aliansi Indonesia Damai – Banyak kita temui nasehat, “Janganlah belajar agama...

Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 2-Terakhir)

Aliansi Indonesia Damai- Dari hasil pemeriksaan, dokter memutuskan Budijono harus melakukan...

Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 1)

Aliansi Indonesia Damai – Ibadat Misa Pagi di Gereja St Lidwina...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...