HomePilihan RedaksiMereka yang Menolak Takluk...

Mereka yang Menolak Takluk (Bag. 4)

Kehilangan sosok-sosok terkasih, terlebih yang menjadi “separuh nafas”, memang sangat menyesakkan. Apalagi akibat peristiwa terorisme, yang tentu sama sekali tak ternyana. Luka psikis yang ditimbulkan setara dengan cedera fisik parah.

Para penyintas terorisme dari lintas negara berikut berhasil sembuh dari cedera fisiknya dan atau trauma psikisnya, kendati sebagian harus mengalami disabilitas. Apa pun kondisinya, mereka menolak takluk.

Baca juga Mereka yang Menolak Takluk (Bag. 1)

Redaksi menerjemahkan dan menyarikan kisah dua puluh orang penyintas terorisme dari situs Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Cerita ketangguhan dan kebangkitan mereka akan tersaji secara berseri.

Sarah Tikolo (Kenya)

Kelompok teror menyerang kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat di Nairobi, Kenya, pada 7 Agustus 1998. Aksi itu merenggut nyawa suami Sarah. Dirinya yang masih berusia 20 tahun harus menyandang status janda, sementara anaknya yang masih 4 bulan menjadi yatim. Kala itu ia tak mampu berpikir bagaimana akan hidup sebagai pengangguran.

Baca juga Mereka yang Menolak Takluk (Bag. 2)

Sarah mengalami keterpurukan akibat kehilangan suami dengan cara yang sangat menyakitkan. Foto jasad suaminya yang hancur terus melekat dalam memorinya. Ia berjuang membesarkan anak tanpa sosok ayah.

Selama 22 tahun terakhir, Sarah hidup dengan rasa sakit dan kepahitan. Namun ia memilih untuk memaafkan demi menyingkirkan segala kepahitan dan kemarahan, serta melanjutkan hidupnya.

Abir ElZoghbi (Libanon)

Pada tahun 2014, putranya yang berumur 14 tahun ditembak mati oleh kelompok teroris di Tripoli, Libia. Abir sempat terpuruk karena peristiwa itu dan lebih banyak mengurung diri. Namun atas dukungan dari Asosiasi Korban Terorisme Lebanon, Abir mengikuti kegiatan dalam kelompok terapi sejak tahun 2017. Dalam sesi terapi, ia banyak bertutur tentang kisahnya. Dari situlah ia mulai “bernafas” kembali dan lukanya sembuh.

Baca juga Mereka yang Menolak Takluk (Bag. 3)

Kini Abir mencoba untuk menceritakan kisahnya ke khalayak luas, termasuk di sekolah-sekolah, di mana ia sangat menganjurkan perawatan psikologis bagi para korban terorisme.

Amaury dan Andrew Razafitrimo (Madagaskar)

Keduanya kehilangan ibu akibat aksi teror di Promenade des Anglais di Nice, Perancis, 14 Juli 2016. Kakak beradik ini sedang menyaksikan pesta kembang api bersama dengan ibu, kerabat, dan tetangganya saat serangan terjadi. Mereka melihat ibunya yang bernama Mino dan tetangganya, Yanis, terbunuh. Padahal ibunya –yang menyandang gelar Master bidang administrasi ekonomi dan sosial— baru saja mendapatkan pekerjaan tetap pertamanya di Nice.

Baca juga Tafakur Menyembuhkan Lukanya

Mino dalam bahasa Malagasi berarti keyakinan. Nama tersebut memberikan banyak harapan dan menggambarkan keinginan keluarga untuk terus maju setiap hari. Meskipun kepergian Mino begitu menyakitkan bagi Amaury dan Andrew, keduanya sangat bangga kepadanya. Perasaan yang memunculkan kebanggaan kepada diri mereka. Cintanya kepada sosok ibu membuat mereka menjadi tangguh.

Fatima Ali Haider (Pakistan)

Hingga 18 Februari 2013, hari di mana Fatima kehilangan suami dan putranya akibat serangan teroris, ia adalah ibu dari 3 anak yang mengagumkan dan figur istri bahagia dari dokter spesialis bedah mata terkenal di Pakistan. Peristiwa menyakitkan itu mengubah banyak hal dalam hidupnya.

Baca juga Perjuangan Korban Bom Menjadi Ibu Tunggal (Bag. 1)

Fatima berhasil bangkit melawan isolasi yang diciptakannya sendiri. Pada tahun 2015, ia mendirikan ‘The Grief Directory’; lembaga penghubung kasih sayang bagi para korban terorisme di Pakistan. Lembaga itu memertemukan korban kepada sumber harapan baru, demi Pakistan yang lebih aman dan lebih damai untuk generasai penerus. (bersambung)

Sumber 1 Klik Disini

Sumber 2 Klik Disini

Baca juga Perjuangan Korban Bom Menjadi Ibu Tunggal (Bag. 2-Terakhir)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meluruskan Pemahaman Jihad

Aliansi Indonesia Damai- Dewasa ini masih banyak kalangan yang memahami jihad...

Berdakwah di Era Digital

Aliansi Indonesia Damai – Banyak kita temui nasehat, “Janganlah belajar agama...

Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 2-Terakhir)

Aliansi Indonesia Damai- Dari hasil pemeriksaan, dokter memutuskan Budijono harus melakukan...

Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 1)

Aliansi Indonesia Damai – Ibadat Misa Pagi di Gereja St Lidwina...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...