HomePilihan RedaksiBenih Kedamaian dari Kasih...

Benih Kedamaian dari Kasih Sayang Keluarga

Aliansi Indonesia Damai – “Saya terkena bom, saya berlari ke arah tempat saya tinggal. Tapi kakak saya tidak terlihat. Apa dia masih hidup? Saya merasa bersalah karena tidak memedulikan perkataannya.” Muhammad Nurman Permana menuturkannya sembari menyeka air mata.

Permana, demikian sapaan akrabnya, menceritakan kisah dukanya terkena ledakan bom di kawasan Thamrin Jakarta, tahun 2016 silam. Tak hanya dia, kakaknya juga terkena ledakan saat bersamanya menyeberangi jalan MH. Thamrin. Mereka berdua selamat, namun mengalami luka parah dan membutuhkan waktu cukup lama untuk mengobati luka fisik dan trauma psikis yang dialami.

Baca juga Menepis Amarah Membangun Damai

Dua hari sebelum kejadian, Permana mengunjungi  orang tuanya di Bogor. Ia pun mengajak kakak angkatnya. Keduanya tak lama di Bogor, karena harus kembali ke Jakarta untuk bekerja. Sesampainya di Jakarta, mereka berdua langsung ke gerai penyedia layanan seluler di Plaza Sarinah. Kakaknya menuruti, meski sempat mengingatkan adiknya untuk tidak harus hari itu juga.

Setelah urusannya selesai, Permana dan kakaknya memikirkan hal aneh. “Kok Jakarta tidak terdengar berita terorisme lagi ya?” ucap Permana mengingat perkataannya kala itu. Tak lama setelahnya, ledakan cukup besar mengguncang salah satu restoran di Jalan Thamrin.

Baca juga Karena Dendam Tak Boleh Diwariskan

Mulanya kakak Permana mengira ledakan itu berasal dari tabung gas di dapur restoran. Namun Permana berpandangan berbeda. Ia yakin ledakan itu adalah serangan bom. Mereka pun tak menghiraukan dan terus menyeberangi jalan melewati pos polisi. Di samping pos polisi itu, Permana mendengar seorang polisi mengabari rekan-rekannya melalui radio bahwa telah terjadi ledakan bom.

Beberapa detik berselang, ledakan kedua terjadi tak jauh dari posisi mereka berada. Keduanya sempat terpisah karena berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Permana mencoba mencari kakaknya. Ia merasa bersalah lantaran dirinya yang mengajak kakanya untuk mengurus kartu telepon selulernya. “Saya percaya kakak masih hidup,” ujar Permana.

Baca juga Bangkit untuk Membangkitkan

Ia terus mencari sang kakak sampai lupa bahwa dirinya terluka akibat serpihan bom. Ia berusaha menelpon kakaknya namun telepon genggamnya telah berlumuran darah dan sebagian daging tangannya menempel. “Saya berusaha menelepon tapi tidak diangkat. Saya berpikir kakak saya kuat,” ujarnya untuk menguatkan hatinya saat itu.

Beberapa waktu kemudian, kakak Permana tiba-tiba muncul, tapi tatapannya kosong dan tidak bisa mendengar dengan jelas. Ia langsung mengajak Permana untuk pulang, tapi ternyata luka Permana bertambah parah. Dalam keadaan genting, tidak ada seorang pun yang menolong keduanya. Banyak orang justru sibuk merekam dan memotret mereka berdua.

Baca juga Menyembuhkan Luka Batin Anak Korban Bom

Beruntung seseorang menolong keduanya dengan mobil bajaj menuju ke Puskesmas. Oleh Puskesmas, keduanya dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Darat untuk mendapatkan perawatan intensif kurang lebih 30 hari. “Tangan saya kemasukan serpihan bom, seperti mur atau baut, kuping saya pun sangat sakit,” ucap Permana menjelaskan kondisinya setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter.

Sebulan setelah itu, ia merasa bersalah kepada kakaknya, karena tidak mendengarkan nasehatnya. Selain itu, Permana mengaku mengalami trauma cukup lama. Hingga  dua tahun setelah kejadian, ia masih takut dengan suara ledakan dan mendekati lokasi kejadian. “Saya takut melewati lokasi kejadian. Saya takut dengan orang berjenggot, berjubah, dan membawa tas besar,” ujar Permana mengingat pelaku pengeboman yang menggunakan tas ransel.

Baca juga Menjadi Pribadi Bermanfaat

Permana harus menerima kenyataan bahwa dirinya bukanlah Permana yang normal seperti sedia kala. Namun di tengah keterbatasan itu, ia mengaku ikhlas karena menaruh dendam tidak akan mengubah apa-apa.

Ia bangkit dan kembali menapaki hidup berkat dukungan dan cinta kasih dari keluarga. Dari cinta keluarga itulah ia merasakan kedamaian. Kasih sayang dan cinta keluarga adalah cara paling sederhana untuk merasakan perdamaian yang hakiki.

“Hormatilah orang tua kalian supaya timbul cinta. Maafkanlah kesalahan yang pernah orang lain lakukan kepada kita,” Permana berpesan kepada para pelajar SMAN 1 Weleri, Kendal, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

Baca juga Sosok Kecil Bermental Besar

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Asa Perempuan Tangguh Setelah 5 Tahun Bom Thamrin

Aliansi Indonesia Damai – Masih melekat dalam ingatan para korban suara...

Anakku Penguatku

Aliansi Indonesia Damai – “Saya langsung menyalakan televisi dan muncul berita...

Dampak Berlipat Korban Terorisme

Aliansi Indonesia Damai– Anggun Kartikasari mencoba mengingat kembali peristiwa pilu yang...

Berbagi Cerita Melawan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- “Saya belum siap untuk menceritakan pengalaman pilu serangan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...