HomeSuara KorbanJadi Korban Terorisme, Nanda...

Jadi Korban Terorisme, Nanda Olivia Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai – Mereka yang pernah terdampak bom aksi terorisme sesungguhnya tak pernah mengira akan menjadi korban dari sebuah ledakan. Sebagian korban tak tahu apa-apa dan tak punya persoalan pribadi dengan pelakunya. Boleh jadi mereka sekadar lewat di lokasi kejadian atau kebetulan tengah menaiki transportasi umum. Namun akibat dari ledakan bom, tak sedikit dari korbannya mengalami luka serius, kehilangan anggota tubuh, bahkan harus menjalani pengobatan bertahun-tahun lamanya.

Derita yang lebih berat tentu saja dirasakan keluarga korban yang kehilangan nyawa. Apalagi jika korban adalah tulang punggung keluarga. Bayangkan, sejumlah korban tak langsung harus membesarkan anak-anaknya seorang diri, mencari nafkah untuk kehidupan sendiri, hingga menjadi ibu sekaligus bapak bagi anak-anaknya.

Meskipun demikian, tak sedikit pula penyintas yang bangkit dari keterpurukan dan memilih menjalani hidup dengan rasa optimisme. Salah satu kuncinya adalah berdamai dengan diri sendiri dan menerima seluruh kejadiaan sebagai takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Baca juga Sarbini Tak Menyerah dari Musibah

Cara ini dipraktikkan oleh salah seorang penyintas Bom Kuningan 2004, Nanda Olivia. Meski peristiwa kelam itu terjadi satu setengah dekade lalu, bagi dia seolah baru terjadi kemarin. Perempuan berhijab inipun masih teringat jelas bagaimana ledakan itu memporak-porandakan lokasi di sekitar gedung Kedutaan Besar Australia, Kuningan Jakarta Selatan.

Gendang Telinga Robek

Pada 9 September 2004, pagi menjelang siang sekitar pukul 10.00 WIB, Nanda Olivia tidak merasakan firasat buruk sama sekali. Waktu itu ia berstatus sebagai mahasiswa sekaligus seorang ibu.

Ketika itu, Nanda berangkat menuju kampus dengan menggunakan transportasi umum (bus kopaja) untuk menyelesaikan tugas akhir. Ketika bus yang dia tumpangi berada di sekitar Kedubes Australia, tiba-tiba guncangan besar terjadi setelah sebuah mobil box yang melintas tiba-tiba meledak.

Baca juga Ketabahan Ramdhani Di Balik Musibah Bom Kuningan

“Saya di dalam bus kopaja. Mobil itu hampir mendekati halte, saya bersiap-siap turun. Lalu tiba-tiba bom itu meledak, padahal jarak antara bus dan lokasi ledakan sekitar 300 meter,” ungkap Nanda.

Meski berada dalam posisi yang tidak begitu dekat, sekitar 300 meter dari pusat ledakan, tetapi para penumpang bus merasakan dampaknya. Kabut asap mengudara, hawa panas menyebar dan suara bising menelusup memasuki gendang telinga. Serpihan benda beterbangan dan sebagian menembus bodi bus.

”Saya tidak begitu ingat. Saya hanya mendengar suara mendesing yang membuat telinga sakit. Saya juga kehilangan tulang di ibu jari dan gendang telinga sobek karena pengaruh suara mendesing. Ada luka sobek di bahu,” papar Nanda.

Sesaat setelah peristiwa, Nanda pergi ke rumah sakit. Bukan hanya memikirkan kondisi luka di tubuhnya, dia resah dan khawatir terhadap masa depan anak-anaknya. Dia pun berdoa, berharap luka yang dideritanya tak sampai membuat nyawanya melayang.

Baca juga Kisah Penyintas Mengikis Kebencian

”Saya sangat khawatir. Saya khawatir anak saya akan menjadi yatim.” Nanda bercerita dengan suara parau menahan isak tangis.

Selama dirawat di rumah sakit, Nanda berusaha terlihat tegar di depan ibunya. ”Saya berangkat ke rumah sakit sendiri. Sampai di rumah sakit saya tidak pernah mengetahui kenapa harus menjadi korban. Saya dirawat di rumah sakit selama sebulan. Ibu sering terlihat sedih jika melihat kondisi saya. Saya tidak ingin memperlihatkan kesedihan kepada ibu,” kisah Nanda sambil terisak-isak.

Sebulan setelah pengobatan, kondisi Nanda belum juga mengalami perubahan yang berarti. Dia kemudian diterbangkan ke Australia untuk mendapatkan pengobatan intensif. Utamanya untuk mendapatkan tindakan lanjut penyembuhan tangan. ”Di sana saya mendapatkan terapi, dan trauma healing. Setiap hari berobat, terapi, pulang begitu tiap hari untuk melakukan pemulihan,” ungkapnya.

Pada saat menjalani pengobatan, Nanda mendapatkan kunjungan dan dukungan dari teman-teman dan keluarganya. Sehingga secara perlahan membuatnya bangkit dari rasa sedih dan sakit, serta dari musibah yang dialaminya. ”Karena mereka saya mendapatkan energi positif untuk bangkit,” tuturnya.

Nanda Olivia berbagi kisah dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 7 Surakarta.

Memaafkan Pelaku

Terhitung setelah sepuluh tahun, yakni sejak 2004 sampai 2015, Nanda merasa bahwa dirinya telah baik-baik saja. Namun peristiwa bersejarah dalam kehidupannya terjadi. Tanpa disangka, dia bertemu mantan pelaku terorisme.

Nanda mengaku marah. Namun berkat kebesaran hatinya, dia lebih memilih memaafkan setelah pelaku meminta maaf dan berkeinginan tulus untuk bertobat dari jalan kekerasan. ”Saya tidak ada masalah lagi dengan kondisi fisik dan psikis saya. Sampai satu hari saya bertemu dengan adik Amrozi, Ali Fauzi,” tutur Nanda di hadapan para siswa SMAN 7 Surakarta beberapa waktu lalu.

Sebagai manusia biasa, sudah sewajarnya seseorang akan merasakan marah, bahkan bisa saja berniat membalas apa yang telah diperbuat pelaku kepada korbannya. Namun Nanda berpikir bahwa kamarahan tak akan menyelesaikan masalah. ”Kemarahan tidak akan membuat teman-teman saya dan tangisan ibu dari anak kecil itu yang telah meninggal kembali lagi. Akhirnya, saya tekankan dalam diri saya bahwa harus belajar memaafkan. Bukan karena orang lain, tetapi karena diri saya. Saya memaafkan diri saya untuk ikhlas, sadar dan bangkit,” tuturnya.

Nanda menyadari, apapun yang dia lakukan tidak akan mengembalikan masa lalu. Akan tetapi berdamai dengan diri sendiri dan memaafkan orang lain membuat dirinya tegar dan kuat. Nanda ingin menatap masa depan dengan rasa lapang di dalam dada.

Baca juga Sudjarwo Bangkit Kembali Merajut Mimpi

”Saya memaafkan diri saya sendiri dan berdamai dengan masa lalu, ikhlas. Bukan untuk Mas Ali Fauzi, atau orang lain. Akan tetapi untuk kehidupan saya supaya saya bisa menjalani kehidupan ini dengan lebih baik lagi kedepan,” tutur Nanda.

Bersama AIDA, kini Nanda menjadi duta perdamaian dengan berbagi kisah kehidupannya kepada masyarakat. Semua itu dia lakukan semata-mata agar orang lain lebih memperhatikan dampak dari aksi kekerasan dan menyadari betapa perdamaian begitu mahal harganya.

Nanda pun sudah bertemu dengan sejumlah mantan pelaku yang telah bertobat. Baginya, tidak ada orang yang sepenuhnya salah. Akan tetapi, bagi mereka yang mampu meminta maaf dan memberikan maaf terhadap orang yang pernah berbuat salah, maka ialah pemenangnya. ”Pesan saya akhirnya, jangan membalas kekerasan dengan kekerasan,” pungkasnya.

Baca juga Tiga Kisah Kebangkitan Penyintas

Most Popular

3 COMMENTS

Leave a Reply to Nanda Olivia, Perempuan Tangguh Korban Terorisme | ALIANSI INDONESIA DAMAI - AIDA Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mengelola Amarah

Setiap orang tentu pernah mengalami hal yang tidak disukai dalam kehidupannya,...

Dakwah Islamiyah untuk Perdamaian

Oleh Fahmi SuhudiAlumni PP Darussunnah Ciputat Dakwah merupakan salah satu fondasi dalam...

Beragama dengan Aman

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak suku dan budaya yang berbeda...

Mengarifi Konflik

Agama bisa menjadi sumber inspirasi membangun perdamaian. Ia mengajarkan banyak nilai...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...