HomePilihan RedaksiInspirasi Pemaafan Penyintas

Inspirasi Pemaafan Penyintas

Meskipun disakiti, saya tetap berusaha memaafkan para pelaku. Anggap saja itu ujian yang harus saya terima.

Aliansi Indonesia Damai- Pernyataan itu disampaikan Josuwa Ramos, penyintas bom Kuningan 2004, ketika berbagi kisah kepada puluhan mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu secara virtual, medio April lalu. Josuwa, sapaan akrabnya, menceritakan pengalaman berharga yang tak mungkin ia lupakan sepanjang hidupnya.

Menurut penuturannya, sebagai manusia biasa mulanya ia sempat membenci pelaku dan merasa marah luar biasa. Namun waktu berkata lain, perlahan ia mulai membuka diri dan menerima semua kejadian yang telah berlalu. Ia mengaku tidak lagi memendam dendam, malahan tidak segan memberikan maaf kepada pihak yang menyakitinya, bahkan nyaris menghilangkan nyawanya.

Baca juga Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 1)

Saat kejadian, Josuwa merupakan petugas keamanan yang tengah berjaga-jaga di sekitar lokasi kantor ia bekerja. Tanpa dinyana, ledakan bom besar mengguncang sampai meruntuhkan kaca-kaca bangunan di sekitar kejadian. Sebagian dari teman-temannya luka parah dan sebagian lain meninggal dunia.

Josuwa merasa bersyukur lantaran masih diberikan kesempatan hidup oleh yang Mahakuasa. “Bom sebesar itu kok saya masih diberikan selamat, saya sangat bersyukur,” kata Josuwa sembari mengingat-ingat peristiwa belasan tahun lalu itu.

Baca juga Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 2-Terakhir)

Akibat ledakan, ia mengalami cedera serius, terutama di bagian kakinya. “Kaki saya membengkak, paha sampai betis ukurannya sama. Rasanya panas sekali. Ternyata masih ada serpihan bom dalam tubuh saya. Engsel kaki  baru dapat operasi kecil lagi, selaput ligamennya sudah rusak. Harus disuntik cairan sampai operasi lagi-operasi lagi,” ucapnya.

Meski harus mengalami penderitaan yang luar biasa, Joshua merasa masih beruntung dibandingkan dengan nasib teman-teman lainnya. Sebagian dari mereka harus dirawat bertahun-tahun di luar negeri, dan sebagian yang lainnya tak tertolong lagi nyawanya. “Ada teman-teman saya yang merasakan dampak ledakan lebih besar. Ada yang kehilangan mata, sambil beliau memegang matanya di sebelah kiri,” ujarnya.

Baca juga Penyintas Bom Thamrin Melawan Trauma (Bag. 1)

Setelah mengalami perawatan bertahun-tahun, Josuwa memang sudah kembali beraktivitas lagi. Namun, fungsi organ tubuhnya tak sepenuhnya berfungsi normal seperti sediakala. Ia pun memilih memperdalam pengetahuan tentang ajaran-ajaran agama. Ia juga mengaku terinspirasi dari kisah Nabi Muhammad SAW sebagai seorang pemaaf yang mampu memaafkan kesalahan orang lain sekaligus berhasil menghadapi ujian demi ujian berat dalam sejarah kehidupannya.

Saat ini, Josuwa sudah kembali bekerja di bagian pusat operasional sekuriti Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Dalam beberapa tahun terakhir, Josuwa juga aktif dan turut terlibat dalam kampanye-kampanye pembangunan perdamaian bagi kalangan muda Indonesia. Kepada generasi muda ia selalu berpesan, “Jangan membalas kekerasan dengan kekerasan.”

Baca juga Penyintas Bom Thamrin Melawan Trauma (Bag. 2-Terakhir)

Josuwa meyaki bahwa memaafkan merupakan sikap yang amat mulia dalam ajaran agama Islam. Nabi pun selalu mencontohkan, seberat dan sepedih apapun manusia mengalami dampak buruk dari perbuatan orang lain, ajaran agama Islam tetap menganjurkan setiap hambanya untuk melapangkan dada terhadap kesalahan-kesalahan di antara sesamanya.

Baca juga Kebangkitan dan Ikhtiar Memaafkan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mengelola Amarah

Setiap orang tentu pernah mengalami hal yang tidak disukai dalam kehidupannya,...

Dakwah Islamiyah untuk Perdamaian

Oleh Fahmi SuhudiAlumni PP Darussunnah Ciputat Dakwah merupakan salah satu fondasi dalam...

Beragama dengan Aman

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak suku dan budaya yang berbeda...

Mengarifi Konflik

Agama bisa menjadi sumber inspirasi membangun perdamaian. Ia mengajarkan banyak nilai...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....