HomePilihan RedaksiSejarah sebagai “Guru” Peradaban

Sejarah sebagai “Guru” Peradaban

Aliansi Indonesia Damai- Seorang bijak pasti akan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan, termasuk sejarah orang-orang terdahulu. Dalam khazanah Islam ada banyak hikayat hidup, baik bernilai positif maupun negatif. Keduanya sama-sama bermanfaat untuk bisa diikuti dan dihindari. Sejarah juga dapat diadopsi menjadi norma kebudayaan. Tentu harus disesuaikan dengan realitas masa kini (cultural turn).

Sebagai contoh adalah pengalaman Hayati Eka Laksmi, salah seorang korban Bom Bali tahun 2002. Suaminya menjadi korban meninggal pada peristiwa nahas tersebut. Eka menceritakan bagaimana kondisi hidup memaksanya menjadi orang tua tunggal bagi dua anaknya. Situasi itu ia rasakan sangat berat, terutama bagi anak pertamanya yang masih berusia 3,5 tahun dan sebelumnya sangat dekat dengan sosok mendiang bapaknya.

Baca juga Berdamai dengan Masa Lalu

Anak pertamanya bernama Alif. Meskipun masih kecil tapi tampak sangat terpukul. Dia sempat tidak memercayai ayahnya telah meninggal dunia dan jenazahnya terbakar. “Waktu itu Alif marahnya luar biasa,” ujar Eka dalam salah satu kegiatan bersama AIDA. Hal tersebut membuat Eka semakin sedih, selain dirinya yang masih sangat shock karena ditinggal oleh suaminya.

Eka harus memikirkan cara agar kondisi psikis anaknya tidak memburuk karena sempat memiliki dendam kepada teroris. Alif sempat bercita-cita menjadi polisi agar bisa membalas apa yang menimpa bapaknya. Eka khawatir anaknya terus memendam trauma. “Karena kebencian tidak mungkin untuk terus dipelihara, karena itu akan membuat saya menjadi sakit. Akhirnya saya membuat rancangan yang lebih baik ke depan untuk anak-anak saya,” tutur Eka.

Baca juga Kala Penyintas Bom Memerjuangkan Hak Asuh

Berbekal ilmu yang dimiliki sebagai seorang guru, Eka mencoba membuat anaknya lebih tenang dari amarah dalam hatinya, lebih nyaman dengan kondisinya. Setelah sedikit tenang, Eka mulai menanamkan nilai-nilai positif dari kisah hidup Nabi Muhammad SAW. Ia mengajarkan bahwa Nabi Muhammad tidak mengajarkan umatnya memelihara dendam. Bahwa Islam mengajarkan untuk saling memaafkan sesama manusia.

Eka mengisahkan bahwa Nabi Muhammad pernah mengalami peristiwa yang menyakitkan; diludahi, dihina, dan juga mengalami kekerasan fisik, namun Nabi tidak membalas atas apa yang menimpanya. Eka menambahkan bahwa sifat dendam dan amarah tidak akan mengembalikan ayahnya kembali. “Kata kuncinya adalah tidak membalas kekerasan dengan kekerasan,” ujar Eka.

Baca juga Bangkit Karena Rasa Tanggung Jawab (Bagian I)

Metode bertutur dengan bahan sejarah masa lampau terbukti efektif dalam mendidik anak. Eka menyadari bahwa ia harus memutus rantai dendam. Akan tetapi proses yang dijalankan oleh Eka ini tidak singkat. “Butuh waktu tidak setahun dua tahun, belasan tahun saya menjalani itu,” katanya.

Sejak masih usia balita, Eka mencoba menenangkan hati anaknya sampai ia menginjak usia SMP. Setelah itu baru ia menanamkan dan mendidik dengan contoh sejarah Nabi Muhammad SAW. Hasilnya terbukti efektif. Alif sekarang sudah bisa memaafkan dan menerima kenyataan atas apa yang menimpa bapaknya.Banyak pelajaran yang bisa diambil dari sejarah. Dalam Islam, kisah-kisah perang memang tidak perlu dihapuskan, namun ada kisah lain yang lebih beradab yaitu pemaafan. Kisah-kisah pemaafan dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran yang secara universal diakui sebagai nilai kehidupan yang mulia. Kisah pemaafan bukan sekadar dongeng namun harus menjadi memori kolektif bersama.

Baca juga Bangkit Karena Rasa Tanggung Jawab (Bagian II)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 2-Terakhir)

Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto telah melewati 30 tahun...

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 1)

Namanya Arif Siswanto. Salah satu aktor penting dalam pembubaran Jamaah Islamiyah...

Penyintas Bom Bali 2002 Bertutur

Pulau Dewata merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara....

Penyimpangan Pemahaman Agama Kelompok Ekstrem (Bagian 2- Selesai)

Mukhtar menjelaskan setiap aksi atau amaliyat yang dilakukan kelompok ekstrem mengandung...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...