HomeInspirasiAspirasi DamaiKeterbatasan Akal Memahami Musibah

Keterbatasan Akal Memahami Musibah

Adalah kewajiban meyakini bahwa semua yang terjadi pada makhluk tidak lepas dari kehendak-Nya. Salah satu kehendak Allah adalah takdir baik dan buruk. Hampir tidak ada yang mengingkari takdir yang bersifat baik. Artinya setiap kebaikan yang datang pasti setiap manusia mengatakan hal tersebut adalah takdir atau kehendak-Nya. Sebaliknya, ada beberapa orang yang belum yakin atau menanyakan takdir buruk.

Membaca keburukan dalam konsep takdir harus dilihat dari dua sisi. Pertama, Allah memang sengaja mengizinkan keburukan terjadi di alam ini, misalnya bencana, penyakit, kemiskinan, kesengsaraan, atau bahkan kejahatan. Allah menciptakan iblis, Firaun, dan lainnya sebagai sosok makhluk keburukan. Kedua, di balik keburukan tersebut pasti ada hikmah yang juga sengaja Allah kehendaki. Artinya tetap ada kebaikan di baliknya. Itulah yang disebut hikmah.

Baca juga Apologi Takdir: Memahami Penyintas Bom dalam Rukun Iman (Bag.1)

Sebagian hikmah bisa diterima dengan akal. Namun sebagian tidak bisa dibaca hanya dengan akal melainkan dengan iman atau keyakinan. Mungkin sebagian orang masih sering berucap ketika ditimpa musibah dengan sebuah pertanyaan, “Mengapa ini terjadi pada saya? padahal saya sudah berbuat baik?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab dengan keimanan kuat. Sebagai contoh yang dialami oleh Mulyono, korban Bom Kuningan tahun 2004. Ia mengalami luka sangat serius akibat ledakan tersebut. Rahangnya hancur sehingga harus dioperasi berkali-kali.

Baca juga Apologi Takdir: Menjadi Korban Bukan Keniscayaan (Bag.2-Terakhir)

Mulyono harus merasakan sakit yang luar biasa karena dokter mengambil tulang pahanya untuk dicangkok menjadi rahang baru. Operasi pertama gagal, karena konstruksi rahangnya terlalu berat. Tak ayal harus dilakukan operasi kembali untuk merekonstruksi agar lebih seimbang. Rasa sakit yang Mulyono alami saat dan setelah operasi membuatnya hampir putus asa. Bahkan ia sempat sampai pada titik menyalahkan Allah atas apa yang terjadi. Pasalnya ia merasa tidak pernah melanggar larangan-Nya.

Dalam konteks tersebut, pada akhirnya akal dan indera manusia memiliki keterbatasan dalam memahami takdir Allah. Untuk itu takdir merupakan sesuatu yang tidak ada satu makhluk pun yang mengetahuinya, bahkan nabi dan malaikat sekali pun.

Baca juga Urgensi Ukhuwwah dan Bahaya Perpecahan

Karena hal tersebut, ada beberapa manfaat mengimani takdir baik ataupun buruk. Jika seseorang diberikan kenikmatan maka dilarang sombong, sebab semua adalah ketentuan-Nya. Sebaliknya jika yang datang adalah musibah, maka jangan terlalu bersedih apalagi sampai putus asa, karena itu telah tercatat di lauhul mahfudz, bahkan sebelum manusia diciptakan. Dan yang terpenting pasti ada hikmah di balik itu.

Perlahan Mulyono mulai menyadari bahwa semua yang terjadi pada dirinya adalah kehendak Allah. Ia akhirnya selalu bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup dan selalu berusaha istiqamah menjalankan ibadah kepada Allah. Apa yang dialami oleh Mulyono bisa menjadi pelajaran bahwa dalam menjalani hidup, terutama ketika mendapatkan keburukan, seperti musibah atau yang lainnya, membutuhkan keimanan yang sesungguhnya. Keyakinan kuat bahwa Allah selalu menghendaki kebaikan saat akal memiliki keterbatasan dalam memahami takdir. Wallahu a’lam.

Baca juga Mengimani Takdir

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 2-Terakhir)

Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto telah melewati 30 tahun...

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 1)

Namanya Arif Siswanto. Salah satu aktor penting dalam pembubaran Jamaah Islamiyah...

Penyintas Bom Bali 2002 Bertutur

Pulau Dewata merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara....

Penyimpangan Pemahaman Agama Kelompok Ekstrem (Bagian 2- Selesai)

Mukhtar menjelaskan setiap aksi atau amaliyat yang dilakukan kelompok ekstrem mengandung...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....