HomeInspirasiAspirasi DamaiApologi Takdir: Memahami Penyintas...

Apologi Takdir: Memahami Penyintas Bom dalam Rukun Iman (Bag.1)

Setiap muslim harus mengimani enam rukun. Dari mulai iman kepada Allah SWT sampai iman kepada qadha dan qadar atau secara umum disebut dengan takdir. Takdir diambil dari kata qadar yang bermakna ketentuan. Bahwa Allah SWT telah menentukan segala sesuatu tentang makhluk-Nya dari awal sebelum diciptakan sampai akhir setelah diciptakan, baik yang ada di bumi atau di langit.

Ketetapan takdir ini juga memiliki tahapan-tahapan yang harus diimani dan dipahami. Pertama, bahwa Allah SWT memiliki pengetahuan atas apa yang ditetapkan sebelum dan sesudah mencipta. Dalam beberapa istilah disebut ‘ilmullah as sabiq yaitu ilmu Allah mendahului penciptaan-Nya. Allah jelas mempunyai tujuan saat menciptakan setiap makhluk, tidak sekadar asal menciptakan.

Baca juga Urgensi Ukhuwwah dan Bahaya Perpecahan

Kedua, ilmu yang berkaitan tentang makhluk tersebut dicatat di lauhul mahfudz. Yang perlu dipahami adalah bahwa catatan tersebut tidak akan berubah, sebagaimana keterangan Nabi SAW “Pena telah diangkat dan lembaran catatan telah kering.”

Ketiga, takdir adalah kehendak Allah. Tidak ada yang keluar dari kehendak-Nya, baik itu yang bersifat baik atau buruk. Namun yang harus dipahami, sesuatu yang buruk tersebut adalah sebagai hikmah dan pelajaran bagi manusia itu sendiri. Sebagai contoh, Allah menciptakan bencana. Meskipun bersifat kerusakan namun ada pelajaran di baliknya, yaitu agar manusia merasakan apa yang telah diperbuatnya dan tidak mengulanginya lagi.

Baca juga Mengimani Takdir

Keempat, setelah berkehendak maka Allah pun menciptakan makhluk-Nya sesuai kehendak. Misalnya Allah menciptakan manusia dan semua yang ada di dalamnya, termasuk jasad, ruh, kemampuan, dan lainnya. Tidak ada yang keluar sedikit pun selain dari rencana-Nya.

Dalam konteks takdir tersebut, manusia juga memiliki kehendak, tapi tidak dipaksakan. Sebagai contoh manusia memiliki kehendak untuk makan ataupun tidak, mempunyai pilihan untuk taat ataupun tidak, semua bebas dengan pilihannya masing-masing. Namun kehendak manusia tersebut tetap di bawah kehendak Allah. Selain itu manusia juga mempunyai qudroh atau kemampuan, tapi tetap di bawah kemampuan Allah. Sebagai contoh manusia berkeinginan sehat. Namun jika Allah berkehendak sakit, maka manusia tidak bisa berbuat apa pun.

Baca juga Ketangguhan Penyintas Bom Kuningan, Ram Mahdi Maulana: dari Amarah Menuju Pemaafan

Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana menempatkan peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh kelompok ekstremis dan berakibat buruk terhadap korban sebagai sebuah takdir? Banyak peristiwa kekerasan seperti pengeboman atau penembakan yang terjadi di Indonesia berdampak pada korban tak bersalah.

Di sini akan digambarkan salah satu contohnya yaitu Iswanto Kasman, korban Bom Kuningan 2004. Pria asli Wonogiri Jawa Tengah ini menderita cedera parah di sekujur tubuhnya, salah satunya di mata kanannya. Serpihan yang menancap merusak mata kanannya. Walhasil ia harus menjadi disabilitas karena bola matanya harus diangkat. Selain Iswanto, masih banyak kisah korban lain yang perlu diperhatikan. Banyak anak kehilangan orang tua, istri kehilangan suami, dan lainnya.

Baca juga 16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Atas segala penderitaan yang dialaminya, Iswanto memang sempat marah terhadap para pelaku pengeboman. Namun seiring waktu, ia menyadari bahwa kemarahan itu justru membuatnya bertambah sakit. Perlahan ia berusaha ikhlas menerima musibah yang menimpanya sebagai takdir Allah dan bersyukur karena masih bisa menggunakan mata kirinya.

Lantas bagaimana para pelaku terorisme menyikapi musibah yang menimpa korban-korban tak bersalah itu? Penulis akan membahasnya di seri berikutnya. (Bersambung)

Baca juga Tangis Ketangguhan Penyintas

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 2-Terakhir)

Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto telah melewati 30 tahun...

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 1)

Namanya Arif Siswanto. Salah satu aktor penting dalam pembubaran Jamaah Islamiyah...

Penyintas Bom Bali 2002 Bertutur

Pulau Dewata merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara....

Penyimpangan Pemahaman Agama Kelompok Ekstrem (Bagian 2- Selesai)

Mukhtar menjelaskan setiap aksi atau amaliyat yang dilakukan kelompok ekstrem mengandung...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...