HomeInspirasiAspirasi DamaiDisonansi Memicu Koreksi Bag....

Disonansi Memicu Koreksi Bag. 1

Perubahan dalam diri bisa dipicu oleh apa pun. Termasuk pada diri mantan narapidana terorisme. Sebut saja namanya Fulan. Rekam jejaknya di jaringan ekstremisme kekerasan cukup mentereng. Ia dua kali menjalani hukuman penjara karena kasus yang sama: terorisme. Perannya pun tak sembarangan. Karena memiliki religious credential, Fulan diposisikan sebagai ustaz yang sangat dihormati di kalangan ekstremis.

Pertobatan Fulan berawal saat mendekam di Lapas. Untuk mengisi banyak waktu luang, Fulan membaca pelbagai buku yang tersedia, salah satunya La Tay’as; Jangan Putus Asa, karya Hasibullah Satrawi. Buku itu berisi refleksi penulis atas perjumpaannya dengan mantan pelaku terorisme dan korbannya.

Baca juga Mengikhlaskan Masa Lalu

Fulan mengaku membaca buku tersebut berulang kali. Ia menyerap betul maksud buku tersebut, sehingga mulai mengkritisi paham yang diyakininya. Buku itu cukup mengubah cara berpikirnya. Perubahannya semakin menguat saat AIDA memfasilitasinya untuk bertemu langsung dengan korban terorisme.

Pertemuan itu membuatnya semakin menyadari bahwa aksi kekerasan atas nama jihad yang dilakukan kelompoknya dulu adalah kekeliruan, karena menzalimi orang-orang tak bersalah. Padahal niat awalnya justru membantu umat Islam yang terzalimi. Faktanya kelompok Fulan justru melakukan tindakan zalim.

Baca juga Berdamai dalam Kemacetan

Fulan membayangkan, jika keluarganya yang menjadi korban terorisme pasti hatinya meronta-ronta dan bakal merasakan kesakitan yang panjang, bahkan bisa jadi tidak sekuat korban yang dijumpainya. Kini Fulan aktif mengampanyekan perdamaian sebagai upaya menebus atau memperbaiki apa yang dilakukannya di masa lalu. Ia berharap hal itu dapat meringankan bebannya di akhirat kelak.

Refleksi internal

Buku adalah susunan argumentasi logis yang ditawarkan oleh penulis kepada pembaca. Argumentasi tersebut dapat memantik persepsi pembaca tentang sesuatu yang mungkin terjadi dan tidak.

Bruner, salah satu ahli psikologi yang mengembangkan Teori Persepsi (1957), menyatakan, keputusan menyediakan satu proses untuk berdiskusi internal dalam diri manusia tentang koreksi perilaku/pemahaman yang salah. Proses koreksi tersebut akan melewati tahap mengumpulkan semua informasi, mengelompokkan informasi yang diperoleh, hingga melakukan konfirmasi tentang apa yang sudah dilakukan atau dipahami sebelum mengambil sebuah keputusan.

Baca juga Kebersihan Sebagian dari Perdamaian

Dalam pengalaman Fulan, apa yang diterimanya melalui buku adalah informasi yang bertolak belakang dengan apa yang sudah ia percayai. Banyaknya kisah korban yang diceritakan dalam buku, penyesalan mantan pelaku ekstremisme akibat perbuatannya masa lalu, hingga perspektif yang berbeda dengan kelompoknya membuat Fulan memiliki pandangan baru bahwa kekerasan yang dilakukan meski dengan tujuan yang mulia adalah kekeliruan.

Perubahan Fulan jika dilihat dari teori disonansi kognitif (dissonance theory) merupakan hasil dari ketidaknyamanan dalam dirinya (mental discomfort) karena dihadapkan pada informasi baru atau informasi yang bertentangan dengan keyakinannya. Keadaan tidak nyaman ini disebut dengan disonansi.

Baca juga Berpikir Damai sejak Dini

Mengapa hal ini terjadi? karena proses indoktrinasi ekstremisme jarang mengedepankan nalar kritis, melainkan terkesan sangat feodalistik. Secara garis besar mantan pelaku ekstrem mengalami perubahan karena faktor self correction atau self deradicalization, bukan karena dorongan dari luar kelompoknya, tetapi murni karena pencarian sendiri.

Perubahan tersebut karena adanya dialog, baik dengan individu yang memiliki paham berbeda ataupun melalui dialog dengan konsep berbeda melalui bacaan. Hal ini menghasilkan disonansi kognitif yang mendorong orang berpikir ulang terhadap sesuatu yang sebelumnya mereka anggap negatif atau positif atau bahkan tidak terpikir sama sekali.

Baca juga Menjauhi Ranah Kekerasan

Puncaknya, semua hal yang Fulan baca terkonfirmasi dengan perjumpaannya dengan penyintas terorisme. Narasi yang utuh membuat ideologinya runtuh. Jihadnya untuk membalas kezaliman kepada umat Islam ternyata justru menzalimi sesama muslim. Cara jihadnya ternyata jahat. Perubahan dalam diri Fulan merupakan bentuk self-correction. Seseorang menyadari kesalahan dan langsung menyesuaikan dirinya untuk memperbaiki semua aspek kepribadian yang buruk agar dapat diterima secara sosial. (Bersambung)

Baca juga Tips Menghindari Pertengkaran di Medsos

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....