HomePilihan RedaksiKeikhlasan Meredakan Derita (Bag....

Keikhlasan Meredakan Derita (Bag. 2)

Upaya Budijono untuk mencari pengobatan ternyata juga tak mudah. Ia dilarikan ke RS Queen Latifa yang lokasinya tak jauh dari gereja. Tetapi sesampainya di sana, pihak rumah sakit menyatakan tidak sanggup menangani cedera Budijono. Artinya luka Budijono memang sangat parah.

Ia dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar, yaitu RS Akademik UGM. Barulah Budijono mendapatkan perawatan atas lukanya. Tim medis langsung membersihkan luka menganga di kepala dan lehernya. Tindakan selebihnya baru bisa dilakukan setelah ada hasil pemeriksaan CT scan. Dokter ingin memastikan tidak ada pendarahan otak. Budiono bersyukur, hasil CT scan menunjukkan tidak ada keretakan tengkorak kepala maupun pendarahan otak.

Baca juga Keikhlasan Meredakan Derita (Bag. 1)

Saat masa kritis, Budijono justru tidak terlalu merasakan sakit. Bahkan ketika kepala dan lehernya dijahit, Budijono bisa menahannya. Namun setelah tiga hari, Budijono merasakan sakit yang luar biasa. Perban yang melekat di kepala dan leher membuatnya harus tidur telungkup selama tiga hari tiga malam.

Dampaknya tidak berhenti di situ. Sepuluh hari kemudian, luka di bagian kepala mengalami infeksi. Walhasil dokter harus kembali mengambil tindakan membuang kulit dan daging kepala yang membusuk. Setelah itu, dokter menarik kulit kepada Budijono dari arah kiri dan kanan untuk menutupi bagian yang dibuang itu. Saat itulah ia merasakan sakit yang teramat sangat, jauh melebihi sakit sebelumnya.

Baca juga Pasang Surut Kehidupan Penyintas

Dampak selanjutnya yang dialami Budijono adalah trauma. Kejadian itu betul-betul menyerang psikisnya. Budijono tidak nyaman melihat keramaian. Untuk keluar dari mobil saja, Budijono menunggu sampai 10 menit untuk memastikan situasi aman. Anaknya pun juga mengalami trauma. Ia selalu menangis ketika dibawa ke gereja.

Budijono sempat memendam amarah terhadap pelaku. Ia sempat dipertemukan dengan pelaku saat rekonstruksi ulang kejadian. Jarak di antara mereka tak lebih dari 2 meter. Ingin rasanya Budijono menghajar pelaku yang telah melukainya. Namun, psikolog pendamping sigap menenangkannya. Berkat bantuan psikolog dan komunitas gereja, sedikit demi sedikit Budijono mampu mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Budijono perlahan mengikis dendam di hatinya, agar kondisi fisik dan mentalnya tidak memburuk.

Baca juga Ikhlas Menerima Suratan Takdir

Puncak keikhlasan Budijono adalah saat ia bertemu dengan mantan pelaku terorisme. Tidak semua orang sanggup melakukan tatap muka dengan orang atau kelompok yang menjadi alasan dirinya menjadi korban, meskipun mantan pelaku yang ditemui mungkin tidak terlibat langsung. Budijono adalah satu dari sekian banyak korban yang berhasil menekan dendam dan kebenciannya. (bersambung).

Baca juga Menepis Dendam Mengikis Trauma (Bag. 1)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....