HomePilihan RedaksiTrauma dan Rasa Sakitnya

Trauma dan Rasa Sakitnya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada pena dan tinta yang mampu menggambarkan luka batin maka mata pun tidak akan sanggup melihatnya. Jika ada obat yang bisa diresepkan untuk menyembuhkannya, entah sebanyak dan selama apa obat itu mesti dikonsumsi.

Menatap luka batin bak melihat luka fisik tanpa bisa menyentuhnya atau seperti menyaksikan sebuah tragedi mengerikan tanpa bisa menolongnya, meskipun rasanya sangat ingin menjadi pahlawan. Luka batin sangat rumit dan tidak sesederhana diksinya. Jenisnya pun amat sangat beragam, tapi rasa sakitnya tak cukup digambarkan hanya dengan kisah yang didengar atau visual yang dilihat. Sebab sumber luka batin sangat sulit ditelusuri dan diidentifikasi.

Baca juga Melawan Ketakutan demi Masa Depan

Ada luka yang tumbuh sejak kecil lalu terpatri. Tanpa disadari, luka itu terasa lebih menyakitkan saat diingatkan oleh orang lain ketika beranjak dewasa. Bertahun-tahun lamanya pemilik luka batin menganggap dirinya baik-baik saja. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Ada pula luka batin yang dipicu oleh tragedi saat dewasa. Merasa sudah punya kapasitas, pemilik luka berusaha mengatasi dengan cara mengabaikan dan menyembunyikannya saat rasa sakit mulai mereda. Hidupnya terus berjalan bertahun-tahun lamanya, seolah ia baik-baik saja, sampai tiba muncul pemantik yang mengorek luka itu.

Baca juga Kesabaran Tak Bertepi Penyintas Bom

Keduanya seperti bom waktu yang setiap saat bisa meledak. Bagi yang tidak mengerti akar persoalannya, ledakan itu mungkin dianggap sebagai keganjilan.

Bulan Cristanti, penyintas Bom Kuningan tahun 2004 yang saya kenal di awal tahun 2023. Ia baru bergabung dengan komunitas penyintas bom, Yayasan Penyintas Indonesa (YPI), dan kemudian mengikuti kegiatan kampanye perdamaian bersama AIDA. Nama Bulan ditemukan pengurus YPI, Nanda Olivia, yang juga penyintas Bom Kuningan, melalui dokumentasi salah satu surat kabar yang memberitakan peristiwa Bom Kuningan 2004.

Ke mana Bulan Cristanti selama 19 tahun?

Ia tidak ke mana–mana. Tetap berdomisili di rumah yang ditinggalinya sejak sebelum tragedi. Hanya saja setelah peristiwa pengeboman di depan kantor Kedubes Australia pada 9 September 2004 itu, Bulan berusaha menyembuhkan luka fisik dan luka batin secara mandiri tanpa sempat teridentifikasi sebagai korban.

Seperti korban serangan teror pada umumnya, yang menjadi perhatian utama adalah apa yang terlihat di depan mata, yaitu luka fisik. Bulan fokus terhadap pemulihan fisiknya. Luka yang mengering dan jahitan-jahitan bekas operasi yang tak lagi terasa sakit meskipun meninggalkan bekas.

Baca juga Keikhlasan Meredakan Derita (Bag. 1)

Bulan mengabaikan luka batinnya hingga 19 tahun lamanya. Padahal itu bisa teridentifikasi dari rasa takutnya melintasi kawasan Jalan Rasuna Said Jakarta Selatan, titik serangan bom yang melukainya. Ia mengalami kecemasan berlebih ketika mendengar suara dentuman, juga tidak sanggup melihat luka robek dan darah yang menetes.

Tapi semua indikasi itu diabaikannya. Ia menghindari segala hal yang berkaitan dengan tragedi. Caranya dengan berusaha menguatkan diri dan “mengunci” luka batin itu di sebuah ruang tanpa sekali pun menengoknya lagi. “Kunci” ruangan pun dibuang entah ke mana agar Bulan bisa melanjutkan hidup tanpa merasakan sakit.

Baca juga Keikhlasan Meredakan Derita (Bag. 2)

Selama bertahun-tahun, hidup Bulan berjalan seolah tanpa beban dan bayang–bayang tragedi masa lampau. Tapi Bulan lupa jika ruang itu bisa saja terbuka lagi jika ”kuncinya” ditemukan atau terdobrak oleh hal yang tidak diinginkan. Faktor terakhir akan lebih menyakitkan.

Setelah 19 tahun berlalu, ruang trauma itu terbuka karena ”kunci” yang ditemukan, yaitu bertemu dengan sesama penyintas terorisme, berbagi cerita, dan saling menguatkan melalui kegiatan AIDA. Awalnya seperti ledakan emosi yang tidak terbendung. Ceritanya pun urung terungkap, yang ada hanya tangis kesal dan rasa sakit dalam hati yang sulit diungkapkan, hingga fisik pun terdampak.

Baca juga Keikhlasan Meredakan Derita (Bag. Terakhir)

Dalam beberapa hari kegiatan AIDA, aku berusaha mendampinginya untuk berbagi cerita dari sudut berbeda dan kemudian saling menguatkan. Perlahan Bulan mulai bisa menyelesaikan kisahnya. Ia seperti dianugerahi kekuatan meski rasa sakit di hati terus mendesak, pun tangis tidak henti mengalir hingga akhir kegiatan.

Jika kita tidak tahu tentang luka itu, maka menjaga sikap adalah bagian dari kepedulian yang berarti. Tapi jika kita tahu tentang luka itu, maka memahami adalah bagian dari solusi sebelum melibatkan diri untuk menolong jiwa yang mungkin rasanya hampir mati. [LH]

Baca juga Pasang Surut Kehidupan Penyintas

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mensyukuri “Hidup Kedua”

Aliansi Indonesia Damai- Menjadi korban bom tentu tidak seorang pun menginginkannya....

Merajut Hubungan Menggenggam Harapan (Bag. 2-Terakhir)

Aliansi Indonesia Damai- Suwarni berupaya menjalani hari demi hari tanpa mengeluh....

Merajut Hubungan Menggenggam Harapan (Bag. 1)

Aliansi indonesia Damai- “Saya sekarang agak tenang, Mbak, karena bisa kenal...

Tidak Larut dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Agus Kurnia, penyintas bom Thamrin 14 Januari 2016, mengaku sejak menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, dirinya memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan dan kemarahan. Menurutnya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti semula. Pada 14 Januari 2016, Agus...

Santri Belajar Perdamaian dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Aliansi Indonesia Damai- “Perasaan saya setelah mengikuti kegiatan ini bangga. Bangga kenapa? Bangga karena tidak ikut-ikutan jadi teroris.” Seorang santri Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten menyampaikan kesan tersebut saat mengikuti Pengajian & Diskusi dengan tema ‘Menyerap Ibroh dari Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme’ beberapa waktu lalu. Dalam...

Pentingnya Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Berdamai dengan diri sendiri merupakan hal yang sangat penting karena apabila tidak bisa berdamai dengan diri sendiri maka tidak akan bisa berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan. Pernyataan tersebut disampaikan penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama...

Substansiasi Hijrah

Abd Rohim Ghazali, Senior Fellow Maarif Institute Artikel ini berasal dari mediaindonesia.com yang terbit pada 19 Juni 2026 MUHARAM kembali hadir. Seperti biasa, media sosial pun dipenuhi narasi tentang meninggalkan kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih baik. Komunitas-komunitas keagamaan mengajak masyarakat memperbarui komitmen spiritual mereka. Fenomena itu tentu menggembirakan. Itu...

Membalas Kekerasan dengan Kasih

Aliansi Indonesia Damai- Meski kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga, namun Ni Luh Erniati, penyintas bom Bali 2002, tidak ingin membalas dendam kepada pelaku/mantan pelaku terorisme. Ia pun tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam...

Dukungan Sesama Korban Membantu Kebangkitan

Aliansi Indonesia Damai- Tasdik Saputra, penyintas Bom Kampung Melayu 2017, mengaku dukungan dari sesama korban terorisme sangat besar pengaruhnya bagi proses kebangkitan dirinya. Menurut dia dukungan sesama korban telah menguatkan dirinya untuk tidak terus larut dalam trauma, mampu bangkit dari keterpurukan, bahkan bisa memaafkan mantan pelaku terorisme. “Awalnya...

Pendidikan Kekalahan

Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Juni 2026 Dalam perkembangan dunia pendidikan sekarang, pelajar yang berprestasi bukan hanya pelajar yang tinggi nilai akademiknya. Pelajar yang punya catatan juara juga layak disebut pelajar berprestasi. Catatan juara ini...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...