HomeOpiniMembangun Damai Berbasis Kearifan...

Membangun Damai Berbasis Kearifan Lokal (Bag. I): Kesadaran tentang Keberagaman

Oleh: Linda Astri Dwi Wulandari
Alumni Magister Kajian Tradisi Lisan Universitas Indonesia

“Kita terlalu banyak belajar teori-teori mewah hingga seringkali melupakan jati diri bangsa”

Kalimat provokatif itu dilontarkan dosen di hari pertama perkuliahan S2. Saya ingat betul kuliah hari itu hanya dihadiri oleh tiga orang mahasiswa. Jurusan kami memang hanya diisi tiga orang, dua orang mahasiswa doktoral dan saya adalah satu-satunya mahasiswa magister. Perkataan dosen itu cukup menjelaskan mengapa dari Sabang-Merauke hanya tiga orang yang mau mendengarnya berceramah tiap hari di kelas kami.

Jurusan kami yang berfokus mengkaji tradisi seringkali hanya dianggap mengurusi hal-hal berbau klenik, kuno, dan lawas yang cenderung konservatif dan tidak mutakhir. Di luar sana, orang-orang lebih suka belajar dan mendalami teori-teori impor dari luar negeri. Banyak dari kita lupa untuk belajar mengenali diri kita sendiri.

Baca juga Korban Terorisme (Tak) Menunggu Godot

“Bagaimana kita bisa mencintai, tanpa lebih dulu mengenali?” Begitu  kalimat selanjutnya. Dua kalimat di awal pertemuan itu adalah bahan bakar yang mampu membuat saya semakin jatuh hati belajar tentang tradisi-tradisi di pelosok negeri. Bhinneka Tunggal Ika sudah selayaknya tidak hanya menjadi semboyan. Bagaimana mungkin bersatu dalam perbedaan tanpa saling mengenal?

Kita adalah bangsa yang beruntung. Keragaman kultur adalah anugerah yang sepatutnya menjadi potensi besar negeri kita. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010,  ada 1.331  kelompok suku di Indonesia. Badan Bahasa juga telah memverifikasi 652 bahasa daerah di negeri ini. Bisa dibayangkan betapa kayanya bangsa kita dengan budaya dan tradisi. Semboyan kebinekaan seharusnya mampu disadari secara penuh bahwa kita memang terlahir dengan pelbagai perbedaan, maka tak ada satu pun yang bisa memaksakan kita untuk menjadi seragam.

Baca juga Memuliakan Rumah Ibadah

Sayangnya, kita lebih sering diributkan dengan perbedaan daripada upaya untuk saling mengenal dan menggenggam. Keragaman di Indonesia selama ini justru dianggap sebagai sumber konflik sosial panjang yang tak berkesudahan. Dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, masalah yang timbul dalam keberagaman masyarakat, antara lain, timbulnya pertentangan antarbudaya, kecemburuan sosial, sentimen kedaerahan, serta perubahan nilai-nilai budaya akibat globalisasi.

Pada tahun 2015, Tempo melansir setidaknya ada tiga konflik besar di tanah air yang dinilai bersumber karena perbedaan budaya, yaitu Tragedi Sampit (konflik Dayak- Madura pada tahun 2001), konflik komunal di Ambon, Maluku tahun  1999, serta kerusuhan 1998 yang banyak menyerang etnis Tionghoa.

Baca juga Salahuddin al-Ayubi: Panglima Tempur Pencinta Damai

Setiap konflik memerlukan penyelesaian yang sering disebut dengan resolusi konflik. Dalam penyelesaian konflik-konflik sosial di Indonesia, para elit acapkali luput untuk melibatkan masyarakat setempat. Padahal, masyarakat sebetulnya memiliki kemampuan untuk mengatasinya jika berkaca pada “kearifan lokal” atau nilai-nilai tradisi yang mereka miliki. Irwan Abdullah dkk (2008) menyatakan bahwa kearifan lokal berperan penting dalam menjaga kelangsungan dinamika masyarakat termasuk mengantisipasi bahaya yang mengancam.

Memberdayakan kearifan  lokal merupakan upaya pendekatan budaya dalam menyelesaikan konflik dan membangun perdamaian. Dengan menggunakan kearifan lokal, kita mampu menyentuh akar permasalahan dan menemukan rumusan penyelesaian konflik sesuai dengan akar budaya dan karakter masing-masing komunitas, lebih dari itu melestarikan perdamaian.

Baca juga Momentum Pemenuhan Hak Korban Terorisme

Menurut John Haba sebagaimana dikutip oleh  Irwan Abdullah (2008), kearifan lokal mengacu  pada  kekayaan  budaya  yang  tumbuh dan berkembang dalam sebuah  masyarakat yang dikenal, dipercayai, dan diakui sebagai  elemen-elemen penting  yang mampu  memertebal kohesi sosial di antara kelompok masyarakat. Ada enam signifikansi dan fungsi kearifan  lokal jika dimanfaatkan dalam  resolusi  konflik.

Pertama, sebagai  penanda  identitas komunitas. Kedua, elemen perekat (aspek kohesif) lintas warga, lintas agama, dan lintas kepercayaan. Ketiga kearifan lokal tidak bersifat memaksa tetapi lebih merupakan kesadaran dari  dalam. Keempat, kearifan  lokal  memberi warna kebersamaan sebuah  komunitas.

Kelima, kemampuan local wisdom dalam mengubah pola pikir dan hubungan timbal balik individu dan kelompok dan meletakkannya di atas common ground. Keenam, kearifan  lokal dapat mendorong proses  apresiasi, partisipasi sekaligus meminimalkan anasir yang merusak solidaritas dan integrasi komunitas.

Baca juga Pandemi Covid-19 dan Tafsir Dukhan

Sayangnya, pelbagai kearifan  lokal  di negeri  ini masih membutuhkan apresiasi dan penguatan dari para elit agar dapat bekerja dengan baik. Bagaimanapun juga, tanpa inisiasi dan kolaborasi antara para elit dengan pimpinan masyarakat tradisional, kearifan  lokal ini tidak dapat berfungsi secara maksimal. Saya percaya bahwa tidak ada satu pun ajaran nenek moyang bangsa yang mengajarkan kita untuk memerangi perbedaan. Pun demikian halnya dengan agama dan kepercayaan yang selalu mengajarkan cinta kasih tanpa kekerasan.

Tentu kepercayaan saya ini tidak muncul begitu saja. Perjalanan mempelajari tradisi cukup membuat pengetahuan saya terbuka untuk mengenali nilai-nilai arif yang bersumber pada keluhuran bangsa di masa lampau yang seharusnya terus dipegang teguh.

Dari Sabang hingga Merauke, kita memiliki kearifan lokal yang mengakar pada perdamaian dan persaudaraan. Saya yakin kearifan lokal yang bersumber pada nilai-nilai tradisi mampu menjadi terobosan untuk menyelesaikan konflik-konflik sosial dan membangun perdamaian di negeri ini. (bersambung)

Baca juga Puasa dan Makna Jihad

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenggal Kisah Penyintas Bom Thamrin, Deni Mahieu: Mensyukuri Kesempatan Hidup Kedua

Enam tahun telah berlalu. Awal tahun 2016 menjadi kenangan suram bagi...

Refleksi Hari Ibu: Perempuan, Kasih Sayang dan Perdamaian

Oleh Linda Astri Dwi WulandariAsisten Program Manager Rehabilitasi AIDA Momentum Hari Ibu,...

Kisah Inspiratif Korban Bom Bali 2002 I Gede Budiarta: Bangkit Melawan Trauma untuk Menggapai Kepercayaan Diri

Aliansi Indonesia Damai - Terorisme selalu lekat dengan kehilangan, kehancuran, dan...

16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Hari ini, tepat 16 tahun yang lalu, Indonesia berduka. Tiga serangan...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....