HomeOpiniKemenangan Sejati Korban Terorisme

Kemenangan Sejati Korban Terorisme

Oleh: Novi
Mahasiswi Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

Berbagai serangan terorisme yang terjadi di belahan dunia, termasuk  Indonesia, dilakukan untuk menciptakan ketakutan masyarakat. Serangan tidak bisa diprediksi secara pasti kapan dan di mana akan terjadi. Siapa pun berpotensi menjadi korbannya. Bila tidak menjadi perhatian serius, ancaman terorisme dapat menimbulkan perasaan tidak aman publik serta menyisakan dampak yang berkepanjangan bagi korban yang terdampak dari aksi itu.

Dalam artikel The Bali Bombing: Impact on Indonesia and South Asia yang dipublikasikan Hudson Institute, Arabinda Acharya menyatakan bahwa Asia Tenggara menjadi front kedua dalam jihad global, termasuk di dalamnya adalah Indonesia. Pascaperistiwa 9/11, tercatat sekitar 400 serangan teror terjadi di Indonesia. Ratusan serangan itu telah menimbulkan banyak dampak bagi para korbannya, baik dampak secara fisik, psikis, sosial, dan bahkan ekonomi.

Baca juga Korban Terorisme (Tak) Menunggu Godot

Dampak fisik yang dimaksud adalah banyaknya korban meninggal dan yang mengalami luka-luka, baik korban langsung maupun tidak langsung. Salah satu korban yang terkena dampak fisik dari peristiwa Bom Bali 2 adalah Ni Kadek Ardani yang terkena ledakan bom di Pantai Jimbaran Bali tahun 2005 silam. Ia harus menjalani operasi pengambilan gotri dalam tubuhnya serta luka-luka yang diakibatkan ledakan dahsyat itu.

Tidak hanya fisik, psikis korban juga terdampak akibat serangan tersebut. Di antara luka psikis itu antara lain merasa takut ketika mendengar suara-suara kencang dan trauma ketika melihat orang menggunakan atribut keagamaan. Salah seorang korban yang mengalaminya adalah Nyoman Pasirini. Sampai sekarang ia masih trauma akan letusan kembang api, takut terhadap orang yang menggunakan ransel dan jaket, serta teriakan takbir.

Baca juga Membangun Damai Berbasis Kearifan Lokal (Bag. I): Kesadaran tentang Keberagaman

Media massa juga memberikan pengaruh bagi psikis masyarakat luas. Akibat pemberitaan yang cenderung memprioritaskan pelakunya dan minim pemberitaan berperspektif korban, maka masyarakat cenderung tak peduli pada nasib korban. Dampaknya yang muncul adalah ketakutan-ketakutan, bukan rasa empati dan solidaritas kepada korbannya.

Adapun dampak ekonomi yang bisa kita lihat secara kasat mata dari aksi-aksi terorisme adalah anjloknya pariwisata. Kita lihat akibat bom Bali. Sektor pariwisata di sana anjlok drastis. Padahal Pulau Dewata memiliki ketergantungan yang cukup besar secara ekonomi kepada sektor ini.

Pemaafan sebagai kemenangan

Menariknya sejumlah korban yang terdampak langsung aksi terorisme justru memilih memaafkan pelakunya. Hal itu dilakukan semata-mata untuk merelakan semua yang terjadi. “Saya tidak pernah sakit hati ataupun dendam, karena itu semua tidak akan mengembalikan suami saya. Saya fokus untuk menghidupi anak-anak saya,” papar Wartini, seorang korban tidak langsung serangan teror di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 16 tahun silam.

Baca juga Membangun Damai Berbasis Kearifan Lokal (Bag. II): Satu Tungku Tiga Batu Papua

Kita belajar dari korban bahwa pemaafan adalah kunci bagi terwujudnya perdamaian. Bayangkan apabila para korban memilih mendendam, apalagi bila diwariskan turun-temurun, maka rantai kebencian akan terus tersambung. Perasaan adanya ketidakadilan berpotensi dibalas dengan tindak ketidakadilan serupa.

Jiwa besar pemaafan korban sesungguhnya selaras dengan nilai-nilai dalam ajaran agama. Semua agama mengajarkan umatnya untuk menebar kebaikan dan menganjurkan untuk memaafkan kesalahan orang lain. Dalam Islam, Allah meminta umatnya untuk menjadi pribadi yang pemaaf, tidak mendendam.

Baca juga Memuliakan Rumah Ibadah

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)

Pemaafan juga tertuang dalam Alkitab Efesus 4:31-32, yang menyatakan bahwa kita harus ramah kepada orang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah yang selalu mengampuni umatnya.

Baca juga Salahuddin al-Ayubi: Panglima Tempur Pencinta Damai

Dengan modal pemaafan ini, sejatinya para korban telah meraih kemenangan sejati. Kemenangan itu adalah ketika seseorang mampu melawan kegagalan. Ketika keadaan buruk menimpa hingga membuat kita pilu, luka, dan derita, maka jiwa pemenang sejati adalah bangkit, ikhlas dan menghadapi semua ujian itu dengan jiwa yang besar. Sekali lagi pemaafan korban telah mencerminkan mereka sebagai pemenang sejati.

Diterima Masyarakat

Pemaafan tidak hanya menjadikan keterpurukan sirna dan melahirkan perdamaian. Lebih dari itu, pemaafan korban juga telah membantu para mantan teroris bertobat dan berbaur dengan masyarakat. Untuk mewujudkan hal itu tentu diperlukan pula peran dan kerjasama antara lembaga pemerintah, organisasi sosial, dan tokoh masyarakat agar mantan teroris yang insaf bisa diterima kembali oleh masyarakat.

Baca juga Momentum Pemenuhan Hak Korban Terorisme

Menerima pertobatan mantan pelaku terorisme akan mengubur masa kelamnya sehingga mereka bisa menjadi agen perdamaian. Mereka bisa memberikan pengalaman kisah hidupnya yang pernah tersesat dalam kelompok ekstrem. Dengan mengetahui langsung dari sumbernya, masyarakat dapat menyadari bahwa bahaya terorisme bisa mengancam siapa saja, tak pandang bulu. Muaranya, meskipun perlahan perdamaian akan terjaga.

Baca juga Pandemi Covid-19 dan Tafsir Dukhan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Asa Perempuan Tangguh Setelah 5 Tahun Bom Thamrin

Aliansi Indonesia Damai – Masih melekat dalam ingatan para korban suara...

Anakku Penguatku

Aliansi Indonesia Damai – “Saya langsung menyalakan televisi dan muncul berita...

Dampak Berlipat Korban Terorisme

Aliansi Indonesia Damai– Anggun Kartikasari mencoba mengingat kembali peristiwa pilu yang...

Berbagi Cerita Melawan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- “Saya belum siap untuk menceritakan pengalaman pilu serangan...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...