HomeOpiniNalar Kritis Benteng Ekstremisme

Nalar Kritis Benteng Ekstremisme

Oleh: Faruq Arjuna Hendroy
Sarjana Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah

Dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 30-33, Allah berkisah tentang penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi dalam sosok seorang nabi bernama Adam AS. Sempat ada ‘protes’ dari golongan malaikat saat itu. Para malaikat khawatir jika Allah menjadikan manusia sebagai khalifah, mereka hanya akan menimbulkan kerusakan dan pertumpahan darah di muka bumi.

Akan tetapi, Allah tidak menciptakan sesuatu tanpa alasan, karena Dialah Zat yang Maha Mengetahui apa yang tidak diketahui oleh hamba-Nya. Allah titipkan akal dan pengetahuan kepada Adam AS yang mampu membuatnya menyebutkan semua nama benda yang ditunjuk oleh Allah, sehingga para malaikat pun akhirnya mengakui dan tunduk di hadapan Adam AS.

Baca juga Tradisi Bermaafan Cikal Perdamaian

Kisah tersebut membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna. Dengan statusnya sebagai khalifah, manusia diamanati tugas untuk mengelola bumi dan seisinya. Tentu untuk mengemban amanah sebesar itu bukan perkara yang mudah. Agar mampu menunaikan tugas tersebut, Allah menganugerahi manusia akal pikiran yang membedakan mereka dengan makhluk lainnya.

Akal telah berperan sebagai perangkat yang memberikan sumbangsih peradaban dalam sejarah umat manusia. Di samping itu, akal juga berfungsi menuntun manusia dalam membedakan antara yang baik dan yang buruk. Sebelum melakukan sesuatu, manusia selazimnya menggunakan akalnya untuk menimbang apakah perbuatannya itu memberikan maslahat atau justru mudarat.

Baca juga Idulfitri Tak Kenal Pandemi

Pemanfaatan akal secara maksimal adalah refleksi dari nalar kritis. Pribadi-pribadi yang memiliki nalar kritis tidak puas hanya menerima informasi dari satu sisi, melainkan menyaringnya dari berbagai sumber, menimbang opsi terbaik yang paling banyak manfaatnya dan paling sedikit mudaratnya, barulah kemudian mengambil sebuah keputusan. Prinsip kehati-hatian dalam bertindak menjadi prioritas utama bagi mereka yang bernalar kritis.

Bagaimanapun, kerusakan di muka bumi tetap terjadi akibat ulah tangan sebagian manusia. Ini disebabkan oleh nalar kritis yang sudah mulai tumpul sehingga tanpa pikir panjang melakukan kerusakan demi kerusakan. Bukannya mengedepankan prinsip kehati-hatian, mereka justru membiarkan keegoisan dan keserakahan yang lebih dominan mengontrol diri. Mengenyampingkan fakta bahwa kerusakan yang mereka lakukan berdampak luas bagi yang lain.

Baca juga Kemenangan Sejati Korban Terorisme

Skenario ini sedikit banyaknya sesuai dengan pengalaman mantan pelaku terorisme di masa lalu. Kisah Kurnia Widodo misalnya. Mantan narapidana terorisme ini mengatakan bahwa dulu ia hanya belajar dari satu sumber yang terus-menerus menyesaki pikirannya dengan propaganda kekerasan. Alhasil, bertahun-tahun ia terjerumus dalam berbagai aksi kekerasan, tanpa pernah sekalipun memikirkan dampak dari perbuatan tersebut bagi korban.

Hal serupa juga dialami oleh Ali Fauzi, mantan pelaku terorisme lainnya. Ia berkecimpung dalam dunia kekerasan selama bertahun-tahun. Ia juga sempat aktif melatih penggunaan senjata dan perakitan bom di kelompoknya. Saat itu, ia meyakini bahwa apa yang dilakukannya sudah pasti benar. Sama seperti Kurnia Widodo, tak pernah tebersit dalam pikirannya bahwa praktik kekerasan yang ia lakukan atau pun ilmu persenjataan yang ia wariskan kepada murid-muridnya akan melukai banyak korban.

Baca juga Membangun Damai Berbasis Kearifan Lokal (Bag. I): Kesadaran tentang Keberagaman

Setelah dipertemukan dengan korban dan melihat sendiri penderitaan yang dirasakan korban, barulah keduanya mulai berpikir ulang. Mereka merenung apakah perjuangan mereka selama ini benar-benar berada di atas jalan kebenaran, atau justru sebaliknya, hanya merugikan orang-orang yang tidak bersalah. Puncak dari perenungan itu adalah kedua mantan pelaku akhirnya meminta maaf kepada korban dan berjanji meninggalkan jalan kekerasan.

Andai saja para mantan pelaku bernalar kritis sejak awal, tentu tidak perlu ada aksi kekerasan dan jatuhnya banyak korban. Mereka akan sebisa mungkin meninggalkan aksi kekerasan yang jelas-jelas tidak mendatangkan manfaat sedikit pun. Toh dengan aksi kekerasan, cita-cita mereka tidak tercapai juga. Yang ada citra kelompok mereka semakin tercoreng. Sebuah kerugian yang tidak hanya menimpa orang lain, melainkan juga diri sendiri.

Baca juga Membangun Damai Berbasis Kearifan Lokal (Bag. II): Satu Tungku Tiga Batu Papua

Oleh karenanya, hendaklah kita selalu bernalar dan bersikap kritis terhadap informasi atau pemikiran yang menjurus kepada kekerasan. Sebab, tidaklah Allah memberikan manusia akal melainkan untuk memakmurkan bumi. Kekerasan hanya akan membawa kesengsaran di muka bumi dan bertentangan dengan pesan Sang Ilahi.

Baca juga Korban Terorisme (Tak) Menunggu Godot

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...