HomeInspirasiAspirasi DamaiHabitus Perdamaian: Belajar dari...

Habitus Perdamaian: Belajar dari Penyintas (Bag 2)

Dalam hidup, tujuan yang ingin dicapai seseorang pastilah sesuai dengan habitus yang dijalaninya. Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, habitus dan tujuan hidup bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, yaitu antara kebiasaan dan praktik sosial. Selain itu habitus juga dipahami sebagai dasar kehidupan individu. Secara sadar seseorang melakukan perbuatan yang menurut dia baik atau buruk dan dilakukan secara terus menerus sehingga menjadi kebiasaan.

Kesadaran tersebut akan terinternalisasi dalam kehidupan di masyarakat. Contoh sederhananya adalah kebiasaan seseorang makan menggunakan tangan kanan yang dilakukan sejak kecil hingga dewasa. Kebiasaan tersebut secara otomatis telah terinternalisasi dalam dirinya. Termasuk dalam menciptakan perdamaian. Salah satu habitus yang harus dilakukan adalah memaafkan dan menghindari kekerasan.

Baca juga Habitus Perdamaian: Belajar Dari Penyintas (Bag. 1)

Pentingnya memaafkan sebagai habitus untuk menciptakan perdamaian bisa dilihat dari kisah korban Bom Bali 2002, Hayati Eka Laksmi. Ia kehilangan suaminya lantaran menjadi korban Bom di Pulau Dewata pada Oktober 2002 silam. Akibat peristiwa tersebut, Eka dan anak-anaknya yang masih kecil harus menerima dampak buruk, trauma berkepanjangan, dan masalah ekonomi di mana ia harus memenuhi kebutuhan anaknya seorang diri.

Atas saran teman-temannya, Eka harus menjalani konseling untuk mengurangi beban yang dia rasakan, juga agar anak-anaknya selalu kuat menghadapi kepergian ayahnya. “Karena anak-anak, ibu bangkit. Kalau ibu rapuh, anak-anak akan rapuh, siapa yang akan merawatnya, yang akan mengurusnya? Kalau ibu kuat, anak-anak Ibu pasti akan kuat. Ibu harus menyelamatkan masa depan anak-anak.” Demikian tutur Eka saat berkisah di hadapan para pelajar yang mengikuti salah satu kegiatan AIDA.

Baca juga Karena Mantan Ekstremis Bukan Joker

Anak pertamanya juga sempat memiliki dendam kepada teroris dan bercita-cita menjadi polisi agar bisa membalas apa yang terjadi kepada bapaknya. Sebagai ibu, ia prihatin terhadap anaknya yang turut mengalami trauma terpendam. Khawatir akan memperparah kehidupannya, maka Eka menanamkan nilai-nilai positif kepada anak-anaknya. Eka berusaha memaafkan pelaku meskipun dengan proses yang tidak instan. Dia merasa harus memaafkan terlebih dahulu sebelum membuat anaknya mengikis dendam kepada para teroris.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Eka adalah perjuangannya untuk memutus rantai kekerasan agar tidak berlanjut kepada anak-anaknya. Dalam teori habitus, Eka menampilkan dirinya (appearance) sebagai sosok yang menanamkan pentingnya perdamaian dengan kebiasaan menghindari kekerasan.

Baca juga Reintegrasi Sosial Mantan Ekstremis

Dalam Islam, terminologi kekerasan memang tidak mungkin dihilangkan karena termaktub dalam Al-Quran dan hadis. Namun harus dilihat bahwa ada teks selanjutnya yang lebih beradab, yaitu memaafkan sehingga tidak perlu terjadi kekerasan itu sendiri.

Habitus tersebut berbuah manis, Eka cukup kaget ketika anak salah satu pelaku terorisme datang ke rumah dan meminta maaf kepada anak pertamanya. Dia sempat khawatir dendam yang dimiliki keduanya akan menimbulkan pertikaian besar. Namun, apa yang terjadi justru sebaliknya. Mereka saling berjabat tangan dan memaafkan.

Baca juga Mencari Titik-Titik Persamaan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 2-Terakhir)

Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto telah melewati 30 tahun...

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 1)

Namanya Arif Siswanto. Salah satu aktor penting dalam pembubaran Jamaah Islamiyah...

Penyintas Bom Bali 2002 Bertutur

Pulau Dewata merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara....

Penyimpangan Pemahaman Agama Kelompok Ekstrem (Bagian 2- Selesai)

Mukhtar menjelaskan setiap aksi atau amaliyat yang dilakukan kelompok ekstrem mengandung...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...