HomeInspirasiAspirasi DamaiMengenal Simbol-Simbol Perdamaian

Mengenal Simbol-Simbol Perdamaian

Berbicara tentang perdamaian, kita sering disuguhkan dengan beberapa simbol yang merepresentasikannya. Mungkin yang paling familiar adalah simbol V. Dua tangan, yaitu jari telunjuk dan tengah, dibuat menyerupai huruf V, lalu bersamaan dengan pose itu, diucapkan kata ‘peace’ yang berarti perdamaian. Simbol sederhana ini sering kita temui dalam pergaulan sehari-hari.

Tapi, tahukah kamu bahwa simbol perdamaian itu sebenarnya cukup banyak? Dalam sejarahnya, ada beberapa simbol perdamaian yang bentuknya berbeda-beda, tapi pada dasarnya tetap menyerukan pentingnya perdamaian. Artikel ini akan merangkum sejumlah simbol perdamaian dari waktu ke waktu untuk menambah khazanah pengetahuan pembaca.

Baca juga Membaca Ayat-Ayat Kauniyah Perdamaian

Pertama, simbol burung merpati yang membawa cabang zaitun di paruhnya. Simbol ini berakar dari ajaran Yudaisme dan Kristen. Dikisahkan, setelah terjadinya bencana banjir masa Nabi Nuh AS yang menenggelamkan kehidupan bumi, seekor burung merpati muncul membawa cabang zaitun yang dianggap sebagai tanda kehidupan. Setelah kemunculan burung merpati itu, banjir bandang pun berakhir. Sejak saat itu burung merpati dengan cabang pohon zaitun menjadi simbol perdamaian dalam diskursus politik maupun sosial hingga saat ini.

Selanjutnya ada simbol pelucutan nuklir. Simbol ini berbentuk lingkaran. Dalam lingkaran tersebut terdapat satu garis yang berbentuk vertikal dan dua garis serong ke bawah di kedua sisi (kiri dan kanan). Simbol ini disuarakan oleh komunitas antiperang yang melihat dunia semakin tidak aman sejak negara-negara di dunia berlomba-lomba menciptakan senjata nuklir.

Baca juga Belajar Menghargai Hidup dari Penyintas Bom

Dilansir dari hipwee.com, simbol ini tercetus pertama kali pada sebuah aksi demonstrasi bertema Campaign for Nuclear Disarmament (CND) pada April 1958 di Inggris. Mereka memprotes penggunaan senjata-senjata pemusnah massal oleh pasukan militer dalam rangka perang. Protes yang berlangsung selama empat hari ini meletakkan dasar yang tegas bagi perdamaian dunia dari ancaman nuklir. Simbol pelucutan nuklir ini dibuat oleh seniman bernama Gerald Holtom, dan dijadikan sebagai salah satu simbol perdamaian dunia hingga saat ini.

Dampak nuklir memang luar biasa destruktif. Warga Hiroshima dan Nagasaki telah merasakan dampaknya. Kisah hidup mereka yang selamat dari nuklir ini turut menginspirasi lahirnya simbol perdamaian baru. Sadako Sasaki, penyintas bom nuklir Hiroshima, mengidap leukimia karena terpapar oleh radiasi nuklir yang berbahaya.

Baca juga Keterbatasan Akal Memahami Musibah

Untuk menghabiskan sisa hidupnya, Sasaki membuat origami burung bangau. Dalam cerita rakyat Jepang, siapa pun yang bisa memproduksi 1000 origami burung bangau, maka semua harapannya akan terkabul. Sasaki tidak bisa menyelesaikan misinya. Setelah membuat 644 origami, ia akhirnya berpulang di usia 12 tahun. Kisah hidupnya menginspirasi masyarakat Jepang untuk menjadikan origami burung bangau sebagai simbol perdamaian di Jepang.

Simbol perdamaian selanjutnya yaitu pelangi. Siapa sangka, bendera pelangi pernah dijadikan sebagai simbol perdamaian di tahun 1961 silam. Adalah seorang aktivis perdamaian Italia, Aldo Capitini, yang mendesain simbol ini. Simbol Pelangi terdiri dari tujuh warna, dengan warna ungu yang berada di bagian atas. Selanjutnya, berturut-turut sampai bawah, ada warna biru tua, biru muda, hijau, kuning, oranye, dan merah. Di tengah bendera itu ada tulisan PACE yang berwarna putih.

Dari simbol-simbol perdamaian di atas, manakah yang menarik menurutmu?

Baca juga Apologi Takdir: Memahami Penyintas Bom dalam Rukun Iman (Bag.1)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...