HomeInspirasiAspirasi DamaiMeneladani Kesabaran Ramdhani

Meneladani Kesabaran Ramdhani

Dalam hidup, setiap manusia pastilah pernah menghadapi persoalan dan ujian yang bermacam-macam. Ada persoalan yang ringan, sedang, bahkan ada yang sangat berat. Semua kesedihan dan kesusahan lantaran persoalan yang ada hendaknya diadukan kepada Allah SWT. Para Nabi dan Rasul pun mengadu kepada Allah. Nabi Ya’qub misalnya, pernah mengadu langsung kepada Allah melalui ungkapannya yang diabadikan al-Quran: “Ya’qub berkata, sungguh hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihan, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui” (QS. Yusuf: 86).

Orang yang sedang menghadapi ujian dianjurkan untuk bersabar. Ada lebih seratus kali kata sabar disebut dalam al-Quran dengan semua derivasinya. Hal ini menunjukkan bahwa Allah begitu memberikan perhatian terhadap sifat sabar dalam hidup. Hatta, kata sabar disandingkan dengan kata shalat secara setara di dalam surat Al-Baqarah ayat 153: Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sungguh Allah bersama orang-orang yang sabar”.

Baca juga Jihad dan Budaya Dialog

Kesabaran akan sangat membantu seseorang dalam menyelesaikan ujian dan masalah, layaknya shalat yang sangat membantu manusia dalam menjalani lika-liku kehidupan menuju keselamatan di akhirat nanti. Sikap sabar itu telah dipraktikkan oleh Ramdhani, salah seorang korban langsung ledakan bom Kuningan pada 9 September 2004 silam. Pria yang ketika itu bekerja sebagai housekeeping di perusahaan yang berkantor di sebelah Kedutaan Besar Australia tak pernah menyangka akan menjadi korban. Akibat ledakan bom, Ramdhani mengalami cedera parah sehingga harus mendapatkan perawatan intensif, bahkan sampai hari ini harus mengonsumsi obat-obatan.

Pria kelahiran Jakarta tersebut terkena ledakan bom ketika tengah bekerja mencari nafkah bagi keluarga. Ketika sedang membersihkan kaca, guncangan besar disertai ledakan tiba-tiba terjadi dan meruntuhkan kaca-kaca gedung sekitar. Ramdhani pun terlempar dan terkena pecahan kaca. Bagian kepala Ramdhani berlumuran darah lantaran terbentur pintu besi. Itu sebabnya ia mengalami gegar otak dan tidak sadarkan diri hampir satu hari satu malam. Di rumah sakit Metropolitan Medical Center (MMC), Ramdhani mendapatkan delapan belas jahitan di bagian kepala.

Baca juga Menjaga Kerukunan Bersama

Praktis selama beberapa bulan Ramdhani tak bisa bekerja untuk menafkahi keluarga. Padahal ia masih memiliki tanggungan ekonomi bagi istri dan anak-anaknya yang masih kecil. Ia dirawat inap selama kurang lebih tiga minggu, namun harus menjalani kontrol dua kali setiap minggu, bahkan sampai hari ini pun masih menjalani pengobatan. Belasan tahun setelah peristiwa itu terjadi, luka di bagian belakang kepala Ramdhani belum sepenuhnya sembuh. Ia masih rutin periksa dokter dan tak jarang mendapatkan banyak suntikan. Tidak hanya luka fisik, peristiwa itu juga membuat Ramdhani merasa trauma terhadap ledakan. Ia acapkali kehilangan konsentrasi dan gangguan pendengaran.

Di tengah musibah itu, Ramdhani tidak memilih mendendam, justru ia memilih sabar. Padahal kenyataan hidup tak sesuai dengan harapannya. “Hidup kita semakin susah, namun saya hanya bisa bersabar,” demikian ungkapan Ramdhani dalam salah satu kegiatan bersama AIDA. Tentu saja, Ramdhani tidak sendirian. Ratusan korban terorisme lain merasakan kesulitan yang sama. Ada yang kehilangan bagian dari anggota tubuhnya, bahkan ada juga yang ditinggalkan oleh orang yang begitu dicintainya. Dalam kasus yang berbeda, masih ada berjuta orang di Indonesia yang merasakan kesulitan karena begitu berat memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Baca juga Berdamai dengan Kenyataan Mendamaikan Keadaan

Bayangkan, karena situasi yang serba sulit, banyak orang mengambil jalan pintas; bunuh diri. Tak kalah banyak pula yang terkena depresi dan emosinya terbakar. Akibat tidak sabar, persoalan hidup berbuah menjadi aksi kekerasan bahkan pembunuhan. Konflik dan kekerasan yang masih kerap mewarnai waktu demi waktu di bumi Indonesia ini, lagi-lagi salah satu penyebabnya adalah persoalan hidup yang begitu besar dan tidak bisa dihadapi dengan kesabaran.

Ramdhani mengajari kita tentang makna kesabaran itu. Dengan kesabaran ia bangkit di tengah penderitaan yang ada. Ramdhani masih sanggup bekerja meski tak semaksimal seperti sebelum terkena bom. Dengan kesabarannya ia tidak hanya berhasil menafkahi keluarga, namun putri pertamanya berhasil lulus kuliah. Sementara anak keduanya masih berjuang menyelesaikan studi sarjana atas perjuangan Ramdhani dan bantuan kakaknya. “Anak perempuan saya alhamdulillah sudah lulus dan bekerja di perusahaan asuransi. Anak laki-laki (kedua) saya masih kuliah,” pungkas Ramdhani.

Kisah kesabaran Ramdhani menjadi jawaban untuk situasi atau persoalan seberat apa pun yang kita hadapi. Sabar pula lah yang diajarkan agama Islam untuk tabah menghadapi rintangan, termasuk menghadapi persoalan sulit dan tekanan hidup yang menyesakkan.

Baca juga Nanda Olivia, Perempuan Tangguh Korban Terorisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pasang Surut Kehidupan Penyintas

Aliansi Indonesia Damai- Para korban yang terkena dampak serangan terorisme banyak...

Kebahagiaan Merayakan Idul Fitri

Aliansi Indonesia Damai- Syukur alhamdulillah, setelah dua kali merayakan Hari Raya...

Isra’ Mi’raj dan Kepekaan Empati Kita

Oleh Ahmad HifniMahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Setiap tanggal 27 Rajab...

Ibroh dari Dialog Korban dan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagian orang mungkin memandang perjumpaan antara pelaku terorisme...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...