HomePilihan RedaksiBerjuang untuk Sesama Korban...

Berjuang untuk Sesama Korban Bom

Aliansi Indonesia Damai- Kamis, 9 September 2004 menjadi hari tak terlupakan bagi Sucipto Hari Wibowo. Ledakan bom yang terjadi di depan Kedutaan Besar Australia, Kuningan Jakarta Selatan mencederai fisiknya. Peristiwa menyedihkan itu seperti mengubah jalan hidupnya. Tanggung jawabnya bertambah; selain bekerja mencari nafkah untuk keluarga juga mengurusi komunitas korban terorisme.

Saat perawatan di rumah sakit, Sucipto melihat banyak korban lain yang mengalami dampak lebih parah darinya. Kondisi tersebut menumbuhkan kesadarannya untuk menemui para korban. Ia pertama kali menemui sopir bus Kopaja yang saat kejadian hampir menabraknya.

Baca juga Penderitaan Ganda Korban Terorisme

Saat bom meledak, sepeda motor yang dikendarainya jatuh terpental di tengah jalan. Sesaat berikutnya asap asap putih tebal mengepul menghalangi jalanan. Sucipto kehilangan kesadaran beberapa saat. Beruntung sopir bus tersebut membunyikan klakson sangat kencang hingga membuatnya tersadar.

Pertemuan dengan sesama korban memberi kekuatan baru baginya. Apalagi ketika melihat kondisi sejumlah korban, ia merasa bertanggung jawab untuk membantu, terlebih kepada mereka yang memiliki luka lebih parah.

Baca juga Korban Bom Kuningan Merasa Beruntung Saat Buntung

“Akhirnya, ada sedikit penguatan di saya. Saya nggak seberapa, teman-teman saya parah. Ada yang kehilangan mata, kehilangan rahang, kehilangan tengkorak. Ini juga ada banyak segala macam, (ada yang) sampai sekarang masih berobat dan itu yang membuat saya harus terus bisa membantu teman-teman sampai sekarang,” ungkapnya.

Sucipto menceritakan, ia turut memerjuangkan kelanjutan pengobatan bagi para korban. Waktu itu, semua pengobatan korban yang awalnya dibiayai oleh Kedutaan Australia akan dihentikan, padahal masih banyak korban yang harus terus berobat. Ada 120 korban yang diperjuangkan, meskipun kemudian hanya sekitar 13 korban yang disetujui.

Baca juga Memahami Rencana Tuhan

Kondisi teman-teman korban membuat Sucipto terpanggil untuk membantu dan memfasilitasi mereka semaksimal mungkin. Hingga saat ini, Sucipto masih terus aktif membantu para korban dan menyuarakan hak-hak mereka bersama Yayasan Penyintas Indonesia (YPI) dan juga AIDA.

Bagi Sucipto, musibah bukanlah alasan untuk diam dan mengabaikan kondisi sekitar. Di mana pun posisi seseorang berada, akan selalu ada orang lain yang lebih membutuhkan pertolongan. Sucipto telah membuktikan bahwa dengan menolong sesama, kekuatan itu akan tumbuh seiring dengan besarnya rasa syukur.

Baca juga Meluaskan Jiwa Merangkul Luka

Dalam situasi pandemi seperti sekarang, berbagai macam kesusahan kita rasakan. Namun krisis ini seharusnya tidak menjadi alasan untuk berhenti membantu orang lain. Jika mampu bersikap bijak, justru hal tersebut bisa kita jadikan sebagai bahan untuk bersyukur dan melakukan refleksi.

Bersyukur karena bisa jadi kita lebih beruntung ketimbang yang lainnya, dan di sisi lain selayaknya susah yang kita rasakan menjadi pengingat untuk membuat orang lain tetap bahagia dengan membantunya keluar dari kesusahan. Alih-alih berdebat siapa yang merasa paling susah, bersikap seperti Sucipto tentu lebih bermanfaat.

Baca juga Refleksi 2 Tahun ‘Peristiwa Iman’ 13 Mei 2018

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meluruskan Pemahaman Jihad

Aliansi Indonesia Damai- Dewasa ini masih banyak kalangan yang memahami jihad...

Berdakwah di Era Digital

Aliansi Indonesia Damai – Banyak kita temui nasehat, “Janganlah belajar agama...

Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 2-Terakhir)

Aliansi Indonesia Damai- Dari hasil pemeriksaan, dokter memutuskan Budijono harus melakukan...

Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 1)

Aliansi Indonesia Damai – Ibadat Misa Pagi di Gereja St Lidwina...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....