HomeOpiniMengelola Fenomena Clicktivism

Mengelola Fenomena Clicktivism

Oleh Faruq Arjuna Hendroy
Sarjana Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah

Kemajuan teknologi telah memberikan begitu banyak kemudahan bagi aktivitas manusia. Salah satunya adalah internet. Keberadaan sistem informasi dan komunikasi ini menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia milenial. Seiring dengan semakin canggihnya perangkat komunikasi, akses terhadap internet pun semakin mudah dan murah.

Apalagi semenjak munculnya wabah pandemi Covid-19, ketergantungan terhadap internet semakin tinggi. Manusia memasuki sebuah fase kehidupan baru, di mana akses terhadap internet bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Segala aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara langsung atau tatap muka, saat ini mulai dialihkan ke lingkup virtual. Atas dasar itulah, hampir semua manusia di seluruh belahan bumi semakin bergantung terhadap internet.

Baca juga Perdamaian dari Akar Rumput

Satu hal yang mesti diingat, internet tidak ubahnya seperti benda yang dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mencapai tujuannya. Sifat kebendaannya itu tidak bisa menentukan mana outcome yang positif dan yang negatif. Semuanya mutlak bergantung pada kehendak penggunanya. Masifnya penggunaan internet serta penyaluran kepentingan pihak-pihak tertentu atasnya telah melahirkan tren baru bernama clicktivism.

Clicktivism adalah akronim dari kata click yang berarti sebuah aktivitas virtual dan activism yang berarti gerakan sosial politik. Menurut kamus Oxford, clicktivism berarti sebuah aktivitas yang menggunakan media sosial atau media daring lainnya untuk mempromosikan suatu kasus/isu/masalah.

Baca juga Keniscayaan Perdamaian

Awal mula digunakannya istilah clicktivism ini tak lebih dari 10 tahun yang lalu. Pada 2011, sekelompok orang di Amerika Serikat memprotes ketidaksetaraan ekonomi dan sosial serta tingginya korupsi di negara itu melalui aksi demonstrasi bernama Occupy Wall Street. Dalam demonstrasi itu, media sosial menjadi salah satu senjata yang digunakan untuk menyuarakan protes.

Sejak saat itu, istilah clicktivism semakin sering terdengar dan dipraktikkan. Sekelompok orang yang memiliki tujuan tertentu mulai melirik media sosial dan menjadikannya alat untuk mengumpulkan dukungan. Mereka memproduksi idealisme dan kebenaran versi mereka, lalu melemparkannya kepada publik. Adanya fitur seperti like, comment, dan share membantu dalam mengidentifikasi berapa banyak publik yang mendukung pemikiran mereka.

Baca juga Arif Menyikapi Bencana

Jika diperhatikan, hampir semua aktivitas clicktivism ini berangkat dari adanya ketidakadilan. Oleh karena itu, sekelompok orang yang terusik dengan adanya ketidakadilan itu menyuarakan solusi untuk memperbaikinya. Dapat dikatakan, clicktivism diawali oleh sebuah niat baik dan outcome yang diharapkan hendaknya juga baik.

Meskipun demikian, dalam praktiknya tidak selalu berjalan sesuai yang diharapkan. Sekelompok orang justru merespons ketidakadilan itu dengan cara menghasut, menebar kebencian, dan mengobarkan amarah. Itu semua menyebar di media sosial. Bukannya menyelesaikan ketidakadilan, yang ada justru menciptakan ketidakadilan yang baru.

Baca juga Mendakwahkan Akhlak

Akhir-akhir ini kita seringkali melihat fenomena itu. Hanya gara-gara berbeda pandangan politik misalkan, lalu merembet ke persoalan SARA. Anak bangsa disibukkan dengan saling ejek satu sama lain, perpecahan yang tidak membuahkan produktivitas apa pun. Yang ada, peluang terjadinya disintegrasi bangsa semakin besar.

Di sisi lain, kelompok ekstrem ikut memanas-manasi situasi dengan mempropagandakan paham-paham kekerasan. Selain mengumbar kebencian kepada kelompok lain, mereka juga memvisualisasikan negara ideal yang mereka ingin bentuk, sembari mendoktrin bahwa satu-satunya cara untuk mencapai negara ideal itu adalah dengan cara-cara kekerasan. Kelompok ekstrem ini pandai betul menunggangi media sosial, dan tak sedikit orang yang terpapar ideologinya.

Baca juga Berjihad Mesti dengan Ilmu

Tingginya akses masyarakat terhadap internet dan media sosial dikarenakan pandemi membuat mereka rentan terhadap spirit negatif kelompok-kelompok tersebut. Dibutuhkan kemampuan filter yang tinggi agar masyarakat tidak mudah terjerumus. Di samping itu, peran para penggagas perdamaian yang tidak ingin bangsa ini jatuh dalam perpecahan juga sangat diperlukan.

Clicktivism adalah fenomena yang tak terelakkan. Tetapi soal bagaimana kita mengelolanya, itu pilihan.

Baca juga Kerendahan Hati Membangun Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...