HomeInspirasiAspirasi DamaiTangis Ketangguhan Penyintas

Tangis Ketangguhan Penyintas

Penyintas terorisme berperan signifikan dalam kerja-kerja pembangunan perdamaian yang dilakukan Aliansi Indonesia Damai (AIDA). Bersama mantan pelaku terorisme yang telah bertobat, penyintas memberikan banyak pembelajaran penting kepada khalayak luas.

Dari penyintas, kita bisa belajar ketangguhan, kebangkitan dari keterpurukan, hingga pemaafan agung pada level praksis, bukan sekadar teoretis. Di balik hal-hal inspiratif itu, tak jarang penyintas menceritakan kisahnya dengan emosi yang meluap, seperti kesedihan hingga tangis yang tidak terbendung.

Baca juga Mengelola Amarah

Betapa dalamnya sakit yang pernah dialami, hingga walaupun tragedi yang menimpa terjadi puluhan tahun silam dan telah mengikhlaskan musibah itu, luapan emosional masih tak terbendung.

Sebagai misal, Yuni Arsih sering tak kuat menahan menangis tatkala menceritakan kisah Suryadi, mendiang suaminya, yang meninggal akibat pengeboman di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta, tahun 2004 silam. Demikian pula Nurman Permana yang kerap harus mengambil jeda sejenak untuk menenangkan diri saat berkisah perihal Bom Thamrin yang menimpanya di awal 2016 lampau.

Baca juga Beragama dengan Aman

Air mata Yuni, Permana, dan penyintas terorisme yang lain bukanlah ekspresi perih, namun merupakan tangisan ketangguhan yang menguatkan mereka. Secara medis, tangisan membantu memproduksi oksitosin dan endorphin, yakni sebuah zat kimia yang membantu meringankan rasa sakit fisik dan psikis. Setelah endorfin dilepaskan, tubuh mungkin mengalami sedikit mati rasa untuk sejenak. Oksitosin dapat memberikan perasaan tenang atau sejahtera.

Para psikolog pun mengakui bahwa menangis memberikan dampak psikologis. Sebuah riset berjudul When and for Whom Does Crying Improve Mood? A Daily Diary Study of 1004 crying Episodes yang dilakukan oleh Bylsma, Croon, dan Vingerhoets, menemukan bahwa menangis dapat membuat seseorang merasa lebih baik ketika mereka memiliki dukungan emosional, dalam hal ini orang yang memahami situasinya.

Baca juga Mengarifi Konflik

Riset yang dimuat dalam Journal of Research in Personality tahun 2011 ini juga menyimpulkan, tangisan orang yang mendapatkan dukungan sosial akan menghasilkan hikmah ataupun pemahaman baru mengenai situasi yang membuat mereka menangis.

Hal ini menjelaskan mengapa para penyintas terorisme tetap akan bercerita meski terkadang harus mengalami luapan emosional. Karena di balik luapan emosional itu, ketangguhan terus tumbuh dan pemahaman damai yang terus menyemai, bukan emosi-emosi negatif.

Peran Penting Dukungan Sosial

Temuan riset Bylsma dan kawan-kawan mengenai tangisan orang yang mendapatkan dukungan sosial akan menghasilkan hikmah, menjadikan peran dukungan sosial sangatlah penting bagi pemulihan seseorang melawati masa sulit. Dukungan sosial yang dilakukan oleh orang-orang memiliki kesamaan dan kelekatan emosional, dapat membantu seseorang bangkit.

Baca juga Meneladani Penyintas Bom

Jika kita menyimak para penyintas aksi terorisme, mereka selalu membutuhkan dukungan dari keluarga, teman bahkan termasuk sesama penyintas. Para korban tidak jarang menceritakan bagaimana orang tua ataupun anak membuatnya memilih memaafkan para pelaku terorisme dan mengikhlaskan kesakitannya. Jangan pula kesampingkan peran komunitas dan organisasi penyintas aksi terorisme memainkan peran konseling kelompok kepada para korban untuk menjadi penyintas.

Matina A. Amande dalam riisetnya berjudul Resilience and Social Support as Predictors of Posttraumatic Stress Disorder Among Internally Displaced Persons in Benue and Taraba States menemukan, bagi seseorang yang mengalami trauma pascakejadian buruk akan merasa lebih baik dengan mendapatkan dukungan sosial (dukungan langsung dan tidak langsung), lebih lanjut, Matina menyebutkan dukungan sosial tersebut melahirkan ketangguhan mental (resiliensi) seseorang dalam menghadapi kondisi traumatis sehingga mampu mengatasi segala rintangan dengan baik dan dapat memulai hidup kembali.

Baca juga Penyintas Bom Melampaui Ketangguhan

AIDA, bersama organisasi penyintas aksi terorisme dan juga lembaga negara yang selama ini terus berada pada keberpihakan kepada penyintas bukan hanya semata sebagai tugas-tugas formal kelembagaan, secara tidak langsung juga memberikan dukungan sosial kepada penyintas agar merasa tidak sendiri dalam perjuangannya meraih kepulihan baik fisik maupun psikis.

Kita semua dan masyarakat umumpun hendaknya mengambil peran yang sama, menjadikan diri sebagai pendukung bagi para penyintas. Keberpihakan pada korban bisa kita lakukan dengan memberikan dukungan sosial dan moril, sesimpel tidak menghakimi penyintas atas masa lalunya bahkan menganggap aksi yang melukai mereka sebagai sebuah rekayasa, karena diluar itu semua, penyintas adalah wujud nyata bahwa aksi kekerasan/terorisme bisa melukai siapa saja dan kapan saja.

Pembelajaran (Ibroh) dari Tangisan Penyintas

Meski secara mental sudah kuat, namun bukan berarti seseorang tidak bisa menunjukkan reaksi emosional. Ketangguhan mental dan reaksi emosional adalah dua hal yang berbeda. Ketangguhan mental artinya seseorang sudah bisa memaafkan, menerima yang yang terjadi dan memulai hidup dengan lebih positif lagi. Reaksi emosional adalah ekspresi manusiawi atas kejadian, seperti penyintas aksi terorisme yang menangis jika mengingat dan menceritakan kejadian buruk yang mereka alami.

Baca juga Menghargai dan Mengasihi Sesama

Penyintas yang mengaku sudah mengikhlaskan yang terjadi bukan berarti tidak menangis saat menceritakan kisahnya, justru tangisan penyintas aksi terorisme adalah wujud nyata dari ketangguhan mereka, sekaligus kebangkitan mereka atas aksi terorisme yang merusak kehidupan mereka.

Kita pun hendaknya belajar dari tangisan penyintas, bahwa tangisan bukan tanda seseorang lemah, tetapi tanda kita manusia normal yang menangis sedih saat menceritakan hal menyedihkan. Menangis tidak perlu lagi disikapi dengan perasaan malu karena merasa lemah, tetapi berganti dengan kesadaran sebagai reaksi alami dari tubuh manusia.

Baca juga Efek Beruntun Kekerasan

Tangisan penyintas adalah bentuk menyalurkan emosi yang terpendam dengan cara yang damai, alih-alih menyalurkan emosinya dengan membalas kekerasan dengan kekerasan. Pada tangisan korban adalah proses pemulihan tubuh dari tekanan emosi yang terus berjalan.

Baca juga Membangun Persaudaraan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...