HomeInspirasiAspirasi DamaiNasib Perdamaian di Gaza

Nasib Perdamaian di Gaza

Konflik Israel-Palestina sudah berlangsung selama delapan bulan dan telah menelan korban jiwa lebih dari 36.000 orang dan 86.000 lainnya luka-luka. Masyarakat dunia pun terbelah dalam menyikapi konflik kedua negara tersebut. Sekelompok orang di negara-negara Barat yang dulu menjadi sekutu tradisional Israel kini mulai beralih memberikan dukungan ke Palestina. Sebaliknya, negara-negara yang dulu merupakan aliansi tradisional Palestina kini justru lebih condong ke Israel.

Aksi militer Israel sudah berada di luar batas kemanusiaan. Mereka tak hanya menyerang kantong-kantong militer Hamas tapi juga menyasar warga sipil yang tak berdosa. Bagi warga sipil, luas Jalur Gaza yang hanya 360 km2, apabila dikepung dari darat, laut, dan udara apalagi tak punya bunker untuk berlindung, dampak serangan hampir pasti mematikan. Setiap hari warga sipil Gaza bak merasakan neraka. Rentetan pembantaian terhadap warga sipil Gaza sangat menyayat hati kita.

Baca juga Mensyukuri Hari Kemenangan, Memperkuat Solidaritas

Apa yang terjadi di Gaza sudah termasuk krisis kemanusiaan. Militer Israel telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia secara sistematis mulai dari pengusiran paksa, blokade bantuan kemanusiaan, serangan ke camp pengungsi hingga genosida. Bahkan, kita melihat aksi tak beradab militer Israel yang menargetkan serangan ke rumah sakit dan sekolah PBB yang menjadi tempat evakuasi warga sipil yang menjadi korban. Israel menuduh tempat-tempat tersebut sebagai sarang Hamas walaupun tidak ada bukti yang kuat.

Desakan untuk melakukan gencatan senjata sebenarnya sudah muncul sejak awal perang berkecamuk. Pada 18 Oktober 2023, Dewan Keamanan PBB mengusulkan jeda kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan ke Gaza. Lalu, pada 8 Desember 2023 dan 20 Februari 2024, Dewan Keamanan PBB kembali mendesak Israel dan Hamas untuk melakukan gencatan senjata. Namun, semua resolusi Dewan Keamanan PBB tersebut di-veto oleh Amerika Serikat sehingga tak pernah terwujud gencatan senjata. Sementara itu, dunia termasuk negara-negara Arab yang memiliki kedekatan identitas dengan Gaza hanya bisa diam melihat pembantaian di Gaza terus berlanjut.

Baca juga Menguatkan Semangat Damai Pelajar Melalui Sanlat

Konflik Israel-Palestina belum ada tanda akan berhenti karena para pihak yang aktif terlibat seperti buta akan krisis kemanusiaan yang terjadi. Pejabat eksekutif Amerika Serikat setengah hati mendesak Israel untuk menghentikan serangannya, di mana sebenarnya mereka tahu bahwa tindakan Israel telah melampaui batas. International Criminal Court (ICC) pun telah menetapkan Israel sebagai pelaku genosida, namun Presiden Amerika, Joe Biden, justru membantah dakwaan tersebut. Bahkan, pejabat legislatif Amerika Serikat bertindak lebih jauh dengan terus mendorong percepatan bantuan militer ke Israel.

Dewan Keamanan PBB telah meloloskan resolusi gencatan senjata di Gaza melalui tiga fase pada Juni ini. Pertama, Israel dan Hamas harus segera melakukan gencatan senjata, membebaskan sejumlah sandera, dan Israel mulai menarik diri dari daerah berpenduduk. Kedua, Israel dan Hamas harus segera mendiskusikan rencana gencatan senjata permanen, dengan jaminan pembebasan sandera yang tersisa dan penarikan pasukan Israel seluruhnya. Lalu fase ketiga, Gaza akan direkonstruksi secara besar-besaran dalam beberapa tahun ke depan.

Baca juga Perdamaian Melalui Senyuman

Namun, Israel keberatan dengan fase kedua. Israel menolak gencatan senjata permanen. Mereka hanya akan berhenti berperang jika Hamas telah hancur sepenuhnya. Sebuah rencana yang tidak akan mungkin terwujud, mengingat Hamas tidak mudah dikalahkan begitu saja. Bahkan pasukan Hamas dapat dengan mudahnya kembali muncul di lokasi-lokasi yang diklaim Israel sudah ‘dibersihkan’ dari Hamas.

Di sisi lain, Hamas tidak serta merta mau menerima proposal gencatan senjata, meskipun sempat menyambut baik. Melalui perwakilannya, Hamas menginginkan gencatan senjata permanen. Hamas curiga Israel tidak berniat menuju ke arah sana sehingga gencatan senjata pun hanya akan menjadi sia-sia. Kesepakatan yang alot akan membuat upaya pembangunan perdamaian menjadi semakin jauh panggang dari api. Konflik akan terus berlanjut dan akan lebih banyak lagi orang yang menjadi korban. Pengorbanan warga sipil sungguh tidak sepadan dengan kepentingan politik pihak yang bertikai.

Baca juga Ramadan Bulan Kedamaian

Menariknya, konflik Israel dengan Hamas memantik perhatian dan kepedulian masyarakat internasional. Di negara-negara Barat yang terkenal sebagai sekutu tradisional Israel, mulai bermunculan gerakan-gerakan yang mendukung Palestina secara masif, mulai dari demonstrasi hingga boikot. Krisis kemanusiaan di Gaza sungguh telah melampaui batas kenegaraan, menyentuh siapa pun yang masih memiliki hati nurani. Krisis Gaza adalah bencana bagi kemanusiaan.

Baca juga Perdamaian Hanya Akan Tercipta Lewat Keadilan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...