HomePilihan RedaksiMereka yang Menemukan Jalan...

Mereka yang Menemukan Jalan Kembali (Bag. 2)

Ada banyak faktor yang mendorong pelaku ekstremisme kekerasan memutuskan meninggalkan kelompok dan pemahamannya yang lampau. Masing-masing individu juga memiliki alasan tersendiri. Namun dari nama-nama yang dirangkum redaksi, semuanya berkomitmen untuk menebarkan perdamaian kepada khalayak luas.

Sumarno

Sumarno alias Asadullah sempat diburu polisi lantaran dituding menyimpan amunisi dan persenjataan yang hendak disuplai ke wilayah konflik di Poso, Sulawesi Tengah dan Ambon Maluku. Dia tertangkap di Ngawi Jawa Timur pada tahun 2003 dan harus mendekam di Lapas Lamongan selama tiga tahun.

Baca juga Mereka yang Menemukan Jalan Kembali (Bag. 1)

Sumarno yang sempat meragukan keislaman aparat negara dan menganggapnya sebagai ansharut taghut menemukan fakta lain di balik jeruji besi. Dia mendapat perlakuan sangat baik dari petugas Lapas. Salah seorang temannya yang berprofesi sebagai polisi juga memberikan perhatian dan dukungan kepadanya.

Usai menghirup udara bebas, Sumarno membesuk paman sekaligus gurunya, Ali Imron di Mapolda Metro Jakarta. Sang paman memintanya berhenti dari aksi-aksi ekstremisme. “Berhenti, dan jangan dilanjutkan. Dendam tidak akan menyelesaikan masalah,” demikian ia mengenang petuah dari terpidana seumur hidup kasus Bom Bali 2002 itu. Selepas pertemuan itu, Sumarno membulatkan tekad untuk insaf dan meninggalkan ekstremisme.

Baca juga Rindu Ibu, Ekstremisme Luruh (Bag. 1)

Beberapa tahun setelahnya, Sumarno bertemu sejumlah korban bom. Melihat dan mendengar secara langsung penderitaan korban, ia merasa iba. Sumarno sama sekali tak menyangka korban mau memaafkan perbuatannya. Sumarno meminta maaf secara tulus .“Setelah melihat kondisi korban bom, timbul rasa empati dan kesedihan. Saya meminta maaf kepada para korban atas nama saudara-saudara saya (ikhwan),” papar Sumarno.

Baca juga Rindu Ibu, Ekstremisme Luruh (Bag. 2-Terakhir)

Perjumpaan itu tidak hanya membuat Sumarno makin mantap meninggalkan kelompok lamanya. Lebih dari itu telah menginspirasinya untuk turut aktif dalam kampanye perdamaian. Bersama pamannya, Ali Fauzi Manzi, dan sejumlah rekan di jaringan lamanya dulu, Sumarno mendirikan Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP), komunitas yang menampung mantan pelaku ekstremisme yang telah insaf.

Mukhtar Khairi

Ia dianggap sebagai kader potensial untuk menjadi pemimpin kelompok esktrem. Dia diberangkatkan ke pegunungan Jalin Jantho, Aceh Besar untuk mengikuti pelatihan militer. Kendati sebenarnya yang dia inginkan adalah berjihad ke Afghanistan atau Palestina, dua negara yang menurut dia umat muslimnya betul-betul dizalimi. Namun sebelum mimpi itu terwujud, ia tertangkap pada bulan Maret 2010 dan menjalani hukuman penjara selama lima tahun.

Baca juga Pendidikan Kritis Mengentaskannya dari Ekstremisme

Bilik jeruji besi tak menciutkan nyalinya. Ideologinya malah kian menguat setelah ditempatkan bersama narapidana terorisme yang berideologi sangat ekstrem. Namun setahun menjelang kebebasannya, muncul kritik Mukhtar terhadap kelompoknya. Karenanya diam-diam ia mengikuti pengajian yang diampu ustadz di luar kelompoknya. Dia menemukan wawasan keislaman yang berbeda dengan ajaran kelompok ekstrem.

“Saya ngerasa kelompok ini jadi terkesan suka membunuh orang. Lalu diam-diam saya ikut pengajian ustadz lain,” ujarnya. Sejak itu Mukhtar dijauhi dan di-tahdzir (ditegur), bahkan tak lagi dipercaya sebagai bagian dari kelompok ekstrem.

Baca juga Dari Wilayah Konflik ke Ruang Pendidik

Mukhtar bebas pada tahun 2017. Awalnya ia bingung dan khawatir masyarakat tidak mau menerimanya kembali. Namun seiring berjalannya waktu, Mukhtar bisa beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Ia diterima dengan baik, bahkan acapkali diminta menjadi imam shalat jamaah di musala.

Saat ini Mukhtar mengajar privat tahfidz al-Quran di sebuah yayasan pendidikan di Jakarta. Ia juga bergabung dengan komunitas Rumah Daulat Buku. Bersama AIDA, Mukhtar beberapa kali terlibat dalam kampanye perdamaian bagi kalangan muda. (bersambung)

Baca juga Titik-Titik Balik Seorang Ekstremis

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pasang Surut Kehidupan Penyintas

Aliansi Indonesia Damai- Para korban yang terkena dampak serangan terorisme banyak...

Kebahagiaan Merayakan Idul Fitri

Aliansi Indonesia Damai- Syukur alhamdulillah, setelah dua kali merayakan Hari Raya...

Isra’ Mi’raj dan Kepekaan Empati Kita

Oleh Ahmad HifniMahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Setiap tanggal 27 Rajab...

Ibroh dari Dialog Korban dan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagian orang mungkin memandang perjumpaan antara pelaku terorisme...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...