HomePilihan RedaksiMemahami Rencana Tuhan

Memahami Rencana Tuhan

Aliansi Indonesia Damai- Sebelum terkena bom, Mulyono adalah sosok muda yang sehat, bugar, dan memiliki jenjang karir bagus di salah satu perusahaan swasta ibu kota. Ia juga baru saja dikaruniai seorang anak. Namun peristiwa di depan kantor Kedubes Australia Jalan HR Rasuna Said Jakarta Selatan sempat merenggut kebahagiaannya.

Kamis pagi 9 September 2004, ia menjalani rutinitas kerja seperti biasa di kantor. Ia berencana menggelar meeting dengan kolega bisnis yang sedianya dilaksanakan Jumat. Agenda itu ia majukan sehari lebih awal lantaran berbagai alasan.

Baca juga Meluaskan Jiwa Merangkul Luka

Salah seorang rekan kerjanya sempat berencana ikut berangkat bersama dengannya menuju lokasi meeting. Walhasil Mulyono menunda keberangkatannya selama kurang kurang lebih 20 menit. Namun dalam masa tunggu itu, rekan kerjanya berubah pikiran; batal ikut meeting. Mulyono lantas berangkat sendiri mengendarai mobilnya.

Kala melintas di depan kantor Kedubes Australia, ledakan besar terjadi. Mulyono merasa mobilnya seperti terangkat dan kemudian terhempas ke tanah. Saat mobilnya terhenti, ia keluar dan melihat semua orang di sekitarnya berteriak histeris. Ia belum menyadari bahwa telah terjadi aksi pengeboman dan dirinya cedera parah.

Baca juga Refleksi 2 Tahun ‘Peristiwa Iman’ 13 Mei 2018

Sesaat berikutnya Mulyono menyadari ada yang tidak beres karena bajunya basah kuyup oleh darah. Ia mencoba berteriak meminta tolong tetapi suaranya tak keluar. Karenanya ia berisyarat dengan lambaian tangan kepada orang-orang yang melintas di dekatnya. Namun mereka justru berlari menjauh lantaran ketakutan melihat kondisinya. Beruntung ada pengendara motor berkenan membantu mengantarkannya ke RS terdekat. Oleh dokter ia diberitahukan bahwa rahangnya hilang.

Mulyono harus berkali-kali menjalani operasi rekonstruksi rahang selama 4 bulan di salah satu rumah sakit di Singapura. Karena belum berhasil, Mulyono melakukan operasi lagi di Australia. Dalam rentang waktu 1 tahun 3 bulan, Mulyono menjalani hampir 20 kali tindakan operasi. Meski tak sempurna, Mulyono bersyukur masih diberi kesempatan hidup.

Baca juga Tafakur Menyembuhkan Lukanya

Ia sempat berpikir, seandainya saja ia tidak memajukan jadwal rapat atau berangkat lebih awal ke lokasi meeting, bisa jadi ia tidak akan mengalami dampak hebat dari peristiwa itu. Namun saat muncul pikiran itu, selekasnya ia melantunkan istighfar.

Meski berat, Mulyono berusaha memahami bahwa musibah yang menimpanya adalah rencana Tuhan untuk menaikkan derajatnya agar lebih kuat dan dekat dengan-Nya.“Kalau kita mau naik tingkat, mau naik kelas, pasti ada ujiannya. Itu yang saya yakini bahwa kalau kita dapat cobaan, terus kita masih marah-marah sama Allah, kita nggak terima, ya kita belum naik kelas,” ujarnya.

Baca juga Penyintas Bom Kuningan Berjuang Melawan Trauma

Hingga kini Mulyono masih rutin menjalani check-up medis dan mengonsumsi obat-obatan. Beberapa kali ia bahkan harus dirawat inap di rumah sakit lantasan kondisi tubuhnya merosot drastis. Kendati sangat berat, ia mengaku telah menerima takdir yang telah ditetapkan untuknya. Ia selalu yakin dengan janji-janji Allah SWT yang tidak akan memberikan ujian kepada hamba-Nya melebihi kemampuan. Selain itu dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Insyirah ayat 4 dan 5.

Mulyono mengkritik para pelaku terorisme yang beraksi mengatasnamakan agama. Sejak kecil Mulyono dibesarkan dalam lingkungan yang mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang damai, indah, dan tidak membenci agama lain. Hal itu pula yang ia tanamkan pada keluarga kecilnya. Bahkan ia melarang anaknya untuk memendam dendam terhadap para pelaku teror yang melukainya.

Dalam setiap doanya, Mulyono selalu berharap agar tidak terjadi lagi aksi brutal hingga menjatuhkan korban tak bersalah seperti dirinya. Doa itu pun ia ikhtiarkan dengan turut serta mengampanyekan perdamaian bersama para mantan pelaku yang sudah bertobat dalam beberapa kegiatan bersama AIDA.

Baca juga Sempat Diduga Pengebom, Keluarga Korban Bangkit dari Kesedihan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Berempati kala Kritis

Aliansi Indonesia Damai- Pagi menjelang siang, 9 September 2004, di dalam Bus...

‘Kepungan’ Menjaga Harmoni

Usai melaksanakan shalat idulfitri, warga Desa Genito, Windusari, Magelang, Jawa Tengah...

Kala Penyintas Bom Memerjuangkan Hak Asuh

Aliansi Indonesia Damai- “Setelah kejadian itu, Ibu tidak bisa melukiskan perasaan...

Pemaafan Penyintas Bom Thamrin untuk Perdamaian

Marah adalah sifat manusiawi ketika seseorang merasa tidak nyaman atau merasa...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...