HomePilihan RedaksiSemangat Belajar Penyintas Bom

Semangat Belajar Penyintas Bom

Aliansi Indonesia Damai- Serangan bom di kawasan Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, nyaris saja memupus cita-cita mulia Susi Afitriyani. Akibat peristiwa itu, kondisi fisiknya tak bisa pulih seperti sedia kala. Keinginannya untuk menempuh jenjang pendidikan setinggi-tingginya sempat hilang.

”Saya teringat pesan Almarhum Kiai saya. Cukup ibu saya yang miskin dan tidak berpendidikan. Biar saya yang melanjutkan kuliah. Saya bisa meyakinkan orang tua saya,” ujar Susi Afitriani, mengenang hal-hal yang membangkitkannya dari keterpurukan.

Baca juga Tak Cacat Ilmu

Dengan beasiswa, Pipit lulus dari SMA di Brebes. Sempat bekerja di restoran, ia memutuskan keluar dan memantapkan diri untuk merantau ke ibu kota, Jakarta. Misinya bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya. Sembari bekerja, ia menempuh kuliah kelas malam di Fakultas Ekonomi salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta Timur.

Malam itu, ia hendak pulang ke indekosnya usai mengikuti perkuliahan. Saat menunggu angkutan umum di Terminal Kampung Melayu, ia mendengar suara ledakan sangat keras tak jauh dari posisinya berada. Ia berlari menyelamatkan diri, namun terjatuh dan tak sanggup lagi berdiri. ”Saya tersandung kaki saya sendiri. Kondisi saya lemas dan sulit untuk bangun. Saya tertelungkup di bawah sepatu polisi,” ucap Pipit.

Baca juga Menjadi Pribadi Bermanfaat

Beruntung seseorang menolong dan membawanya ke rumah sakit. Dalam kondisi setengah sadar dan lemas, Pipit merasa sekujur badannya sakit, terutama di bagian lengan kanan. Terlintas dalam benaknya sosok ibu. ”Ya Allah jika memang ini sudah jalannya, saya sudah ikhlas. Berikan seseorang yang bisa menjaga ibu saya,” ujarnya mengenang masa kritis. 

Setelah menjalani rawat inap dan operasi pangkal lengan kanannya yang patah, Pipit pulang ke Brebes untuk menjalani pemulihan bersama keluarganya. Serangkaian upaya medis telah dilakukan, namun tak bisa mengembalikan keadaannya seperti sedia kala. Tangan kanannya tak lagi berfungsi normal.

Baca juga Sosok Kecil Bermental Besar

Sekalipun telah menjadi difabel, cita-citanya untuk melanjutkan kuliah dan membuat orang tua bahagia tidak pudar. Pertemuannya dengan sesama penyintas terorisme semakin menguatkan diri Pipit. ”Alhamdulillah saya bertemu dengan orang-orang yang hebat. Kini saya menjadi duta perdamaian AIDA,” katanya.

Ia berharap tak ada lagi aksi kekerasan yang membuat orang-orang tak bersalah menderita, bahkan menjadi difabel.

Baca juga Boleh Cacat Fisik asal Tak Cacat Ilmu

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mengelola Amarah

Setiap orang tentu pernah mengalami hal yang tidak disukai dalam kehidupannya,...

Dakwah Islamiyah untuk Perdamaian

Oleh Fahmi SuhudiAlumni PP Darussunnah Ciputat Dakwah merupakan salah satu fondasi dalam...

Beragama dengan Aman

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak suku dan budaya yang berbeda...

Mengarifi Konflik

Agama bisa menjadi sumber inspirasi membangun perdamaian. Ia mengajarkan banyak nilai...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...