HomeInspirasiAspirasi DamaiKritik Diri Bekal Pertobatan...

Kritik Diri Bekal Pertobatan Ekstremis

Apa yang sebenarnya terjadi saat mantan anggota kelompok terorisme berubah menjadi aktivis perdamaian? Kesimpulannya bisa banyak faktor. Setiap orang memiliki cara belajar dan jalan berbeda menuju pemahaman yang damai. Namun jika dikaji dari perspektif psikologi, maka kita akan menemukan beberapa hal kunci, salah satunya adanya kritik diri (self-criticism).

Tanpa kritik diri, mantan anggota kelompok terorisme tidak mungkin bisa menyingkirkan doktrin kebencian dan kekerasan yang sangat lama diyakininya sebagai kebenaran. Misal yang terjadi pada Kurnia Widodo. Sejak masih bersekolah di bangku SMA, ia diajarkan untuk membenci dan mengafirkan orang-orang yang berbeda pandangan dengannya. Namun ia lantas menyadari bahwa ajaran tersebut telah membawanya ke jalan kekerasan.

Baca juga Fase-Fase Hijrah; Belajar dari Mantan Ekstremis

“Saya belajar bahwa kita tidak boleh mengafirkan orang lain. Jika sudah mulai mengafirkan orang lain, maka kita bisa terjebak dalam paham kekerasan,” ujar Kurnia dalam salah satu kegiatan bersama AIDA.

Kritik diri merupakan bentuk evaluasi individual. Kritik diri sering membantu memfasilitasi proses belajar dari kesalahan masa lalu. Juga dapat membantu ketika seseorang mencoba untuk mengatasi kelemahan atau kebiasaan yang tidak diinginkan.

Baca juga Isra’ Mi’raj dan Spirit Kedamaian

Thompson dan Zuroff (2004) mengembangkan The Levels of Self-Criticism Scale. Mereka menemukan dua dimensi kritik diri, yaitu komparatif dan internalisasi. Kritik diri komparatif biasanya dengan membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan menemukan kekurangan diri sendiri. Orang yang mengkritik diri sendiri dengan cara ini cenderung mendasarkan harga diri mereka pada persepsi orang lain tentang mereka dan mungkin memandang orang lain.

Dimensi kritik diri internalisasi melibatkan perasaan bahwa seseorang memiliki kekurangan dalam beberapa hal. Bahkan kesuksesan pun dapat dipandang sebagai kegagalan. Dalam konteks mantan anggota kelompok terorisme seperti Kurnia, perjumpaannya dengan korban terorisme menumbuhkan kritik diri komparatif dan internalisasi.

Baca juga Mencintai Diri Kunci Kebangkitan

Dari sisi komparatif, bertemu dan mendengarkan kisah korban yang menderita sedemikian parah namun masih sanggup memberikan maaf padanya, hati Kurnia tersentuh. Kurnia bahkan tidak sanggup membayangkan bila dirinya yang menjadi korban. Ia ragu apakah masih bisa memberikan maaf atau tidak. Pemaafan para korban semakin menguatkan komitmennya kembali ke jalan perdamaian dan mengecam tindakannya dan kelompoknya yang dulu.

Sedangkan dari sisi internalisasi, saat melihat kondisi korban terorisme, Kurnia menyesali perbuatannya yang mengatasnamakan agama. Idealisme jangka panjang mendirikan negara Islam di Indonesia agar semua orang mendapatkan kebaikan, mendadak hancur karena faktanya justru mengorbankan banyak orang yang tidak bersalah. Fakta tersebut mengusik sisi kemanusiaan dirinya.

Baca juga Memilih Guru Damai

Meski dalam pandangan psikologi, orang yang seringkali melakukan kritik diri digolongkan dalam depresi skala ringan, namun dukungan sosial dari orang-orang terdekat dan masyarakat mampu membuat mantan anggota kelompok terorisme membentuk diri mereka dengan kepribadian yang lebih baik. Dukungan orang-orang terdekat dan masyarakat tersebut bisa dari komunitas masyarakat sipil seperti AIDA, korban terorisme, keluarga maupun sesama mantan anggota kelompok terorisme yang lebih dulu bertobat.

Tidak banyak orang yang mampu dan mau melakukan kritik diri, karena beberapa kasus menunjukkan adanya pertikaian dalam diri dan kebencian pada diri. Kurnia dan mantan anggota kelompok terorisme lain yang telah bertobat adalah contoh baik bagaimana menyelesaikan persoalan diri untuk memberikan kebutuhan dasar kita sebagai manusia, yaitu perdamaian.

Baca juga Menjaga Lingkaran Terdekat

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...