HomeInspirasiAspirasi DamaiApologi Takdir: Menjadi Korban...

Apologi Takdir: Menjadi Korban Bukan Keniscayaan (Bag.2-Terakhir)

Setelah sempat marah dan memendam emosi-emosi negatif lain, para korban secara perlahan menyadari bahwa musibah yang menimpanya adalah takdir Tuhan yang harus ikhlas diterima. Karena takdir tak dapat dielakkan kecuali atas kuasa-Nya. Ini dari sudut pandang korban.

Sementara sebagian pelaku terorisme justru menjadikan takdir sebagai apologi. Dalam arti segala sesuatu yang terjadi pada korban adalah keniscayaan yang telah ditetapkan. Kelak setiap manusia akan dibangkitkan sesuai dengan amalan mereka selama hidup di dunia.

Baca juga Apologi Takdir: Memahami Penyintas Bom dalam Rukun Iman (Bag.1)

Merujuk kepada konsep takdir, jawaban dari pelaku ekstremisme tersebut benar di satu sisi, yaitu semua kejadian telah tercatat di lauhil mahfudz dan sudah menjadi kehendak-Nya. Tapi di sisi lain keliru dalam menempatkan logika dan posisi.

Jika kita membedah kembali konsep takdir, maka ada beberapa kaidah yang perlu dibaca ulang. Pertama, aksi pengeboman bukanlah peristiwa di luar kehendak manusia. Jauh berbeda dengan musibah bencana alam yang tidak ada seorang pun yang mengetahui. Para pelaku mempunyai pilihan untuk tidak melakukan aksi tersebut, sehingga tidak menimbulkan akibat fatal terhadap masyarakat luas, yang sebagian besarnya justru umat Islam sendiri.

Baca juga Urgensi Ukhuwwah dan Bahaya Perpecahan

Kedua, meskipun Allah telah menetapkan takdir atas setiap makhluk-Nya, namun tidak ada yang mengetahui seperti apa takdir manusia, bahkan nabi dan malaikat pun tidak mengetahuinya. Maka amat naif berdalih dengan takdir yang kita sendiri belum mengetahuinya.

Penulis pernah berbincang dengan salah seorang yang terkait dengan aksi pengeboman di Indonesia. Ia berdalih bahwa serangan yang dilakukan oleh teman-temannya sudah sesuai dengan hasil “ijtihad” (observasi) mereka, terkait target lokasi dan waktunya. Maka jika ada muslim berada di lokasi pada waktu yang ditentukan, maka mereka adalah pelaku maksiat.

Baca juga Mengimani Takdir

Dalih tersebut jelas keliru. Pertama, bahkan di lokasi sarang kemaksiatan sekali pun tak semua orang berniat dan berbuat kemaksiatan. Kedua, tidak ada yang mengetahui takdir seseorang di masa depan. Setiap manusia berkesempatan untuk memeroleh kehidupan yang lebih baik dalam hal keimanan.

Hal ini dicontohkan dalam kisah perang Badar. Ketika itu Nabi Saw marah ketika sahabat Usamah membunuh musuh yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat. Usamah meyakini bahwa ikrar tersebut hanyalah kepura-puraan. Namun menurut Nabi, manusia tidak bisa diketahui isi hatinya. Itu dalam kondisi perang yang berkecamuk. Apalagi serangan terorisme, di mana para pelaku memiliki pilihan untuk tidak melakukan pembunuhan dan bisa menggunakan cara-cara lain yang memberikan maslahat jika memang niatnya berjuang sesuai yang disyariatkan.

Baca juga Ketangguhan Penyintas Bom Kuningan, Ram Mahdi Maulana: dari Amarah Menuju Pemaafan

Maka dari itu, demi menjaga kemaslahatan umat Islam dan bangsa Indonesia secara umum, tidak seyogyanya berdalih dengan sesuatu yang kita tidak memiliki ilmu atasnya, dalam arti tidak mengetahui takdir seseorang ke depan.

Takdir memang menjadi rahasia Allah. Indra manusia memiliki keterbatasan untuk melihat ketetapan-Nya. Karenanya takdir disebut dengan sirrullahil maktum (rahasia Allah yang tersembunyi). Manusia diberi tugas dalam menentukan pilihan hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat tugas dan kewajiban dalam melaksanakan perintah atau menjauhi larangan-Nya. Melakukan kerusakan adalah sesuatu yang dilarang, karena jauh dari ajaran Islam yang disyariatkan.

Baca juga 16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 2-Terakhir)

Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto telah melewati 30 tahun...

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 1)

Namanya Arif Siswanto. Salah satu aktor penting dalam pembubaran Jamaah Islamiyah...

Penyintas Bom Bali 2002 Bertutur

Pulau Dewata merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara....

Penyimpangan Pemahaman Agama Kelompok Ekstrem (Bagian 2- Selesai)

Mukhtar menjelaskan setiap aksi atau amaliyat yang dilakukan kelompok ekstrem mengandung...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....