HomeOpiniBerjihad Mesti dengan Ilmu

Berjihad Mesti dengan Ilmu

oleh Fikri
Master Ilmu Politik Universitas Indonesia

Seorang muslim nyaris tidak akan bisa melakukan suatu amal kebaikan dengan benar kecuali berdasarkan ilmu. Ilmu adalah landasan seseorang untuk melaksanakan kewajiban, meninggalkan larangan, sekaligus menjadi rambu-rambu agar dapat membawa kemaslahatan bagi umat. Apalagi dalam amal-amal yang memiliki konsekuensi besar seperti jihad.

Ibarat seseorang yang hendak mengendarai kendaraan bermotornya, maka ia harus memiliki syarat kecakapan. Mengerti masing-masing fungsi pada kendaraan, pun memahami rambu-rambu lalu-lintas. Sehingga ia bisa mengendarai dengan aman dan selamat. Aman untuk dirinya dan orang lain.

Tanpa ilmu seseorang hanya menduga-duga dalam beramal kebajikan. Ia menduga telah melakukan kebaikan, padahal bisa jadi sebaliknya malah menimbulkan mudarat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Baca juga Kerendahan Hati Membangun Perdamaian

Penulis pernah berbincang dengan salah seorang mantan pelaku ekstremisme kekerasan. Setelah merenung dan belajar lebih banyak, ia menyesali perbuatannya yang pernah ia yakini sebagai jihad. Pasalnya aksi tersebut justru banyak memicu kemudaratan, bahkan terutama bagi umat Islam sendiri.

Dampak aksinya berbanding terbalik dengan tujuan yang dikehendaki. Banyak korban tak bersalah berjatuhan, termasuk saudara sesama muslim. Para korban harus menderita secara fisik, mental, dan juga ekonomi. Orang tua kehilangan anak, istri kehilangan suami, keluarga kehilangan tulang punggung perekonomian rumah tangganya.

Dalam hemat penulis, ada ketimpangan ilmu yang diajarkan kepada aktivis kelompok ekstrem. Mereka tidak mendapatkan ilmu yang proporsional dan menyeluruh. Ilmu yang diajarkan lebih didominasi dengan materi kemiliteran dan latihan perang. Pengetahuan teoretis tentang jihad justru tidak diajarkan secara mendalam.

Baca juga Keutamaan Bersikap Kaya

Salah satu poin yang menjadi perhatian penulis adalah cara berpikir dan persepsi dalam perjuangan mereka. Abu Mushab As Suri dalam bukunya Ad-Da’wah Al-Muqawwamah Al-Islamiyyah Al-‘Alamiyyah berkomentar, “Manhaj aliran jihadi hanya bersifat parsial, tidak komprehensif, hanya terbatas pada masalah al-wala’ wal bara’ dan al-hakimiyah, serta sempitnya cakrawala pustaka dan karya tulis di tubuh aliran jihadi.”

Hal demikian sangat berpengaruh terhadap karakter personal aktivis kelompok ekstrem yang cenderung keras, tidak ramah, kurang akhlakul karimah, dan rentan dengan perpecahan internal. Tak aneh jika tujuan yang mereka inginkan justru dibenci dan dijauhi oleh umat islam sendiri.

Sebagai contoh, di Mali, negara di kawasan Afrika Barat. Beberapa kota di negara tersebut pernah dikuasai oleh aktivis-aktivis jihadi sejak tahun 2007. Mereka mencoba menjalankan kekuasaan dengan syariat Islam. Akan tetapi tidak sampai 5 tahun mereka gagal menjalankannya.

Baca juga Keistimewaan Musibah

Masyarakat setempat yang mayoritas belum paham betul tentang Islam, bahkan sebagian belum mengetahui tata cara shalat dengan benar, dipaksakan untuk menjalankan syariat Islam secara total dengan konsekuensi hukuman-hukuman yang berat. Walhasil yang terjadi sangat kontraproduktif. Masyarakat menolak aturan-aturan Islam yang diterapkan dengan cara-cara sporadis seperti itu.

Pelajaran yang bisa diambil, jihad merupakan ajaran mulia dalam Islam yang menyimpan banyak hikmah dan manfaat. Konsekuensi penerapan jihad dalam arti perang adalah membunuh atau dibunuh. Perkara besar yang berhubungan dengan tumpahnya darah manusia. Maka dari itu praktiknya harus benar-benar didasari dengan ilmu yang mendalam dan kajian yang komprehensif.

Baca juga Mengimunisasi Remaja

Solusi dari semua masalah ini adalah meningkatkan kapasitas keilmuan. Ketika  sudah memahami syariat dan ilmu dalam setiap perkara yang dihadapi, maka akan mampu menahan diri dan mencerna setiap tindakan yang akan dilakukan.

عن معاوية – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم: مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ في الدِّينِ

Dari Mu’awiyah RA dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam).” (Muttafaqun ‘Alaih)

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاء اللَّيْلِ سَاجِداً وَقَائِماً يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.” (Qs. Az-Zumar: 9).

Baca juga Bersyukur Pantang Mengeluh

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 2-Terakhir)

Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto telah melewati 30 tahun...

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 1)

Namanya Arif Siswanto. Salah satu aktor penting dalam pembubaran Jamaah Islamiyah...

Penyintas Bom Bali 2002 Bertutur

Pulau Dewata merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara....

Penyimpangan Pemahaman Agama Kelompok Ekstrem (Bagian 2- Selesai)

Mukhtar menjelaskan setiap aksi atau amaliyat yang dilakukan kelompok ekstrem mengandung...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....