HomeInspirasiAspirasi DamaiBelajar Perdamaian dari Islandia

Belajar Perdamaian dari Islandia

Mari sejenak menengok Islandia, sebuah negara yang diberkati kekayaan alam berupa es dan gunung berapi. Terletak di barat laut Britania Raya, Islandia dinobatkan menjadi negara paling damai di dunia selama tiga belas tahun berturut-turut.

Dikutip dari situs kumparan, 18/06/2019, predikat tersebut diberikan oleh Global Peace Index (GPI), proyek yang dirilis oleh Institute for Economic and Peace (IEP) sebagai lembaga yang berfokus pada bidang kemanusiaan. Pada Juni 2019 lalu, GPI merilis peringkat 163 negara paling damai, di mana Islandia sejak tahun 2007 selalu menempati peringkat teratas.

Baca juga Tangguh Melawan COVID-19

GPI menggunakan 23 indikator yang terbagi ke dalam tiga domain tematik, yaitu keselamatan dan keamanan sosial, sejauh mana konflik domestik dan internasional terjadi, dan derajat militerisasi. GPI kemudian mengumpulkan data melalui konsultasi dengan para pakar perdamaian dan lembaga wadah pemikir (think tank) dunia.

Islandia memang istimewa. Di sana hampir tidak ditemukan konflik. Tingkat kriminalitas atau kejahatan juga sangat minim. Alih-alih terorisme, kasus kriminalitas biasa saja sangat jarang terjadi. Pada Desember 2018 silam, Francis Pakes, profesor kriminologi Universitas Porstmouth menulis temuannya di kolom The Conversation, 3/12/2018, bahwa hanya ada 200 narapidana dari jumlah populasi nasional sekitar 340.000 orang. Persentasenya kurang dari satu persen.

Baca juga Solidaritas di Tengah Pandemi: Belajar dari Korban Terorisme

Oleh karenanya aparat kepolisian di Islandia lebih sering ‘menganggur’ karena langkanya kasus yang harus ditangani. Salah satunya dapat dibuktikan dengan melihat akun resmi instagram polisi Islandia; Logreglan. Jika biasanya polisi berbagi aktivitas menangkap penjahat, polisi Islandia justru membagikan dokumentasi aktivitas yang terbilang santai, mulai dari bermain dengan anak-anak, menyantap es krim, berolahraga, hingga berkuda.

Tingginya tingkat keamanan di Islandia memungkinkan warga Islandia beraktivitas tanpa diliputi rasa takut. Dikabarkan bahwa orang tua bisa dengan santai meninggalkan anak mereka di taman atau di tengah-tengah kota tanpa takut adanya penculikan. Warga Islandia benar-benar hidup di lingkungan yang sangat bersahabat. Seiring minimnya angka kriminalitas, tingkat kesejahteraan di Islandia pun meningkat.

Baca juga Membudayakan Perdamaian

Fakta mengejutkan lainnya adalah negara ini tidak memiliki pasukan militer. Padahal kita tahu, bahwa keberadaan pasukan militer sangat penting untuk melindungi masyarakat dari konflik kekerasan internal maupun eksternal. Kondisi tersebut membuat Islandia tidak banyak ikut campur dalam kecamuk konflik di jagat internasional. Bahkan negara keturunan bangsa Viking ini terus meningkatkan donasi untuk aktivitas pemeliharaan perdamaian PBB.

Islandia memang tidak lepas dari aksi demonstrasi, karena negara ini mengadopsi demokrasi sebagai sistem pemerintahannya. Meskipun demikian, dalam tiga belas tahun terakhir aksi demonstrasi di Islandia selalu dilakukan secara damai. Tidak ada pertumpahan darah atau aksi kekerasan yang terjadi.

Baca juga Makna Perdamaian

Banyak alasan mengemuka terkait faktor di balik terciptanya kedamaian di Islandia. Ada yang mengatakan, karena tegaknya keadilan sosial. Semua kebutuhan dasar masyarakat dipenuhi oleh pemerintah dan hampir tidak ditemukan adanya kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin. Sehingga hal tersebut mencegah terjadinya konflik.

Ada juga yang beranggapan bahwa faktor demografi ikut memainkan peran. Populasi Islandia memang relatif homogen, dalam arti berasal dari nenek moyang yang sama. Hanya 4-6 persen masyarakat yang bukan asli Islandia. Selain itu, wilayah negara yang kecil dan jumlah populasi yang sedikit membuat kriminalitas di Islandia dapat dikendalikan secara efektif.

Baca juga Pandemi dan Semangat Berbagi

Tidak semua negara seberuntung Islandia. Namun tiap negara memiliki kapasitas dan kapabilitas yang berbeda. Meskipun tidak bisa mewujudkan kondisi-kondisi di atas, kita tetap bisa belajar dari norma-norma yang dianut oleh masyarakat Islandia, terutama tentang bagaimana mereka memanusiakan manusia.

Masyarakat Islandia sangat menjunjung tinggi kebebasan manusia. Setiap orang berhak menjalani hidupnya masing-masing tanpa harus takut terdiskriminasi. Masyarakatnya saling menghargai dan menghormati satu sama lain, sehingga dapat menekan rasa kebencian dan permusuhan. Penghormatan terhadap kebebasan manusia membuat Islandia menjadi bangsa yang ramah. Banyak wisatawan asing yang tidak hanya terkesima dengan keindahan alamnya, melainkan juga budi pekerti masyarakatnya.

Baca juga Membangun Lingkungan Positif

Masyarakat Islandia juga dikenal memiliki solidaritas yang tinggi antarsesama. Jika ada satu saja di antara mereka yang terzalimi, maka yang lain akan ikut membantu. Misalnya pada Januari 2017 silam, seorang wanita muda diculik dan dibunuh dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Sontak, keesokan harinya puluhan ribu orang memadati jalanan sebagai bentuk solidaritas (liputan6.com, 10/03/2019).

Mereka ingin menunjukkan bahwa meski hanya satu orang yang menjadi korban kekerasan, tetapi telah memukul masyarakat Islandia secara keseluruhan. Solidaritas itu terbangun karena adanya rasa saling memiliki. Berbekal hal tersebut, mereka bisa hidup bertetangga dengan baik, dan perdamaian benar-benar terwujud. Sebagai sesama manusia, kita punya potensi untuk melakukan apa yang dikerjakan oleh warga Islandia untuk mengantarkan rumah kita, Indonesia, menjadi baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur.

Baca juga Dukungan Komunitas untuk Kebangkitan Korban

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...