HomeInspirasiAspirasi DamaiFathu Makkah dan Spirit...

Fathu Makkah dan Spirit Perdamaian

Sejatinya sejarah telah mengajarkan banyak hal kepada kita. Di sini penulis mencoba melihat salah satu fragmen historis dari kehidupan Nabi Muhammad Saw. Dalam sejarah Islam, salah satu momentum penting yang terjadi pada bulan Ramadan adalah fathu Makkah. Secara etimologis, fathu berarti pembebasan atau penaklukan. Dengan demikian, Fathu Makkah berarti pembebasan/penaklukan kota Mekkah.

Fathu Makkah terjadi pada tahun 630 M/10 Ramadan 8 H. Penaklukan ini sangat penting karena menandai kebebasan umat Islam untuk menziarahi Ka’bah. Terlebih Muhammad Saw dan para sahabatnya yang sempat hijrah ke Madinah dapat kembali ke kampung halamannya sendiri, tanah air yang ditinggalkan bertahun-tahun.

Baca juga Belajar Perdamaian dari Islandia

Jauh sebelum peristiwa ini terjadi, umat muslim “terpaksa” menyepakati Perjanjian Hudaibiyah yang isinya sangat merugikan. Dalam perjanjian itu, umat Islam dilarang melakukan ibadah haji. Oleh kaum kafir Quraisy, Muhammad dan para sahabatnya diharuskan untuk kembali ke Madinah. Terlebih dalam naskah perjanjian, tertulis nama Muhammad tanpa menyebut beliau  sebagai “utusan Allah”.

Menurut Reza Aslan, dalam No god but God: The Origins, Evolution, and Future of Islam, bisa jadi penerimaan Nabi Saw terhadap perjanjian Hudaibiyah itu dilandasi atas direncanakannya pembebasan/penaklukan Makkah beberapa tahun setelahnya. Oleh karenanya, ketika Nabi dan para sahabatnya memasuki kota Makkah –setelah selama 10 tahun mendapatkan tekanan dan persekusi, kaum muslim tidak membalas aksi persekusi dan permusuhan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy.

Baca juga Tangguh Melawan COVID-19

Alih-alih membalas dendam atas perlakuan mereka yang pernah mengusir Nabi dari kampung halaman, Nabi Muhammad malah menyerukan perdamaian dan jaminan keamanan terhadap kaum kafir Quraisy. Hari itu menandai hari penuh kasih sayang (al-Yaum Yaumul Marhamah), bukan sebagai hari pembalasan (Yaumul Malhamah).

Di antara traktat penaklukkan kota Makkah itu berbunyi, “Siapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka dia aman. Siapa yang memasuki Ka’bah, maka ia aman.” Abu Sufyan dan Hindun binti Utbah dikenal sebagai pasangan suami-istri yang sangat memusuhi Nabi Saw. Namun dalam perkembangan berikutnya, mereka justru berbalik menjadi pembela dan pencinta Nabi Muhammad Saw.

Baca juga Solidaritas di Tengah Pandemi: Belajar dari Korban Terorisme

Momentum itu terjadi 15 abad yang lalu. Sebagai generasi yang lahir belakangan, bagi penulis peristiwa ini bisa dijadikan pembelajaran bersama. Pertama, seperti apa pun kondisi dan kesulitan yang dihadapi seseorang, niscaya ada batas di mana dirinya menyadari kemampuannya untuk melepaskan diri. Kedua, sebagai umat yang menjunjung tinggi nilai wasathi, menjadi kewajiban setiap orang untuk mengajak kepada kebaikan dengan cara baik dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

Baca juga Membudayakan Perdamaian

Selain dua poin di atas, kita bisa berimajinasi sebaliknya. Jika sejarah tak mencatatkan hal itu, bukan tidak mungkin akan lahir dendam kekerasan yang baru. Entah apa jadinya jika kala itu Nabi Saw dan para sahabatnya melakukan aksi balas dendam. Dengan demikian, kita bisa belajar dari perjalanan sejarah.

Dari peristiwa pembebasan/penaklukkan Kota Makkah yang terjadi pada bulan Ramadan, kita bisa menjadikannya sebagai momentum terbaik untuk saling memberikan rasa aman dan damai kepada setiap orang. Ramadan berarti membakar; membakar segala nafsu dari rasa dendam; dan mengalahkan musuh tidak dengan jalan kekerasan.

Baca juga Makna Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mengelola Amarah

Setiap orang tentu pernah mengalami hal yang tidak disukai dalam kehidupannya,...

Dakwah Islamiyah untuk Perdamaian

Oleh Fahmi SuhudiAlumni PP Darussunnah Ciputat Dakwah merupakan salah satu fondasi dalam...

Beragama dengan Aman

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak suku dan budaya yang berbeda...

Mengarifi Konflik

Agama bisa menjadi sumber inspirasi membangun perdamaian. Ia mengajarkan banyak nilai...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...