HomeOpiniTarbiah Perdamaian: Berakhirnya Kekerasan...

Tarbiah Perdamaian: Berakhirnya Kekerasan (Bag. 3-Terakhir)

Oleh Fikri
Master Ilmu Politik Universitas Indonesia

Pada akhirnya, gagasan utama tarbiyah salamiyah adalah harapan bahwa perdamaian dapat menggantikan kekerasan. Cara-cara kekerasan harus berakhir (the end of violence). Perubahan tatanan sosial kemanusiaan saat ini harus dimenangkan dengan hati. Untuk apa hati diciptakan jika fisik (kekerasan) jadi pilihan.

Sejarah menggambarkan betapa kekerasan menjadi dilematis. Satu sisi kemenangan politik mungkin bisa diraih, namun di sisi lain melahirkan banyak problem kemanusiaan. Era modern yang menjunjung tinggi hak asasi manusia harus berkorelasi dengan tindakan manusia sebagai cerminan individu yang beradab.

Baca juga Tarbiah Perdamaian (Bag. 1)

Bagaimana tarbiyah salamiyah ini bisa diwujudkan menjadi ide atau gagasan yang diminati? Sebelum masuk pada tahap tersebut, kita menyadari bahwa melawan kekerasan tidak bisa hanya dihadapi dengan konfrontasi kekerasan pula. Namun lebih dari itu, fenomena tersebut kini dimainkan dalam ruang komunikasi meliputi ide, nilai-nilai, dan persepsi. Kita sadar bahwa dengan menangkap dan membunuh pelaku kekerasan bukanlah strategi yang manjur. Sementara mereka merekrut, melatih, dan menyebarkan paham-paham tersebut.

Melihat fakta tersebut, penulis mencoba memberikan tiga gambaran yang bersifat normatif. Pertama, ide tentang perdamaian harus dilakukan dalam bingkai “influence warfare”, yaitu perang untuk membujuk berbagai target audience yang berbeda untuk bersatu di belakang ide tersebut.

Baca juga Tarbiah Perdamaian (Bag. 2)

Jika perang ide adalah medan tempur yang paling penting, bisa dikatakan bahwa ide perdamaian masih tertinggal. Karena jangkauan kelompok-kelompok kekerasan ini mampu mencapai jauh di atas jangkauan operasionalnya. Sebagai contoh, kekerasan yang terjadi di Suriah dan Irak bisa dilakukan di belahan negara mana pun, termasuk Indonesia. Walaupun mereka tidak saling berinteraksi secara fisik ataupun pendanaan.

Kedua, ide perdamaian dapat diwujudkan menjadi aksi yang disyariatkan untuk merobohkan ide kekerasan. Karena itu harus disampaikan dengan jelas dan dipahami dengan baik bahwa perdamaian adalah bagian dari syariat Islam. Walhasil kita mempunyai kedudukan yang sama dalam mengemban dakwah tersebut.

Baca juga Ketangguhan Mental Modal Kebangkitan

Ketiga, salah satu bentuk ide adalah dengan narasi. Narasi perdamaian harus sekuat narasi tentang jihad itu sendiri. Karena dasar perang ide adalah tentang siapa yang mempunyai narasi yang lebih kredibel dan membuatnya efektif.

Salah satu definisi narasi adalah garis kisah yang memaksa dan yang bisa menjelaskan peristiwa secara meyakinkan. Darinya kesimpulan bisa ditarik. Narasi bersifat strategis karena ia dirancang dan dipelihara untuk menyusun respons pihak lain terhadap peristiwa yang sedang berkembang (Lawrence Freedman, The Transformation of Strategic Affairs, 2006).

Baca juga Mengelola Fenomena Clicktivism

Sifat dari narasi bisa mengekspresikan sense of identity dan sense of belonging, serta  mengomunikasikan sense tersebut atas alasan, tujuan, dan misi. Narasi perdamaian bisa menjadi sumber daya yang kuat untuk mempengaruhi audience, karena menawarkan bentuk alternatif dari rasionalitas yang berakar kuat dalam budaya dan keilmuan Islam.

Tarbiyah salamiyah dibangun dengan narasi di atas tradisi Islam, mencocokkan dan mentransformasikan elemen-elemen kunci dari Al Quran dan sunnah Nabi Muhammad Saw. Ide perdamaian harus memberikan tampilan yang unik, justifikasi yang jelas, serta menunjukkan ketidakrapuhan. Setiap “serangan” dari ide kekerasan terhadap ide perdamaian bisa digambarkan sebagai “serangan” pada Islam.

Baca juga Perdamaian dari Akar Rumput

Terakhir, ide tarbiyah salamiyah bukan untuk merusak kredibilitas dan citra jihad, namun untuk memisahkan jihad dari oknum-oknum yang justru merusaknya. Jika kredibilitas dimaknai sebagai hasil dari kesesuaian antara kata dan perbuatan, maka oknum tersebut justru yang merusak kredibilitas jihad. Sehingga dampaknya adalah lemahnya legitimasi jihad yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis sebagai ibadah yang mulia.

Baca juga Keniscayaan Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 2-Terakhir)

Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto telah melewati 30 tahun...

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 1)

Namanya Arif Siswanto. Salah satu aktor penting dalam pembubaran Jamaah Islamiyah...

Penyintas Bom Bali 2002 Bertutur

Pulau Dewata merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara....

Penyimpangan Pemahaman Agama Kelompok Ekstrem (Bagian 2- Selesai)

Mukhtar menjelaskan setiap aksi atau amaliyat yang dilakukan kelompok ekstrem mengandung...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...