HomePilihan RedaksiTugas Manusia Beribadah, bukan...

Tugas Manusia Beribadah, bukan Merusak

Aliansi Indonesia Damai- Kamis, 14 Januari 2016, menjadi hari yang sulit dilupakan oleh Inspektur Satu Deni Mahieu. Anggota korps bhayangkara ini menjadi korban serangan teror di Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat. Meskipun tubuhnya cedera parah akibat peristiwa itu, beruntung nyawanya masih terselamatkan. Menyandang status sebagai penyintas, Deni berbagi kisah detik-detik dirinya terkena ledakan bom.

Hari itu Deni menghadiri agenda gabungan personil di kawasan Bundaran Patung Kuda. Setelah selesai, sekitar pukul 10.30 WIB, Deni langsung bergegas ke arah kawasan Bundaran HI menggunakan sepeda motor dinasnya. Kebetulan, Deni memang rutin ditugaskan untuk melakukan patroli dari kawasan Harmoni sampai ke Bundaran Hotel Indonesia (HI).

Baca juga Berempati kala Kritis

Ketika berhenti di traffic light simpang Plaza Sarinah, Deni melihat keganjilan. Pintu pos polisi di lokasi itu terbuka. Padahal selama bertugas di kawasan tersebut, sangat jarang pintu tersebut terbuka. “Ya kalau dilihat sebenarnya sih biasa saja. Tapi saya tetap melihat ada keanehan,” ucap Deni mengenang.

Lampu berubah hijau. Dalam waktu yang sangat terbatas untuk mengambil keputusan, Deni lanjut menancap gas motornya. Setelah melewati lampu merah itu, tiba-tiba Deni dilanda pergolakan batin. “Ya Allah ada apa ini. Ini aneh saya bilang. Di satu sisi mengatakan harus dicek (putar balik), di satu sisi jangan. Ya sudah akhirnya lanjut jalan saja,” kata Deni.

Baca juga Penyintas Bom Kuningan: Saya Terima Takdir Saya

Setibanya di kawasan Bundaran HI, Deni memutuskan untuk putar balik dan mengecek pos polisi yang ada di Sarinah itu. Sesampainya di sana, Deni segera masuk ke dalam pos tersebut. Ia mengecek sekeliling dan menemukan sejumlah barang yang mencurigakan, salah satunya ransel yang berada di sudut ruangan.

Tak lama berselang bom meledak di sebuah kedai kopi, tak jauh dari pos polisi. Deni yang terkejut lalu melihat ke lokasi ledakan. Ia menyaksikan sendiri betapa dahsyatnya ledakan itu. “Orang terpental. Saya melihat. Demi Allah saya melihat langsung orang-orang terpental karena ledakan itu,” katanya.

Baca juga Inspirasi Pemaafan Penyintas

Untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi, ia bertahan di pos polisi dan langsung mengontak rekannya bahwa ada ledakan di sekitar Plaza Sarinah. Deni yakin bahwa yang meledak itu adalah bom. Namun keputusan Deni untuk tetap bertahan di pos polisi justru membawa petaka. Hanya berselang beberapa detik dari bom pertama, bom kedua meledak di tempat Deni berpijak.

“Jadi mungkin di pos itu sudah disetel (bom) sama teroris ini. Saya kontak pesawat radio. Pencet pertama saya lapor ke rekan, pencet kedua saya kesetrum. Begitu setrumnya hilang, terdengar bunyi tuuut… tak… tak.. duuuuuarrr. Meledak. Posisi saya membelakangi ransel tadi,” ujarnya.

Baca juga Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 1)

Akibat ledakan itu, Deni mengalami luka di sekujur tubuhnya. Betis dan pahanya sobek. Darah mengalir dari telinganya. Matanya berkunang-kunang dan kepalanya terasa sangat pusing. Deni sempoyongan. Beruntung ia tidak pingsan. Ia pelan-pelan duduk agar dirinya tetap sadar. Sepuluh menit kemudian, atasannya datang. Deni langsung dilarikan ke rumah sakit.

Di rumah sakit, Deni dirawat kurang lebih selama sebulan. Deni bercerita bahwa dokter yang menanganinya memuji semangat hidupnya. Ia mampu bertahan meskipun terkena ledakan dari jarak sangat dekat. Deni bersyukur masih diberi kesempatan hidup. Ia pun berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kesembuhannya.

Baca juga Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 2-Terakhir)

“Saya hanya bilang ke diri saya, ya sudah, ini namanya takdir Tuhan. Saya sudah berdoa dan berusaha untuk selamat. Dikasih bom, saya tetap hidup. Harus ikhlas dan bersabar. Insya Allah ke depan kita akan lebih baik. Kalau memang masih ada sisa kehidupan, isilah dengan yang baik-baik saja,” Deni berpesan kepada siapa pun.

Deni pun enggan menyimpan dendam terhadap teroris yang telah melukainya. Ia lebih menyerahkan mereka pada pengadilan Tuhan. Baginya manusia diciptakan untuk beribadah, bukan untuk merusak. Mereka yang merusak di muka bumi akan menanggung risikonya sendiri di akhirat kelak.

Baca juga Kebangkitan dan Ikhtiar Memaafkan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...