HomeOpiniMenakar Persepsi tentang Terorisme

Menakar Persepsi tentang Terorisme

Oleh Faruq Arjuna Hendroy
Sarjana Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah

Indonesia masih dihantui oleh bayang-bayang teror. Setelah cukup lama kita tidak mendengar berita tentang serangan teror, terutama sejak menjangkitnya pandemi Covid-19, beberapa pekan lalu Gereja Katedral Makassar diguncang serangan bom bunuh diri. Pelaku yang merupakan pasangan suami istri tewas di tempat, puluhan orang mengalami luka-luka. 

Berselang beberapa hari setelahnya, seorang perempuan menerobos masuk ke Mabes Polri di Jakarta dan memberondongkan peluru dari pistolnya. Aksi pelaku bak bintang fiksi legendaris Rambo. Bedanya, ia tewas di tangan anggota kepolisian. Selain pelaku, beruntung tidak ada korban luka maupun jiwa.

Baca juga Tarbiah Perdamaian (Bag. 1)

Usai dua serangan teror ini, aparat melakukan aksi penegakan hukum. Sejumlah orang terduga terorisme yang tersebar di beberapa tempat seperti Ciputat, Bekasi, dan Jakarta Timur ditangkap. Para terduga teroris itu disebut tengah merencanakan dan mempersiapkan serangan.

Mengiringi peristiwa-peristiwa tersebut, warganet di media sosial pun bereaksi. Di antara mereka ada yang memberikan simpati kepada korban yang berjatuhan dan meminta aparat lebih serius membongkar jaringan terorisme, supaya tak ada lagi orang tak bersalah menjadi korban.

Baca juga Tarbiah Perdamaian (Bag. 2)

Namun ada pula yang merespons kasus terorisme itu secara sinis; mengaitkannya dengan strategi pengalihan isu dan drama elit politik. Pemerintah dianggap tengah ‘membuat-buat’ kasus terorisme baru agar perhatian publik teralihkan dari perkara-perkara besar yang menjadi tanggung jawab pemerintah. “Itu hanya konspirasi. Pasti ada yang akan diuntungkan,” demikian salah satu opini yang berkembang.

Dalam kasus serangan Mabes Polri misalnya, publik memertanyakan kenapa pelaku bisa lolos ke dalam kompleks markas besar korps polisi, seolah-olah dibiarkan. Ada pula yang menyoal tentang kamera yang ‘sengaja’ menyoroti tempat kejadian perkara sebelum baku tembak itu terjadi. Tudingan paling liar dan susah dinalar adalah isu bahwa pelaku sebenarnya adalah anggota polwan yang tengah menyamar.

Baca juga Tarbiah Perdamaian: Berakhirnya Kekerasan (Bag. 3-Terakhir)

Analisis konspiratif dalam peristiwa terorisme memang bukan barang baru dan selalu menarik sebagai bahan gunjingan. Siapa pun, mulai dari orang biasa hingga public figure, sangat mungkin terjebak dalam imajinasi ini. Perlu diketahui, saat kasus Bom Bali I yang terjadi 18 tahun silam, ada pejabat Negara yang mengimani bahwa pelakunya adalah negara Barat yang ingin merusak reputasi Islam.

Alasannya, tidak mungkin ada kelompok sipil yang mampu membuat ledakan sedahsyat itu. Diyakini ada peran militer asing karena merekalah yang memiliki fasilitas dan keterampilan. Analisis semacam itu ramai diperbincangkan kala itu, padahal masih belum ada media sosial. Analisis konspiratif di zaman sekarang tentu memantik perbincangan lebih luas di kalangan warganet.

Baca juga Ketangguhan Mental Modal Kebangkitan

Semua pertanyaan dan opini itu lantas terjawab melalui fakta-fakta persidangan di pengadilan. Ternyata para pelaku bukan kelompok sipil sembarangan. Mereka pernah menimba ilmu sebagai anggota kelompok paramiliter, bahkan punya pengalaman berperang di Afghanistan atau Filipina Selatan. Pengakuan bahkan datang langsung dari terpidana seumur hidup kasus Bom Bali I, Ali Imron. Seperti tersiar di beberapa kanal youtube, Ali tegas mengatakan bahwa terorisme bukanlah sebuah rekayasa. Aksi pengeboman di Pulau Dewata memang direncanakan dan dieksekusi oleh kelompoknya.

Dilihat dari faktornya, ada dua alasan mengapa orang percaya konspirasi. Pertama, karena ketidaktahuan. Konspirasi memang kerap diidentikan dengan ‘permainan di belakang layar’. Yang terlihat hanya kulit luarnya saja. Ketidaktahuan akan hal di balik layar itulah yang mengakibatkan orang berspekulasi seenaknya. Cukup dengan kepingan-kepingan informasi yang belum tentu akurat, maka cocokologi yang cenderung dipaksakan pun terjadi.

Baca juga Mengelola Fenomena Clicktivism

Alasan kedua berkaitan dengan kontestasi politik. Di saat sekelompok orang merasa diperlakukan tidak adil, dikucilkan, dan terancam, maka mereka cenderung menyalahkan penguasa yang notabene memiliki kekuasaan dan bisa melakukan apa saja dengannya, termasuk apabila ingin menyembunyikan kecacatannya dalam mengemban tugas mengurus Negara.

Dalam kasus peristiwa terorisme, konspirasi muncul karena publik tidak memiliki akses yang cukup untuk mengenal jaringan kelompok teroris yang memang bergerak di balik bayang-bayang. Ditambah lagi jika memang berangkat dari ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah. Kasus terorisme dianggap sebagai pengalihan isu agar citra pemerintah kembali naik. Tujuannya mungkin mengekspresikan kritik, namun diejawantahkan dalam bentuk imajinasi konspirasi.

Baca juga Perdamaian dari Akar Rumput

Tren semacam itulah yang sulit diterima. Kritik sah-sah saja dilakukan, tetapi membungkus kritik dengan konspirasi hanya akan menimbulkan permasalahan baru. Sebagaimana yang disampaikan Ali Imron, menyebut terorisme itu rekayasa hanya akan membantu keberhasilan misi para teroris, yaitu memupuk kebencian terhadap pemerintah. Kelompok teror yang menabur, pemerintah yang menanggung.

Aksi terorisme dilakukan oleh sekelompok orang yang ingin mengganti ideologi negara. Itu harus diungkapkan ke khalayak luas. Dari penuturan Ali Imron maupun penuturan mantan pelaku terorisme lain yang pernah penulis temui, dulu mereka melakukan aksi teror tanpa arahan pihak luar mana pun. Mereka dulu juga sangat membenci pemerintah dan perangkat-perangkatnya. Oleh karenanya, opini bahwa teroris dan pemerintah berkomplot susah dinalar secara sehat.

Baca juga Keniscayaan Perdamaian

Publik harus melihat secara jernih bahwa terorisme adalah tindakan yang mencoreng kemanusiaan. Di saat publik meributkan soal kaitan terorisme dengan konspirasi, para korban terorisme harus berjuang melawan luka fisik dan trauma psikis. Analisis konspiratif atas terorisme hanyalah imajinasi, sedangkan luka para korban itu nyata. Marilah kita merawat kemanusiaan dengan bergandengan tangan menolak aksi terorisme, daripada harus melontarkan narasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat.

Baca juga Arif Menyikapi Bencana

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...