HomeInspirasiAspirasi DamaiReintegrasi Sosial Mantan Ekstremis

Reintegrasi Sosial Mantan Ekstremis

Ada begitu banyak mantan kombatan dan pelaku ekstremisme kekerasan yang menempuh jalan hidup baru dengan meninggalkan kelompok ekstrem, memilih kehidupan prososial, dan melakoni reintegrasi sosial. Mereka menempuh desistensi terorisme dengan banyak cara dan tahapan. Salah satu nama yang berhasil dalam reintegrasi sosial ini adalah Sumarno (44 tahun).

Pria asli Lamongan Jawa Timur ini terlibat dalam Jemaah Islamiyah (JI) sejak 1997. Ia ikut serta dalam penyiapan senjata dan bahan-bahan peledak yang digunakan kelompok ekstremis untuk konflik komunal di Poso dan Ambon serta aksi kekerasan lain di tanah air. Namun “karirnya” berakhir di balik jeruji besi pada tahun 2002 akhir. Dari Lembaga Pemasyarakatan Klas II Lamongan, ia mulai menjalani proses reintegrasi sosial.

Baca juga Menyelesaikan Masalah: Belajar dari Mantan Pelaku Ekstremisme

Menurut Stina Torjesen dalam Toward a theory of ex-combatant reintegration (2013), reintegrasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses di mana para kombatan; (1) mengubah identitas mereka dari ‘pejuang’ menjadi ‘warga sipil’ dan; (2) mengubah perilaku mereka dengan mengakhiri penggunaan cara-cara kekerasan dan meningkatkan kegiatan yang disetujui oleh masyarakat pada umumnya (mainstream community).

Torjesen menjelaskan, perubahan perilaku tersebut dapat dilihat di tiga arena: sosial, politik, dan ekonomi (Torjesen, 2013, hal. 4). Menurut dia, secara sosial, para kombatan mengurangi kontak dan ketergantungan mereka pada jaringan milisi dan meningkatkan interaksi mereka dengan masyarakat dan keluarga.

Baca juga Mencari Titik-Titik Persamaan

Semenjak menjalani pidana, Sumarno terputus dengan jaringan kelompoknya dan sama sekali tidak mendapatkan dukungan dari mereka. Sementara orang tua dan keluarganya, tidak mengetahui keterlibatan Sumarno dalam organisasi bawah tanah (tanzhim sirri) tersebut. Organisasi ini diikuti secara rahasia oleh dirinya dan empat pamannya: Amrozi, Ali Ghufron alias Mukhlas, Ali Imran, dan Ali Fauzi.

Keluarga besar Sumarno (yang memiliki dan mengelola salah satu pesantren di Lamongan) menolak dan tidak merestui keterlibatan mereka dalam aksi-aksi kekerasan atas nama jihad. Sejak saat itulah Sumarno membangun hubungan sosial yang baru, dimulai dari narapidana umum, petugas Lapas, kepolisian, dan utamanya keluarga serta masyarakat sekitar. Hingga kini, Sumarno telah menjalin hubungan sosial yang sangat luas, termasuk dengan para penyintas terorisme.

Baca juga Agama sebagai Pelopor Perdamaian

Kemudian dalam bentuk ekonomi, menurut Torjesen, reintegrasi mensyaratkan perpindahan kombatan dari mekanisme dukungan mata pencaharian yang terkait dengan jaringan milisi, kepada reintegrasi ekonomi di mana para kombatan dapat memeroleh pekerjaan dan kegiatan-kegiatan produktif yang sah yang memungkinkan mereka untuk mendukung dirinya sendiri dan tanggungan apa pun.

Setelah bebas dari Lapas tahun 2005, Sumarno menjalankan aneka bisnis dan usaha, seperti jual beli sepeda motor, jual beli mobil, usaha pertanian, peternakan, hingga tambang galian C. Beberapa dari usaha tersebut merupakan bantuan dari pemerintah pusat, NGO/LSM, dan pengusaha di Jawa Timur. Berbagai bisnis tersebut dilaksanakan bersama sejumlah mantan kombatan dan narapidana kasus terorisme di Lamongan, yang dalam banyak hal telah memberikan contoh tentang keberhasilan program ekonomi dan reintegrasi sosial mantan napiter dan kombatan di Indonesia (AIDA & ISPI, 2018; Soleh dkk, 2018).

Baca juga Perdamaian sebagai Fitrah

Secara politik, para kombatan memasuki politik arus utama di tingkat lokal, regional, atau nasional baik sebagai pemilih atau sebagai pendukung politik atau perwakilan dari kelompok yang lebih besar (Torjesen 2013). Sumarno dan kawan-kawan tidak saja menjadi pemilih dan pengikut sistem demokrasi di Indonesia (berpartisipasi dalam setiap pemilihan legislatif, pemilihan presiden, pemilihan kepala daerah), melainkan juga terlibat dalam selebrasi dan perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia sejak tahun 2017. Baginya kegiatan tersebut merupakan bentuk kecintaan terhadap bangsa dan tanah air, salah satu ibadah sosial yang dianjurkan Islam. Tulen, ia benar-benar telah menjadi warga sipil.

Baca juga Tradisi Dialog dan Perdamaian

Sumarno tidak berjalan sendiri. Reintegrasi sosial mantan kombatan dan eks napiter membutuhkan kerjasama di antara mereka dan dukungan banyak pihak. Sumarno dkk telah membentuk Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) pada November 2016. YLP tidak saja menandai reintegrasi sosial Sumarno dkk, namun juga menjadi wadah bagi para eks kombatan dan napiter yang baru/akan bebas untuk hidup normal kembali ke masyarakat. Bagi para napiter yang berniat kembali hidup normal, maka YLP akan membantu dan memfasilitasinya: ekonomi, sosial dan pendidikan.

Sumarno merasakan nikmatnya integrasi sosial dan perdamaian. “Saya bersyukur kepada Allah SWT dapat bergabung dengan Aliansi Indonesia Damai (AIDA), karena dengan kegiatan seperti ini saya dapat lebih banyak melakukan amal baik,” ucap pria 7 anak ini pada awal tahun 2020. Sumarno telah resmi menjadi duta perdamaian untuk Indonesia yang lebih damai.

Baca juga Self-Healing untuk Penyembuhan Luka Batin

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Silaturahmi Perdamaian di Lombok

Akhir Juni 2024 lalu menjadi salah satu momen penting dalam upaya...

Ali Fauzi; dari Lingkar Kekerasan ke Lingkar Perdamaian

Selalu riang dan optimis, peduli dan merangkul. Banyak yang simpati dan...

Aspirasi Damai Maulid Nabi

Dalam kalender Hijriah atau tahun Islam, saat ini kita masih berada...

Mahasiswa: Entitas Moral Gerakan Perdamaian

Mahasiswa dalam sejarahnya selalu membawa angin perubahan di negara ini. Gerakan...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...